Pemesanan Obligasi BTN Lampaui Target, Raih Rp4,57 Triliun untuk Pembiayaan Perumahan
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatat pemesanan obligasi mencapai Rp4,57 triliun, jauh melampaui target. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat pembiayaan perumahan nasional.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berhasil mencatat capaian impresif dalam pemesanan penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi. Total pemesanan dari investor mencapai Rp4,57 triliun, jauh melampaui target emisi awal yang ditetapkan sebesar Rp2,3 triliun. Pencapaian ini menunjukkan kepercayaan tinggi investor terhadap kinerja bank.
Penawaran awal obligasi ini ditutup pada Jumat, 28 November 2025, setelah dibuka sejak 21 November 2025. Dana yang terkumpul ini akan digunakan untuk memperkuat permodalan BTN, khususnya komponen modal tier 2-capital. Ini sangat penting untuk mendukung ekspansi pembiayaan sektor perumahan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi bank. Tujuannya adalah mendukung pertumbuhan bisnis, terutama Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan program 3 juta rumah dari pemerintah. BTN berkomitmen untuk terus berkontribusi pada pembangunan perumahan nasional.
Minat Investor Tinggi pada Obligasi BTN
Minat investor terhadap pemesanan obligasi BTN menunjukkan respons yang sangat positif dari pasar keuangan. Untuk PUB obligasi subordinasi dengan tenor 5 tahun, pemesanan mencapai Rp2,93 triliun. Angka ini 1,47 kali lipat dari target awal yang sebesar Rp2 triliun, mengindikasikan kepercayaan kuat investor.
Sementara itu, untuk PUB obligasi berwawasan sosial atau social bond, minat investor bahkan lebih tinggi. Pemesanan mencapai Rp1,64 triliun, atau 5,47 kali lipat dari target Rp300 miliar yang ditetapkan. Kelebihan pemesanan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek dan dampak positif instrumen pendanaan BTN.
BTN menawarkan kupon indikatif yang kompetitif untuk kedua jenis obligasi ini. Obligasi subordinasi tenor 5 tahun menawarkan kupon antara 5,85 hingga 6,75 persen. Sedangkan obligasi berwawasan sosial tenor 3 tahun memiliki kupon 5,25 hingga 5,75 persen. Tingginya minat ini juga didukung oleh kondisi rasio kecukupan modal (CAR) BTN yang berada pada level 18,16 persen hingga Oktober 2025, yang perlu dijaga untuk pertumbuhan kredit.
Obligasi Berwawasan Sosial untuk Pembangunan Berkelanjutan
Penerbitan obligasi berwawasan sosial menjadi tonggak penting bagi BTN dalam strategi pendanaan berkelanjutan. Ini merupakan penerbitan pertama dalam skema tersebut, menegaskan komitmen bank terhadap pembangunan sosial dan lingkungan. Instrumen ini dirancang untuk mengembangkan pendanaan yang sejalan dengan fokus BTN di sektor perumahan selama lebih dari 75 tahun, serta memperluas inklusi keuangan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa social bond dapat langsung mengalirkan manfaat ekonomi dan sosial kepada masyarakat luas. Ini sekaligus memperkuat kontribusi BTN dalam agenda pembangunan berkelanjutan nasional, termasuk program Astacita. Dana yang diperoleh dari obligasi ini memiliki alokasi yang spesifik dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Dana hasil penerbitan obligasi berwawasan sosial akan dialokasikan secara strategis. Prioritas utamanya adalah pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dan perumahan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Selain itu, dana juga akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dasar pendukung perumahan rakyat, pembiayaan UMKM, serta kegiatan yang mendorong penciptaan lapangan kerja dalam ekosistem perumahan.
Kebijakan ini sejalan dengan peta jalan keberlanjutan jangka panjang BTN yang mengusung prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). "Peran ini telah membentuk karakter BTN yang secara alamiah berorientasi sosial," tutur Nixon, menegaskan identitas bank. Dengan demikian, pemesanan obligasi BTN ini bukan hanya tentang finansial, tetapi juga dampak sosial.
Penerimaan dana hasil penerbitan kedua obligasi ini ditargetkan efektif pada 12 Desember 2025. Selanjutnya, pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 15 Desember 2025. Ini akan menjadi langkah final dalam proses penggalangan dana yang sukses ini.
Sumber: AntaraNews