Kurs Rupiah Nyaris Sentu Level Rp18.000 per Dolar, Analis Ungkap Pemicunya

Rupiah melemah tipis ke Rp17.981 per dolar AS. Pasar waspadai sinyal The Fed dan rilis PCE, ISM, hingga NFP pekan ini.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani - Reporter
Kurs Rupiah Nyaris Sentu Level Rp18.000 per Dolar, Analis Ungkap Pemicunya
Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rupiah melemah mendekati Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (29/9/2026), seiring meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan pengetatan lanjutan kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Antara, rupiah terhadap dolar AS turun tiga poin atau 0,02% ke 17.981 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.978 per dolar AS. Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ikut melemah ke Rp17.998 per dolar AS dari Rp17.965 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah disebut berkaitan dengan lonjakan harga minyak yang mendorong ekspektasi kebijakan yang lebih ketat dari bank sentral AS.

"Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir," tutur Analis Mata Uang Ibrahim Assuabi, seperti dikutip dari Antara.

Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% terjadinya kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober, setelah pekan lalu sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pernyataan bernada hawkish.

Agenda ekonomi AS juga padat pekan ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis Rabu, 30 September 2026, disusul ISM Manufacturing PMI pada Kamis, 1 Oktober 2026, serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Sinyal Kebijakan The Fed dan Faktor Geopolitik

Selain data, pernyataan dari para pejabat The Fed akan dipantau untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan bank sentral berikutnya.

Di sisi lain, potensi pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai bagian dari upaya mengakhiri perang turut membayangi pergerakan rupiah. Dialog tersebut diperkirakan berfokus pada versi revisi dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.

"Rencana tujuh hari Iran tersebut mencakup penghentian segala permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran senilai miliaran dolar, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran," kata Ibrahim.

Rekomendasi