Maskapai penerbangan Barat terancam menghadapi gangguan yang lebih besar dibandingkan pesaing mereka dari China pada musim panas ini. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya konflik antara Iran dan Israel, yang diperparah oleh serangan militer Amerika Serikat, sehingga memaksa banyak maskapai menghindari wilayah udara yang dianggap berbahaya di sepanjang rute penerbangan China-Eropa.
Melansir dari South China Morning Post, menurut para analis, hampir semua maskapai kini telah mengalihkan jalur penerbangan mereka untuk menghindari wilayah udara Iran dan sebagian kawasan Timur Tengah.
Namun, maskapai Barat berada dalam posisi yang lebih sulit karena masih dilarang terbang di atas wilayah udara Rusia, sementara maskapai China tetap dapat menggunakan jalur tersebut.
"Bagi para pelancong, terutama dari Cina, ini semua tentang tiket pesawat dan waktu penerbangan," ujar seorang analis dari Airwefly.
Dia menambahkan, perkembangan terbaru dapat memperluas kesenjangan kompetitif yang sudah dimiliki maskapai penerbangan China dibandingkan maskapai lain. Sejak Israel melancarkan kampanye militernya terhadap Iran pada 13 Juni, Iran, Israel, Irak, dan Yordania telah secara berkala menutup wilayah udaranya.
Advertisement
Situasi Memanas Akibat Amerika Serikat
Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran pada Minggu lalu, yang memicu kekhawatiran terjadinya perang regional yang lebih luas serta menambah gangguan terhadap penerbangan antara Asia dan Eropa.
Dalam beberapa hari terakhir, baik maskapai Barat maupun China telah menghindari wilayah udara Iran karena adanya risiko pesawat mereka salah diidentifikasi oleh sistem pertahanan udara.
Kekhawatiran ini meningkat setelah serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Qatar pada Senin, yang mendorong peningkatan pengalihan dan pembatalan penerbangan, menurut keterangan dari maskapai dan berbagai laporan media.
Maskapai-maskapai Barat kini memilih mengalihkan rute melalui wilayah udara Azerbaijan, Turkmenistan, dan Afghanistan, atau memilih jalur selatan yang melintasi Mesir dan Arab Saudi.
Sebaliknya, maskapai China memiliki lebih banyak keleluasaan karena tetap diizinkan melintasi wilayah udara Rusia, yang sejak 2022 ditutup untuk maskapai Barat akibat perang Rusia-Ukraina.
"Penerbangan Barat sekarang memiliki dua zona larangan terbang Rusia dan Iran, sehingga hanya tersisa koridor sempit di Asia Tengah atau Afrika Utara sebagai pilihan yang layak. Rute ini akan semakin padat dan kompleks secara operasional. Mereka juga membakar lebih banyak bahan bakar, yang berarti biaya lebih tinggi. Penerbangan China, tentu saja, menggunakan langit teritorial Rusia yang luas," jelas seorang konsultan senior industri penerbangan, Brian Yang Bo.
Dalam beberapa hari terakhir, lebih banyak pesawat milik Air China dan China Southern dilaporkan melintasi wilayah udara Rusia dalam perjalanan ke Eropa, sebagaimana ditunjukkan oleh data dari Flightradar24 dan situs pelacak penerbangan lainnya.
Advertisement
Kata Analis
Sebelum meningkatnya ketegangan di kawasan, maskapai-maskapai Tiongkok seperti Air China, China Southern, China Eastern, Hainan Airlines, dan Xiamen Air secara rutin menggunakan wilayah udara Iran untuk rute penerbangan ke berbagai tujuan seperti London, Dubai, Tel Aviv, Frankfurt, dan Istanbul dari kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou.
Namun, para analis menilai bahwa pengalihan rute yang terjadi belakangan ini tidak akan terlalu berdampak signifikan bagi penumpang dari China. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pilihan penerbangan domestik yang tersedia.
Data dari perusahaan intelijen penerbangan asal Inggris, OAG, menunjukkan bahwa sekitar 10 juta kursi dua arah antara China daratan dan Eropa diperkirakan tersedia pada musim panas ini, naik 4,2 persen dibandingkan tahun lalu.
"Untuk rute Cina, baik saat liburan musim panas atau bukan, mungkin ada sedikit perubahan pada jalur penerbangan dan waktu tempuh yang sedikit lebih lama, tetapi hal itu tidak berdampak besar terhadap konsumen," kata John Grant, analis senior di OAG.
Kemampuan maskapai China untuk memanfaatkan wilayah udara Rusia memberi keuntungan besar dalam efisiensi bahan bakar dan waktu tempuh. Keunggulan ini berpotensi memperbesar pangsa pasar mereka, sementara maskapai Barat harus menanggung biaya lebih tinggi.
Selama 12 bulan terakhir, maskapai China telah membuka beberapa rute baru melalui wilayah Rusia, sementara maskapai Eropa seperti Lufthansa dan British Airways justru mengurangi operasional mereka di China, dengan alasan biaya yang meningkat dan permintaan yang menurun.
Data terbaru juga menunjukkan bahwa pangsa pasar maskapai Eropa terhadap total kapasitas penerbangan antara Eropa dan China tahun ini hanya mencapai sekitar 18 persen.
Angka ini menurun dibandingkan musim panas lalu yang mencapai sekitar seperempat, bahkan jauh di bawah capaian musim panas 2019 yang sebesar 41 persen.