Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengingatkan bahwa peningkatan produktivitas petani plasma maupun swadaya harus menjadi fokus bersama agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Langkah ini juga sekaligus mempertahankan posisi Indonesia sebagai pemimpin pasar minyak sawit dunia.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono mengatakan industri kelapa sawit domestik telah berkali-kali membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai krisis.
Menurut Eddy, setiap periode sulit, sektor sawit tampil sebagai salah satu penyangga utama perekonomian nasional melalui kontribusi devisa yang besar sekaligus kemampuannya menjaga penyerapan tenaga kerja.
"Pada masa pandemi, devisa sawit mencapai sekitar USD 39,2 miliar. Bahkan ketika banyak sektor melakukan PHK, industri sawit tetap membuka kesempatan kerja baru,” ujar dia dalam 9th Borneo Forum 2026 di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang digelar pada 5–8 Agustus 2026, dikutip dari Antara, Sabtu (8/8).
Lebih lanjut, salah satu langkah strategis yang terus didorong adalah percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Program tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas kebun rakyat melalui penggunaan benih unggul, penerapan teknologi, serta pendampingan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan masa depan industri kelapa sawit akan semakin kuat apabila bertumpu pada tiga hal, yaitu ketahanan dalam menghadapi perubahan, keberanian menghadirkan inovasi, dan kemampuan melakukan transformasi.
"Oleh karenanya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong pengembangan industri hilir berbasis kelapa sawit. Kami ingin potensi yang dimiliki Kalimantan Timur memberikan nilai tambah yang semakin besar, memperkuat investasi, mengembangkan industri turunannya, serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Seno Aji.
Advertisement
Pengembangan Industri Kelapa Sawit Nasional
Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Timur Rachmat Perdana Angga, menyampaikan bahwa pelaksanaan Borneo Forum diharapkan dapat memperkuat peran Kalimantan Timur dalam pengembangan industri kelapa sawit nasional.
"Borneo Forum menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan gagasan dan kolaborasi yang dapat mendukung kemajuan industri sawit Indonesia," ujar dia.
Melalui forum tersebut, pihaknya berharap kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dapat terus berkembang dalam menghadapi tantangan industri sawit yang semakin kompleks, baik di tingkat nasional maupun global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari–Februari 2026 mencapai USD 4,69 miliar, melonjak 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 3,71 miliar.
Lonjakan itu tidak hanya terlihat dari nilai, tetapi juga volume. Ekspor meningkat dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton pada periode yang sama. Berdasarkan rilis resmi GAPKI pada 13 Maret 2026, produksi CPO Indonesia sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton atau meningkat 7,26 persen (naik sekitar 3,5 juta ton) dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total produksi CPO dan PKO (palm kernel oil) tercatat sebesar 56,55 juta ton atau naik 7,18 persen.