Financial Nihilism, Saat Gen Z Merasa Menabung Tak Cukup untuk Jadi Kaya

Gen Z makin sulit kaya, financial nihilism mendorong anak muda melirik investasi berisiko demi cuan instan.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani- Reporter
Financial Nihilism, Saat Gen Z Merasa Menabung Tak Cukup untuk Jadi Kaya
Foto ilustrasi AI.

Menabung dan berinvestasi sejak muda kerap dianggap sebagai langkah untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik. Namun, bagi sebagian anak muda, cara konvensional tersebut mulai terasa tak cukup untuk mengejar target membeli rumah, memiliki aset, atau mencapai kebebasan finansial.

Kondisi ini memunculkan fenomena financial nihilism, yakni pandangan bahwa jalur tradisional untuk membangun kekayaan semakin sulit dijangkau. Akibatnya, sebagian anak muda tertarik mengambil risiko finansial lebih besar demi mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.

Bloomberg mengangkat fenomena tersebut dalam artikel berjudul Gen Z’s ‘Financial Nihilism’ Finds Outlet in Prediction Bets, Crypto. Artikel itu menyoroti bagaimana perasaan tertinggal secara finansial mendorong sebagian anak muda melirik aset spekulatif, pasar prediksi, hingga taruhan olahraga untuk mengejar target keuangan.

Fenomena ini tidak berarti seluruh Gen Z meninggalkan kebiasaan menabung. Sebaliknya, sebagian anak muda berusaha mencari alternatif karena merasa jalur menuju kesejahteraan finansial semakin sulit ditempuh.

Gen Z Merasa Harus Mengambil Risiko Lebih Besar

Laporan Urban Institute yang diterbitkan pada 9 Juli 2026 memberikan gambaran mengenai sikap finansial generasi muda di Amerika Serikat.

Berdasarkan survei terhadap 3.194 responden dewasa di Amerika Serikat pada Januari 2026, sebanyak 65 persen responden Gen Z berusia 18–29 tahun menilai generasinya menghadapi kondisi ekonomi yang lebih sulit dibandingkan generasi sebelumnya. Sebanyak 52 persen merasa perlu mengambil risiko lebih besar untuk mencapai tujuan finansial.

Di sisi lain, survei tersebut menunjukkan bahwa Gen Z tidak sepenuhnya meninggalkan cara konvensional dalam mengelola uang. Sebanyak 75 persen responden Gen Z melaporkan memiliki simpanan di rekening transaksi atau rekening giro, 42 persen memiliki tabungan pensiun, dan 25 persen menyimpan uang di rekening tabungan berbunga tinggi dalam 12 bulan terakhir.

Meski demikian, sebagian responden juga menggunakan strategi yang lebih spekulatif. Sebanyak 22 persen responden Gen Z melaporkan pernah atau sedang memiliki mata uang kripto, 21 persen pernah membeli atau memperdagangkan instrumen investasi ritel, dan 17 persen melakukan taruhan olahraga.

Angka tersebut berasal dari survei di Amerika Serikat dan tidak dapat langsung dianggap mencerminkan perilaku Gen Z di Indonesia. Namun, temuan itu menggambarkan adanya tarik-menarik antara keinginan membangun keamanan finansial dan dorongan memperoleh keuntungan lebih cepat.

Mengapa Sebagian Anak Muda Tergoda Mencari Cuan Instan?

Salah satu pemicunya adalah perasaan tertinggal dalam mencapai target finansial. Ketika harga rumah, biaya hidup, dan kebutuhan jangka panjang terasa semakin sulit dijangkau, menabung sedikit demi sedikit dapat dianggap tidak cukup untuk mengejar tujuan tersebut.

Dalam situasi seperti ini, investasi berisiko tinggi bisa terlihat menarik karena menawarkan peluang keuntungan besar. Cerita tentang orang yang memperoleh keuntungan berlipat dari kripto, saham spekulatif, atau instrumen berisiko lainnya juga dapat memperkuat anggapan bahwa mengambil risiko besar merupakan jalan pintas menuju kekayaan.

Padahal, potensi keuntungan yang tinggi umumnya disertai risiko kerugian yang besar. Harga aset spekulatif dapat berubah tajam, sementara taruhan olahraga dan aktivitas sejenis bukanlah pengganti strategi investasi jangka panjang.

Urban Institute juga menemukan bahwa 45 persen responden Gen Z lebih berfokus memenuhi kebutuhan saat ini dibandingkan menabung untuk masa depan. Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan kebutuhan sehari-hari menjadi bagian penting dalam memahami cara generasi muda mengambil keputusan keuangan.

Tips Menghadapi Financial Nihilism agar Keuangan Tidak Dipertaruhkan

Perasaan tertinggal secara finansial tidak harus berujung pada keputusan berisiko. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga tujuan keuangan tetap realistis.

1. Tentukan target finansial berdasarkan kondisi sendiri

Jangan menjadikan pencapaian orang lain sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Sesuaikan target tabungan dan investasi dengan penghasilan, kebutuhan, tanggungan, serta jangka waktu yang dimiliki.

2. Pisahkan dana kebutuhan dan dana investasi

Pastikan kebutuhan pokok, tagihan rutin, dan dana darurat mendapat prioritas sebelum mengalokasikan uang untuk investasi berisiko. Hindari menggunakan uang sewa, biaya makan, atau dana kebutuhan mendesak untuk mengejar keuntungan.

3. Pahami risiko sebelum membeli aset

Jangan hanya melihat potensi keuntungan. Pelajari kemungkinan kerugian, volatilitas harga, biaya transaksi, likuiditas, dan legalitas produk. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan kisah sukses yang viral di media sosial.

4. Jangan berutang demi mengejar keuntungan

Menggunakan pinjaman untuk berinvestasi atau berspekulasi dapat memperbesar kerugian karena kewajiban pembayaran tetap berjalan meski nilai aset turun. Hindari mempertaruhkan uang yang sebenarnya tidak mampu ditanggung jika hilang.

5. Evaluasi kemajuan secara berkala

Periksa perkembangan tabungan, utang, dan investasi secara rutin. Fokus pada kemajuan yang dapat diukur, seperti bertambahnya dana darurat atau berkurangnya utang, bukan semata-mata keuntungan besar dalam waktu singkat.

Pada akhirnya, financial nihilism menggambarkan salah satu respons sebagian anak muda terhadap tekanan ekonomi dan perasaan sulit mencapai kesejahteraan finansial. Namun, merasa tertinggal bukan berarti semua cara konvensional sudah tidak berguna.

Membangun kekayaan membutuhkan strategi yang sesuai dengan kemampuan dan tujuan masing-masing. Mengambil risiko dapat menjadi bagian dari keputusan finansial, tetapi memahami batas risiko dan melindungi kondisi keuangan tetap menjadi hal penting.

Rekomendasi