Ekspor Furnitur RI Masih Kalah dari Vietnam, Apa Solusinya?

Indonesia punya kayu melimpah, namun ekspor furnitur tertinggal dari Vietnam. Kemenperin memetakan celah dan menyiapkan insentif modernisasi mesin.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Ekspor Furnitur RI Masih Kalah dari Vietnam, Apa Solusinya?
Pembukaan IFMAC WOODMAC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. (Ist)

Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan industri furnitur berbasis kayu, namun daya saing ekspor masih tertinggal dari Vietnam yang kini menjadi salah satu eksportir terbesar dunia. Kementerian Perindustrian menilai celah utamanya berada pada teknologi dan kapasitas produksi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyebut performa industri furnitur nasional tetap menggembirakan. Pada 2025, nilai pasar furnitur dalam negeri tercatat mencapai USD 736,21 miliar.

Di pasar global, kayu masih menjadi bahan baku dominan. Pada 2026, material ini menguasai sekitar 62 persen pasar furnitur dunia. "Indonesia memiliki potensi yang bagus karena memiliki ketersediaan kayu yang banyak," ujar Putu Juli Ardika, Kamis (24/9).

Namun, besarnya pasokan bahan baku belum otomatis membuat Indonesia unggul. Putu mencontohkan Vietnam yang berhasil memperkuat posisinya lewat peningkatan kapasitas dan teknologi industri. Pada 2025, negara tersebut tercatat sebagai eksportir furnitur nomor dua dunia, padahal pada 2000 posisinya masih di bawah Indonesia.

"Ini menunjukkan pentingnya penguatan teknologi dan modernisasi mesin produksi untuk meningkatkan daya saing industri nasional," kata Putu.

Insentif Modernisasi Mesin

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, dalam pembukaan IFMAC WOODMAC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. (Ist)
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, dalam pembukaan IFMAC WOODMAC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. (Ist)

Menurut Kementerian Perindustrian, percepatan modernisasi mesin dan peralatan produksi menjadi langkah penting bagi industri furnitur untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kapasitas.

Pemerintah menyiapkan program bantuan modernisasi mesin dengan skema insentif reimbursement hingga 35 persen dari investasi mesin dan peralatan yang dilakukan pelaku usaha.

Berdasarkan capaian yang disampaikan Kemenperin, modernisasi mesin dan peralatan meningkatkan efisiensi 10,70 persen, kualitas 36,28 persen, dan produktivitas 32,65 persen.

"Capaian tersebut menunjukkan modernisasi mesin dan peralatan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan daya saing industri pengolahan kayu dan furnitur, baik melalui peningkatan kualitas produk, efisiensi operasi maupun peningkatan kapasitas produksi," katanya.

Selain teknologi, pemerintah juga mendorong pengembangan sumber daya manusia, penguatan sentra industri kecil dan menengah (IKM), penerapan Industri 4.0, pengembangan desain, serta perbaikan iklim usaha.

Empat Agenda Penguatan Pasar

Ke depan, Kemenperin menilai ada empat agenda utama yang perlu diperkuat agar industri perkayuan dan furnitur Indonesia lebih kompetitif.

Pertama, integrasi industri hulu dan hilir serta penguatan ketertelusuran bahan baku agar rantai pasok kuat, legal, dan memenuhi tuntutan pasar global.

Kedua, modernisasi teknologi dan peningkatan produktivitas sehingga industri tidak hanya mengandalkan keunggulan bahan baku.

Ketiga, transformasi desain dan keberlanjutan melalui riset, desain, dan sertifikasi agar produk memiliki kualitas serta identitas yang kuat.

Keempat, penguatan pasar domestik dengan optimalisasi penggunaan produk dalam negeri sebagai fondasi sebelum memperluas ekspor.

“Pada akhirnya, arah yang kita capai adalah menjadikan industri pengolahan kayu dan furnitur Indonesia naik kelas, semakin berdaya saing dan tetap berkelanjutan,” ujar Putu.

Menurut Putu, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku industri, asosiasi, akademisi, dan seluruh mitra dalam ekosistem industri.

IFMAC WOODMAC Hadirkan Teknologi dari 15 Negara

Dorongan untuk melakukan modernisasi tersebut menjadi semakin relevan dengan kehadiran IFMAC WOODMAC 2026, yang mempertemukan pelaku industri furnitur dan pengolahan kayu Indonesia dengan berbagai teknologi, mesin, material, dan solusi manufaktur dari berbagai negara.

Memasuki penyelenggaraan ke-13, IFMAC WOODMAC 2026 menghadirkan 350 perusahaan dari 15 negara dan wilayah di area pameran seluas 10.000 meter persegi. Pameran mempertemukan produsen furnitur, perusahaan pengolahan kayu, penyedia teknologi manufaktur, supplier, distributor, buyer, arsitek, desainer interior, serta profesional industri dari Indonesia dan mancanegara.

Berbagai teknologi yang ditampilkan mencakup mesin pengolahan kayu, teknologi manufaktur furnitur, material dan panel, komponen dan hardware furnitur, adhesives, tools dan cutting solutions, surface finishing, serta teknologi pendukung produksi lainnya.

Yang membedakan penyelenggaraan tahun ini adalah kesempatan bagi pengunjung untuk melihat demonstrasi mesin secara langsung, berdiskusi dengan supplier, dan mengevaluasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka. Selain pameran, IFMAC WOODMAC 2026 juga menghadirkan seminar industri dan technical presentations bersama pelaku industri, asosiasi, institusi, dan profesional.

Ketua Presidium ISWA (Indonesian Sawmill & Woodworking Association), Jimmy Chandra, mengatakan industri pengolahan kayu terus bergerak menuju produksi yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

"Industri pengolahan kayu terus bergerak menuju produksi yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. Kehadiran teknologi yang tepat menjadi semakin penting untuk meningkatkan daya saing industri kayu Indonesia,” ujar Jimmy.

 

IFMAC WOODMAC 2026 menggabungkan technology showcase, live demonstrations, knowledge sharing, dan business networking sebagai ruang bagi pelaku industri untuk menemukan solusi, memperluas jaringan, serta mengeksplorasi peluang kolaborasi dan bisnis baru.

Penyelenggaraan IFMAC WOODMAC 2026 juga menjadi bagian dari ekosistem IMMFC bersama IFFINA+ powered by imm cologne, interzum jakarta, dan International Hardware Fair Indonesia melalui konsep “4 Events, 1 Pass”, yang memberikan akses kepada pengunjung untuk mengeksplorasi teknologi, produk, dan peluang bisnis dari berbagai sektor industri terkait.

IFMAC WOODMAC 2026 berlangsung pada 23–26 September 2026, pukul 10.00–18.00 WIB, di Hall B3 & C3, JIExpo Kemayoran, Jakarta. Trade visitors dapat melakukan pre-registration secara online atau registrasi langsung di entrance Hall B3 dan Hall C3. Admission gratis.

Rekomendasi