Dulu, pergi ke tempat fotokopi menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari rutinitas mahasiswa. Tugas kuliah, makalah, hingga bahan bimbingan skripsi harus dicetak sebelum diserahkan kepada dosen.
Tumpukan kertas makalah dan draft skripsi di bawah lampu toko fotokopi kini makin jarang terlihat. Era serba digital membuat rutinitas mencetak tugas perlahan tergeser.
Uniknya, mesin-mesin cetak di area kampus belum benar-benar dingin. Mesin itu hanya berganti peran, dari menderu mencetak ratusan lembar kertas A4, kini sibuk memproduksi gantungan ID card dan lanyard warna-warni untuk kepanitiaan.
Bagi mahasiswa, pergeseran dari hard file ke soft file bukan cuma soal kepraktisan, melainkan juga hemat pengeluaran. Rafa, mahasiswi asal UIN Malang, merasakan betul dampak efisiensi ini.
Sebagai anak rantau, kebijakan dosen yang membolehkan pengumpulan tugas via digital sangat meringankan kantongnya. Dalam satu semester, ia tercatat hanya satu kali mendatangi tempat fotokopi untuk urusan tugas.
"Aku kan perantau ya. Jadi dengan adanya kirim soft file untuk ngumpulin tugas ke dosen tuh bikin aku hemat banget jadinya," ujar Rafa saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (28/9).
Hal serupa juga terjadi dalam proses bimbingan skripsi. Mahasiswa kini lebih sering mengirimkan naskah kepada dosen pembimbing dalam bentuk soft file ke email sebelum melakukan bimbingan.
Bagas, karyawan usaha fotokopi di Rungkut, Surabaya, mengatakan perubahan kebiasaan tersebut memang mulai terlihat dari pelanggannya.
"Kalau untuk mahasiswa, sekarang kebanyakan kalau mau bimbingan itu tidak pakai hard file. Biasanya soft file dikirim ke dosen pembimbing," kata Bagas.
Advertisement
Lembaran Tugas Kampus Berganti Lanyard Warna-Warni Kepanitiaan
Berkurangnya kebutuhan mencetak tugas dan bahan bimbingan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi usaha fotokopi yang selama ini banyak melayani mahasiswa.
Namun, surutnya pesanan cetak dokumen akademik tak lantas mematikan bisnis percetakan. Denyut dinamika kampus yang kaya akan kegiatan organisasi dan kepanitiaan justru membukakan pintu rezeki baru. Kebutuhan identitas visual acara seperti ID card dan lanyard menjadi ladang bisnis yang sangat potensial. Jika tugas kuliah umumnya hanya dicetak beberapa lembar, pesanan untuk kebutuhan kepanitiaan bisa mencapai puluhan hingga ratusan buah.
"Mahasiswa sekarang kalau ada organisasi atau kepanitiaan biasanya bikin ID card dan lanyard. Biasanya pesan dalam jumlah banyak," tutur Bagas, tukang fotokopi di Surabaya pada tim Merdeka.com, Selasa (15/09/2026).
Rafa menjadi salah satu mahasiswa yang cukup sering menggunakan id card dan lanyard tersebut. Aktif mengikuti berbagai organisasi dan kepanitiaan membuatnya memiliki lebih dari 10 ID card dan lanyard dari berbagai kegiatan.
Melihat celah tersebut, Bagas beradaptasi cepat dengan melebarkan sayap ke layanan desain grafis. Mahasiswa yang datang membawa konsep mentah bisa langsung dibantu untuk proses editing sebelum ID card dicetak. Bahkan, Bagas menambahkan bahwa tokonya juga menyediakan jasa perbaikan format dokumen skripsi yang disesuaikan dengan standar kampus sekitar, hingga pengerjaan plakat dan undangan.
Perubahan kebiasaan mahasiswa akhirnya tidak serta-merta membuat bisnis fotokopi kehilangan pasar. Ketika tugas kuliah dan bimbingan skripsi semakin banyak berpindah ke layar laptop dan ponsel, kebutuhan percetakan bergeser ke produk yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh soft file.
Bagi mahasiswa, mengirim tugas secara digital berarti lebih praktis dan hemat. Sementara bagi tukang fotokopi, perubahan itu menjadi alasan untuk mencari celah baru, dari mencetak lembaran tugas hingga membantu mendesain dan memproduksi ID card serta lanyard untuk berbagai kegiatan kampus.