Incar Teknologi Kemasan Global, Pelaku Usaha Siap Ekspor Soto dan Bandrek

Tak cuma rendang, pelaku usaha F&B kini incar teknologi pengemasan global untuk bawa soto hingga minuman rempah ekspansi ke pasar internasional.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Incar Teknologi Kemasan Global, Pelaku Usaha Siap Ekspor Soto dan Bandrek
<p>Suasana Kampung Ujung, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditetapkan sebagai Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di timur Indonesia dalam rangkaian puncak acara Festival Syawal 1445 H LPPOM MUI, 8 Mei 2024. (Liputan6.com/Asnida Riani)</p>

Selama ini, diplomasi kuliner Indonesia di panggung dunia kerap terjebak pada nama-nama lawas seperti rendang, nasi goreng, atau kopi. Padahal, kekayaan resep Nusantara dari Sabang sampai Merauke menyimpan potensi ekonomi raksasa yang belum tergarap maksimal karena terkendala teknologi pengemasan.

Ketua Umum Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Dini Zainuddin mengungkapkan, pihaknya tengah menyiapkan strategi baru untuk mengekspos kuliner lokal ke pasar global, khususnya China. Langkah terdekat adalah mengkompetisikan minuman rempah tradisional untuk dijadikan suvenir ekspor.

"Kalau dari China itu mereka tahunya dari Indonesia kopi. Padahal kita kan banyak minuman rempah seperti bandrek. Itu yang nanti akan kita kompetisikan untuk dibawa ke sana," ujar Dini dikutip di Jakarta, Selasa (29/9).

Ia juga menyoroti keragaman kuliner berkuah dan lauk spesifik seperti Soto Betawi, Soto Banjar, hingga bebek sambal hijau yang belum terekspos ke luar negeri.

Peluang bisnis antarnegara ini sebenarnya sudah ada di depan mata. Dini mencontohkan adanya ceruk pasar katering untuk tenaga kerja asal China di pabrik BYD yang beroperasi di Indonesia. Kolaborasi dengan pengusaha F&B internasional dinilai krusial untuk memenuhi standar selera sekaligus memperkenalkan lidah asing pada masakan Nusantara.

Terganjal Teknologi Pengawetan

Incar Teknologi Kemasan Global, Pelaku Usaha Siap Ekspor Soto dan Bandrek
Incar Teknologi Kemasan Global, Pelaku Usaha Siap Ekspor Soto dan Bandrek

Namun, untuk membawa makanan Nusantara seperti soto melintasi benua, resep yang lezat saja tidak cukup. Ketua Umum Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran Indonesia (Gaphari) Vera Umbara menekankan pentingnya adopsi teknologi pengemasan dan pengawetan makanan dari negara yang lebih maju. 

"Kita punya kekayaan resep dari Sabang sampai Merauke, tapi kita perlu teknologi untuk preservasi makanannya. Bagaimana makanan seperti soto bisa dieksplor ke luar negeri, itu perlu kemasan khusus. Itu yang kita perlu belajar (dari China)," jelas Vera.

Menurut Vera, banyak UMKM kuliner di Indonesia yang potensial namun skalanya belum cukup besar untuk menjadi bisnis yang berkesinambungan. Pertemuan langsung antara pemasok lokal dengan pemilik teknologi pangan global menjadi kunci agar industri kuliner Tanah Air bisa naik kelas.

Jembatan Transaksi Bisnis Nyata

Kebutuhan akan transfer teknologi dan perluasan pasar inilah yang menjadi ruh utama perhelatan MoreFood Expo 2027. Pameran industri makanan dan minuman (F&B) ini akan digelar pada 8–11 April 2027 di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran.

Mengusung area yang lebih luas, ajang ini telah mengantongi lebih dari 200 eksibitor lokal dan internasional enam bulan sebelum pintunya dibuka.

General Manager PT Huamo Exhibition Indonesia Carrie Wang menegaskan, pameran ini dirancang bukan sekadar untuk mengejar lalu lintas pengunjung, melainkan memfasilitasi transaksi nyata melalui program Industry Summit dan MatchMaking Meeting. 

"Pameran dagang hari ini dinilai dari berapa banyak percakapan bisnis yang benar-benar berlanjut setelah acara selesai. Exhibitor datang untuk bertemu pembeli yang tepat, dan pembeli datang karena tahu apa yang ingin mereka cari," kata Carrie.

Ekspansi bisnis ini sejalan dengan tren positif sektor F&B nasional. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, industri makanan dan minuman sukses tumbuh 6,49 persen pada kuartal III 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjadi tulang punggung utama PDB manufaktur Indonesia.

Rekomendasi