Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan keberhasilan pemerintahannya dalam mencapai kesepakatan untuk memperoleh kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela. Langkah strategis ini dilakukan di tengah situasi perdagangan minyak mentah dunia yang sedang mengalami gejolak akibat konflik yang melibatkan Iran.
Dikutip dari CNBC, Trump menyampaikan informasi tersebut melalui sebuah unggahan di media sosial pada Jumat (28/8). Ia mendeskripsikan pencapaian ini sebagai kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia yang diklaim tidak memberikan beban finansial tambahan bagi para pembayar pajak di Amerika Serikat.
Trump menyatakan, "Kesepakatan ini akan melipatgandakan cadangan minyak AS." Pernyataan tersebut merujuk pada data Departemen Energi yang dirilis awal bulan ini, di mana volume minyak dalam Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve) saat ini berada di titik terendah sejak era 1980-an.
Advertisement
Koordinasi Pemerintah dan Kemitraan Swasta
Kesepakatan ini tercapai setelah serangkaian peristiwa politik yang signifikan di Venezuela, termasuk serangan AS terhadap negara tersebut pada Januari lalu. Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dilaporkan telah ditangkap.
Dalam unggahan yang sama, Trump menjelaskan bahwa para pejabat AS telah melakukan koordinasi intensif dengan para pemimpin pemerintahan di Venezuela. Selain itu, pihak pemerintah juga memanfaatkan kemitraan dengan perusahaan swasta yang identitasnya tidak disebutkan untuk mengamankan transaksi tersebut.
Ia menambahkan, "Transaksi ini akan sangat memperkuat hubungan yang sudah berkembang antara Venezuela dan Amerika Serikat." Pengumuman ini disampaikan di saat para konsumen di AS tengah menghadapi kenaikan harga energi yang cukup tajam menjelang pemilihan paruh waktu yang krusial bagi Partai Republik.
Advertisement
Upaya Menekan Harga Bahan Bakar
Terkait dampak ekonomi bagi masyarakat, Trump menuturkan bahwa kesepakatan ini diharapkan mampu menurunkan harga bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Berdasarkan data AAA, harga rata-rata bensin di AS tercatat mencapai US$ 4,09 per galon pada Jumat, atau meningkat 27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan turun 4% pada minggu ini, yang menjadi penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir. Meski demikian, harga komoditas tersebut secara keseluruhan telah melonjak lebih dari 24% sejak perang AS dengan Iran dimulai.
Konflik tersebut telah berdampak langsung pada lalu lintas di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Berdasarkan data pelacak PortWatch milik Dana Moneter Internasional (IMF), jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut kini hanya tersisa segelintir setiap harinya, jauh menurun dibandingkan sekitar 100 kapal yang melintas pada tahun lalu.