Krisis Air Melanda Israel, Ledakan Alga Lumpuhkan Desalinasi: Pemicu Disorot Ilmuwan

Israel kekurangan air berminggu-minggu akibat ledakan alga yang mengganggu desalinasi. Ilmuwan menautkannya ke limbah di Gaza. Ini penjelasannya.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Krisis Air Melanda Israel, Ledakan Alga Lumpuhkan Desalinasi: Pemicu Disorot Ilmuwan
Ilustrasi Israel (AP Photo/Tom Pringle)

Israel mengalami kekurangan air selama berminggu-minggu setelah ledakan alga yang tidak biasa mengganggu sebagian besar kapasitas desalinasi negara itu. Para ilmuwan menyebut krisis ini dipicu oleh kerusakan besar pada infrastruktur pengolahan air limbah di Gaza akibat serangan Israel, yang menyebabkan pembuangan limbah cair tanpa pengolahan dalam jumlah besar ke laut, dikutip dari The Guardian, Sabtu (26/9/2026).

"Pencemaran tidak mengenal batas politik," kata Zalul Environmental Association, organisasi nonpemerintah Israel yang bergerak dalam perlindungan laut dan pesisir negara tersebut. Menurut Zalul, air limbah yang mengandung nitrogen dan fosfor menjadi sumber makanan bagi mikroalga dan sianobakteri sehingga memperparah ledakan alga dan berdampak pada fasilitas desalinasi di Israel.

Meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tercapai tahun lalu, Gaza masih terjerat krisis air dan sanitasi. Limbah cair menggenangi garis pantai setelah fasilitas pengolahan air limbah dihancurkan, sementara wilayah itu juga dilanda masalah tikus.

Di sisi Israel, ledakan mikroalga membentang sekitar 100 kilometer dan menyumbat filter di lima dari enam fasilitas desalinasi utama. Pabrik-pabrik itu sempat berhenti beroperasi beberapa hari dan kini berjalan kembali dengan kapasitas lebih rendah.

Para pakar mengatakan bahwa setelah hampir tiga tahun perang, dampak lingkungan akibat kehancuran di Gaza mulai merembet ke Israel. "Pembuangan limbah cair tanpa pengolahan dari Gaza ke laut meningkatkan risiko terhadap infrastruktur produksi air Israel di sepanjang pesisir selatan Mediterania," kata Profesor Emeritus dan Pakar Desalinasi dari Zuckerberg Institute for Water Research, Ben-Gurion University.

Menurut Gilron, insiden tersebut memperkuat kebutuhan untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai ancaman terhadap salah satu sumber utama air minum Israel.

Sejak 7 Oktober 2023, bombardir Israel menghancurkan 90 persen infrastruktur air dan sanitasi Gaza, menurut laporan Médecins Sans Frontières. Serangan langsung dilaporkan menyasar sumur, jaringan penyaluran air, waduk, serta unit desalinasi.

Sebelum perang, sekitar 80 persen pasokan air Gaza berasal dari akuifer pesisir. Kini, sumber itu telah tercemar air laut dan limbah cair sehingga tidak layak dikonsumsi. Sebagian besar air minum sebelumnya juga ditopang fasilitas desalinasi dan tiga jaringan pipa yang dikendalikan otoritas air Israel, yang diputus pada awal perang dan baru dibuka kembali sebagian.

Kerusakan jaringan distribusi membuat warga bergantung pada truk pengangkut air. Bagi banyak orang, ini berarti harus memilih antara menambah segelas air untuk diminum atau menyimpannya untuk mencuci tangan demi mencegah penyakit, sementara diare akut menjadi salah satu penyebab utama penyakit. "Kami membawa air menggunakan jeriken," kata Nas al-Barawi, 34 tahun, ibu lima anak dari Beit Lahia. Ia menuturkan warga harus berjalan membawa wadah air yang berat atau menunggu berjam-jam dalam antrean; banyak air tidak aman, dan anak-anak mengalami infeksi lambung berulang, diare, serta ruam kulit. Jaringan pembuangan limbah yang rusak dan pompa yang tidak berfungsi juga membuat air limbah mengalir di antara tenda-tenda dan kawasan permukiman.

Limbah 45.000 Meter Kubik Per Hari Mengalir ke Laut

Wakil Direktur Eksekutif Coastal Municipalities Water Utility (CMWU) di Gaza menyatakan lima fasilitas pengolahan air limbah di wilayah tersebut tidak beroperasi.

Akibatnya, sekitar 45.000 meter kubik limbah cair tanpa pengolahan mengalir ke Laut Mediterania setiap hari. Selain itu, sekitar 15.000 meter kubik limbah tanpa pengolahan per hari merembes ke air tanah melalui lubang resapan, terutama di kamp-kamp informal di al-Mawasi.

"Ini merupakan situasi yang sangat buruk dari sisi lingkungan dan kesehatan masyarakat," kata Shatat. Menurutnya, laut telah tercemar berat dan warga Gaza serta orang-orang yang mengungsi menjadi kelompok pertama yang terdampak karena bersentuhan langsung dengan konsentrasi limbah tertinggi.

Pat Griffiths, juru bicara Komite Internasional Palang Merah di Gaza City, memperingatkan kondisi tersebut kemungkinan semakin buruk ketika musim dingin tiba. "Warga Palestina hidup dikelilingi air limbah. Air limbah ada di sekitar mereka. Di sanalah mereka makan, mendapatkan air, dan berjalan," ujar Pat Griffiths.

Shaimaa al-Katari, 37 tahun, yang mengungsi ke al-Mawasi, mengatakan warga tidak memiliki tempat untuk membuang air bekas mencuci piring dan pakaian. Air itu akhirnya dialirkan ke jalan dan membentuk genangan. Alga dan nyamuk berkembang, jalan makin kotor, sementara warga menghadapi bau tidak sedap, nyamuk pada malam hari, lalat pada siang hari, serta tikus.

Selama berbulan-bulan, tikus memenuhi sejumlah wilayah Gaza. Hewan pengerat tersebut berkembang biak di tengah limbah mentah dan tumpukan sampah yang menumpuk di sekitar kamp-kamp pengungsian yang padat.

Komunitas Israel di dekat perbatasan Gaza juga menghadapi serangan tikus yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan hewan pengerat memenuhi rumah dan kebun.

"Dampak perang tidak berhenti di perbatasan," kata Nada Majdalani, direktur EcoPeace Middle East untuk Palestina. Ia menyebut peningkatan kasus hepatitis A sudah terlihat di Gaza dan memperingatkan bahwa wilayah tersebut berada di ambang bencana; wabah serius di Gaza tidak selalu akan berhenti di dalam wilayah Gaza.

Di Israel, pihak berwenang meminta masyarakat menggunakan air secara "bijaksana" hingga sistem sepenuhnya pulih. Pasokan air di wilayah selatan dikurangi, para petani diperintahkan menghentikan irigasi, dan para ekonom memperkirakan harga pangan akan meningkat.

Zalul dan EcoPeace mendesak Cogat, lembaga Israel yang bertanggung jawab atas administrasi Gaza, untuk membantu memulihkan sistem pembuangan limbah di wilayah tersebut dan memungkinkan air limbah diolah di wilayah yang berada di bawah kendali Israel.

Cogat tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Zalul memperingatkan, jika pencemaran berlanjut, dampaknya pada akhirnya dapat dirasakan di seluruh Israel. Ketika lingkungan laut tercemar, manusia dan alam sama-sama terdampak, terlepas dari sisi perbatasan tempat mereka berada.

Rekomendasi