Capaian Bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di Jawa Tengah Ditarget Capai 21,32 Persen
Usaha yang dilakukan pemerintah daerah itu berjalan beriringan dengan upaya pelaku industri mulai memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap.
Pemprov Jawa Tengah terus mendorong percepatan capaian Net Zero Emission (NZE) melalui transisi penggunaan energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Langkah ini dilakukan dengan mendorong kolaborasi multi sektor untuk mencapai target 21,32 persen bauran EBT pada akhir tahun ini.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, hingga tahun 2024 Jawa Tengah telah berhasil memanfaatkan 18,55 persen EBT dalam penggunaan energinya.
"Pemanfaatan EBT terus ditingkatkan dengan memaksimalkan potensi kewilayahan yang dimiliki Jawa Tengah," kata Sujarwanto, Jumat (14/11).
Pihaknya juga sedang mengembangkan potensi mikro hidro di wilayah aliran sungai seperti Banyumas, energi bayu atau angin di Demak dan Brebes, serta energi panas bumi di Wonosobo dan Tegal.
Usaha yang dilakukan pemerintah daerah itu berjalan beriringan dengan upaya pelaku industri mulai memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di fasilitas produksinya.
"Ini sesuai dengan apa yang terus kita dorong. Mulai menggunakan air sebagai sumber bahan baku yang berkelanjutan, sambil memelihara Daerah Aliran Sungai (DAS) sehingga suplai airnya tetap ada, industrinya juga menggunakan energi yang ramah lingkungan," ungkapnya.
Sisi Infrastruktur
Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Retail PT PLN (Persero), Daniel Lestanto mengatakan dari sisi infrastruktur, PT PLN (Persero) terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan instalasi PLTS Atap dari sektor industri. Hal ini terlihat dalam rekomposisi kuota PLTS Atap yang diakomodasi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN dimana hingga 2028, terdapat kuota pembangkitan PLTS Atap hingga 2 GWP.
"Kami punya daftar tunggu sekitar 375 MWP. Artinya, demand-nya itu sudah ada dan harus bisa kami angkut semua, supaya bisa tercover," kata Daniel Lestanto.
Dia menyebut bahwa perkembangan jumlah pelanggan PLTS Atap di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga September 2025, daya terpasang dari fasilitas PLTS Atap telah mencapai 708 MWP dimana 567 MWP berasal dari sektor industri. Di Jawa Tengah sendiri, ada sekitar 2.000-2.500 industri yang telah memanfaatkan PLTS Atap tersebut dengan beban puncak sekitar 88 MWP.
"PLN pada prinsipnya sangat commit, untuk mendukung terciptanya energi bersih. Sesuai arahan Presiden dan Direksi. Dukungan itu diwujudkan lewat berbagai parameter yang sudah kami siapkan. termasuk didalamnya penambahan kuota untuk PLTS Atap," tegasnya.