Menjemput Rezeki Lewat Notifikasi, Siasat Usaha Fotokopi Era Digital

Toko sepi bukan berarti tak laku. Begini strategi pelaku usaha fotokopi bertahan dan melipatgandakan omzet di tengah gempuran teknologi.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
Menjemput Rezeki Lewat Notifikasi, Siasat Usaha Fotokopi Era Digital
Potret toko fotokopi yang terlihat sepi dari luar, tetapi tetap banjir orderan via online.

Dari luar, sebuah toko fotokopi bernama Fajriz Printing yang berada di Jalan Pramuka Nomor 51A, Paseban, Senen, Jakarta Pusat, sekilas tampak tidak banyak aktivitas. Tak terlihat antrean panjang pelanggan yang berdiri sambil membawa flashdisk atau menunggu dokumen mereka selesai dicetak.

Suara mesin cetak yang menderu silih berganti dari dalam ruko menjadi bukti bahwa sepi dari luar tak berarti kehilangan pembeli. Di balik pintu kaca yang lengang tanpa antrean mengular, para pekerja bergerak cepat berpindah antarmesin. Notifikasi ponsel sesekali berdering menyelingi bunyi kertas yang keluar dari printer, menandai masuknya pesanan baru dari layar aplikasi.

Perjuangan Merintis Bisnis Fotokopi

Alim, adik dari pemilik usaha fotokopi tersebut, masih mengingat bagaimana bisnis keluarganya bermula. Sang kakak sebelumnya bekerja sebagai karyawan di usaha fotokopi sebelum akhirnya memutuskan keluar dan membangun bisnis sendiri.

Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan usaha yang kini telah berjalan lebih dari dua tahun. Seiring waktu, usaha itu tidak hanya mengandalkan pelanggan yang datang langsung. Cara konsumen memesan pun mulai berubah.

"Selain datang langsung, sekarang customer bisa pesan lewat WhatsApp atau website. Tinggal kirim dokumen, nanti kalau sudah selesai tinggal diambil," ujar Alim saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (28/9).

Perubahan pola pemesanan tersebut membuat aktivitas toko tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pelanggan yang datang secara langsung.

Mekanisme Cetak Online

Contoh keterangan nomor WhatsApp dan email Toko Fotokopi
Potret keterangan nomor WhatsApp dan email Toko Fotokopi di daerah Jakarta.

Bagi pelanggan yang terbiasa mengirim file melalui ponsel, proses mencetak dokumen di toko tersebut relatif sederhana. Mereka tidak harus datang terlebih dahulu hanya untuk menyerahkan file.

Langkah pertama adalah mengirimkan dokumen yang ingin dicetak melalui WhatsApp atau email. Setelah file diterima, pelanggan dapat melakukan konfirmasi dengan pihak toko terkait pesanan yang diinginkan.

Pada tahap ini, pelanggan dan pihak toko dapat berdiskusi apabila terdapat bagian dari dokumen yang perlu diubah atau diperbaiki. Hal tersebut dilakukan agar file yang masuk ke mesin cetak sudah sesuai dengan keinginan pelanggan.

Setelah detail pesanan disepakati, pelanggan kemudian melakukan pembayaran atau memberikan uang muka atau DP untuk melanjutkan proses pencetakan. File yang sudah dikonfirmasi selanjutnya diproses oleh pekerja toko. Dokumen dicetak sesuai pesanan hingga seluruh pekerjaan selesai.

Ketika pesanan sudah siap, pelanggan akan mendapatkan informasi dari pihak toko. Pengambilan dapat dilakukan dengan datang langsung ke lokasi. Bagi pelanggan yang tidak dapat mengambil sendiri, pesanan juga bisa dikirim menggunakan layanan delivery dari pihak ketiga.

Dengan mekanisme tersebut, pelanggan tidak perlu menghabiskan waktu di toko sejak awal proses pencetakan. Sebagian besar komunikasi sudah dilakukan melalui ponsel, sementara kehadiran fisik pelanggan hanya diperlukan ketika mengambil pesanan, apabila tidak menggunakan jasa pengiriman.

Omzet Melonjak

Di balik suasana yang tampak lengang, pekerja tetap menjalankan berbagai pesanan yang masuk melalui perangkat digital. File yang diterima diproses sesuai permintaan pelanggan, kemudian dicetak menggunakan mesin yang tersedia.

Bagi Alim, pola tersebut menjadi bagian dari upaya usaha untuk mengikuti kebutuhan pelanggan yang semakin mengutamakan kecepatan dan kepraktisan. Adaptasi itu juga terlihat dari perkembangan fisik usaha.

