Trivia: Lahan Pertanian Denpasar Menyusut 100 Hektare, Pertamina Berdayakan Petani Cegah Alih Fungsi Lahan

Pertamina Patra Niaga memberdayakan petani di Denpasar untuk mengatasi krisis iklim dan alih fungsi lahan Denpasar yang masif, menyusutkan 100 hektare lahan pertanian.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trivia: Lahan Pertanian Denpasar Menyusut 100 Hektare, Pertamina Berdayakan Petani Cegah Alih Fungsi Lahan
Pertamina Patra Niaga memberdayakan petani di Denpasar untuk mengatasi krisis iklim dan alih fungsi lahan Denpasar yang masif, menyusutkan 100 hektare lahan pertanian. (Merdeka.com)

Pertamina Patra Niaga mengambil langkah proaktif untuk mengatasi tantangan serius yang dihadapi sektor pertanian di Denpasar, Bali. Perusahaan ini aktif memberdayakan para petani yang tergabung dalam kelompok Uma Palak Lestari. Inisiatif ini bertujuan utama untuk mencegah semakin meluasnya alih fungsi lahan pertanian.

Program pembinaan ini dilaksanakan di Subak Sembung, Kelurahan Peguyangan, Denpasar Utara. Pendampingan diberikan melalui penguatan kapasitas serta pengembangan ekowisata berbasis komunitas. Bantuan mesin giling gabah juga diserahkan sebagai bentuk dukungan konkret.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap krisis iklim dan isu tata niaga yang tidak menyejahterakan petani. Manajer Terminal BBM Ngurah Rai, I Komang Susila Gosa, menegaskan komitmen Pertamina. Ia menyatakan, "Kami tidak bisa membiarkan petani menghadapi persoalan besar seperti krisis iklim, alih fungsi lahan hingga isu tata niaga yang tidak menyejahterakan petani."

Dukungan Pertamina untuk Ketahanan Pangan Lokal

Pertamina Patra Niaga, sebagai salah satu unit operasi BUMN, memberikan perhatian khusus kepada kelompok tani di Denpasar. Pendampingan ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Tujuannya adalah untuk memastikan ketahanan pangan lokal tetap terjaga di tengah berbagai tantangan.

Salah satu bentuk dukungan nyata adalah penyerahan bantuan mesin giling gabah. Bantuan ini diberikan kepada Subak Sembung bertepatan dengan Hari Tani Nasional. Ini menjadi "kado" yang sangat berarti bagi para petani setempat.

Selain itu, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Uma Palak Lestari, kelompok binaan Pertamina, juga menggelar Festival Uma Palak 2025. Festival ini mencakup berbagai agenda sosial dan edukatif. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kawasan pertanian.

Ancaman Alih Fungsi Lahan di Denpasar dan Bali

Isu alih fungsi lahan menjadi perhatian serius di Denpasar dan Bali secara keseluruhan. Data Dinas Pertanian Kota Denpasar menunjukkan penyusutan lahan pertanian yang signifikan. Sepanjang tahun 2023 hingga 2024, sekitar 100 hektare lahan pertanian telah beralih fungsi.

Saat ini, lahan baku pertanian yang tersisa di Denpasar diperkirakan sekitar 2.000 hektare. Dari jumlah tersebut, 1.000 hektare telah ditetapkan sebagai lahan pertanian abadi. Penetapan ini bertujuan untuk melindungi lahan dari perubahan peruntukan.

Skala masalah ini lebih luas di tingkat provinsi. Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Bali mencatat 6.521,87 hektare lahan sawah beralih fungsi antara 2019-2024. Rata-rata penyusutan lahan sawah di Bali mencapai 1,53 persen per tahun.

Luas lahan persawahan di Bali mengalami penurunan drastis. Pada tahun 2019, tercatat 70.995,87 hektare, namun pada 2024 menyusut menjadi 64.474 hektare. Fenomena ini mengancam kedaulatan pangan dan kelestarian lingkungan.

Kolaborasi untuk Masa Depan Pertanian dan Ekowisata

Pendampingan Pertamina tidak hanya berfokus pada produktivitas pertanian semata. Program ini juga mendukung pengembangan pariwisata berbasis komunitas setempat. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga lahan hijau dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Kepala Seksi Kesejahteraan Kantor Kelurahan Peguyangan, Ni Luh Putu Siptiari Astiti, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, pendampingan ini sangat membantu para petani. Ini adalah langkah positif untuk Denpasar.

Melalui kegiatan seperti Festival Uma Palak, masyarakat dan generasi muda diajak berpartisipasi aktif. Mereka didorong untuk menjaga kelestarian kawasan hijau. Upaya kolektif ini penting untuk memastikan kedaulatan pangan berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi