Tren membangun bisnis yang tidak hanya mengejar untung (profit), tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan dan masyarakat (social enterprise) kini semakin diminati anak muda dan pelaku UMKM. Meski begitu, membangun wirausaha sosial yang berkelanjutan butuh strategi tepat agar tidak berhenti di tengah jalan.
Tokoh Nasional sekaligus Penggerak Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, membagikan sejumlah kiat penting bagi para pelaku usaha yang ingin melesat di ekosistem wirausaha sosial. Apa saja? Simak 4 langkahnya berikut ini:
Advertisement
1. Bergerak Cepat dan Curi Start (Early Bird)
Sandiaga menekankan pentingnya mengeksekusi ide dengan cepat di tengah perubahan tren pasar. Pelaku usaha yang mampu membaca peluang dan beradaptasi lebih awal akan mendapatkan reward lebih besar dibanding mereka yang menunda-nunda.
"Siapa yang memulai dengan cepat, itu akan mendapatkan reward-nya dengan lebih baik (early birds gets the worm). Terobosan yang cepat akan lebih efektif membangun daya saing," ungkap Sandiaga saat peluncuran JWSI di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Advertisement
2. Fokus Kasih Manfaat Konkret, Jangan Cuma Networking
Banyak pengusaha terjebak dalam komunitas bisnis hanya untuk sekadar bertukar kartu nama. Padahal, kunci utama agar bisnis dan jaringan bisa berkembang adalah fokus pada nilai tambah (value) serta solusi riil yang ditawarkan kepada konsumen maupun anggota ekosistem. Pastikan usahamu aktif memanfaatkan akses pelatihan, perluasan pasar, hingga fasilitasi permodalan.
Advertisement
3. Optimalkan 'Ekonomi Silaturahmi'
Membangun bisnis sosial tidak bisa dilakukan sendirian. Sandiaga mengibaratkan forum jejaring sebagai bentuk "ekonomi berbasis silaturahmi". Rajin membangun relasi dengan sesama pelaku usaha, pemerintah, hingga investor sosial akan membuka dua peluang besar: memperpanjang usia bisnis (sustainability) dan membuka keran rezeki atau pasar-pasar baru.
Advertisement
4. Bidik Pengaruh Nyata Untuk Komunitas Lokal
Sandiaga mengingatkan bahwa UMKM dan wirausaha sosial adalah tulang punggung ekonomi nasional yang menyerap hingga 97 persen tenaga kerja. Oleh karena itu, pastikan indikator kesuksesan bisnismu tidak cuma dilihat dari angka penjualan, tetapi juga seberapa besar lapangan kerja yang berhasil kamu ciptakan dan dampak positif yang dirasakan lingkungan sekitar.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378105/original/090337500_1792489952-WhatsApp_Image_2026-10-20_at_15.59.23.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384931/original/052695800_1793194839-WhatsApp_Image_2026-10-28_at_20.36.35.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380819/original/059414700_1792739310-WhatsApp_Image_2026-10-23_at_13.36.17.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3020530/original/079906900_1578913890-20200113-Rupiah-Perkasa_-IHSG-Ditutup-Cerah--ANGGA-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380718/original/034133800_1792734527-WhatsApp_Image_2026-10-23_at_12.43.18.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9373793/original/023619400_1791982457-Warm_Corporate_Executive_Headshot.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386654/original/036601600_1793355426-PLN.jpg)