Setelah berjalan lebih dari dua tahun, bisnis tersebut kini memperluas area kerjanya dengan membeli dua ruko yang berada di sebelah ruko utama. Pertumbuhan usaha juga tercermin dari peningkatan keuntungan. Alim menyebut keuntungan bisnis pada tahun ini meningkat sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kalau keuntungan, tahun ini meningkat sekitar 40 persen dibanding tahun lalu," kata Alim.

Angka tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa perubahan sistem pelayanan tidak sekadar dilakukan untuk mengikuti tren digital. Bagi usaha tersebut, digitalisasi juga menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan bisnis.

Diversifikasi Produk

Meski pada awalnya dikenal sebagai usaha fotokopi, layanan yang ditawarkan kini tidak berhenti pada menggandakan dokumen atau mencetak tugas saja. Untuk memperluas pasar, usaha ini mulai mengerjakan berbagai kebutuhan percetakan kreatif. Produk yang ditawarkan antara lain undangan, plakat, ID card, hingga lanyard. Perluasan jenis produk tersebut membuat target konsumennya menjadi lebih beragam.

Jika sebelumnya kebutuhan utama berasal dari orang yang ingin menggandakan atau mencetak dokumen, kini pelanggan juga dapat datang untuk memenuhi kebutuhan acara, organisasi, maupun keperluan identitas.

Bagi usaha percetakan, diversifikasi produk menjadi salah satu cara untuk tidak bergantung pada satu jenis layanan. Apalagi, kebutuhan mencetak dokumen perlahan berubah seiring masyarakat semakin terbiasa menyimpan dan mengirim file secara digital. Dokumen yang sebelumnya harus dicetak untuk dibaca kini banyak berpindah ke layar.

Namun, kebutuhan terhadap produk fisik belum sepenuhnya hilang. Dokumen tertentu masih membutuhkan bentuk cetak, sementara produk seperti undangan, plakat, ID card, dan lanyard justru tetap membutuhkan proses produksi secara fisik. Di celah kebutuhan itulah usaha percetakan mencoba memperluas layanan.

Efisiensi Waktu Konsumen

Perubahan sistem pelayanan tersebut juga dirasakan konsumen, terutama mahasiswa yang sehari-hari berhadapan dengan tugas, laporan, bahan presentasi, hingga berbagai kebutuhan organisasi.

Salsa, mahasiswa Universitas Airlangga, menjadi salah satu pelanggan yang memanfaatkan layanan pemesanan melalui WhatsApp. Ia mengungkapkan bahwa dirinya mulai menggunakan sistem tersebut sejak semester tiga. Alasannya sederhana, yaitu menghemat waktu.

"Sejak semester 3 itu aku udah pasti kirim lewat WA biar efisien waktu. Karena, meskipun daerah UNAIR sebanyak itu tempat fotokopi, tapi tetap aja rame dan antre," ungkap Salsa.

Bagi mahasiswa, waktu yang dihabiskan untuk mencetak dokumen sering kali harus berbagi dengan jadwal kuliah, kegiatan organisasi, pekerjaan, maupun tenggat tugas. Dengan mengirim file terlebih dahulu, proses mencetak dapat dilakukan tanpa harus menunggu dari awal.

Dari WhatsApp Menuju Marketplace

Meski pemesanan melalui WhatsApp dan website telah berjalan, Alim melihat masih ada ruang untuk mengembangkan bisnis. Salah satu target berikutnya adalah membawa produk percetakan mereka ke platform e-commerce.

Rencana tersebut terutama ditujukan untuk produk seperti plakat, undangan, ID card, dan lanyard yang memiliki pasar lebih luas dibandingkan sekadar pelanggan di sekitar lokasi toko.

"Kita juga berharap bisa buka toko di Tokopedia, supaya produk seperti plakat, undangan, ID card, dan lanyard bisa lebih banyak yang pesan," tambah Alim.

Jika rencana tersebut terealisasi, jangkauan pelanggan tidak lagi hanya bergantung pada orang yang berada di sekitar toko atau pelanggan yang mengetahui nomor WhatsApp dan email usaha. Produk dapat diperkenalkan melalui platform digital dan dipesan dari luar wilayah toko, sementara proses produksi tetap dilakukan di tempat usaha.

Perjalanan bisnis ini menunjukkan bahwa keberadaan teknologi tidak serta-merta membuat usaha fotokopi kehilangan tempat. Justru, cara pelanggan menggunakan jasa fotokopi yang berubah. Mesin tetap bekerja, kertas tetap keluar dari printer, dan dokumen tetap dicetak.

Rekomendasi