BRI Ingin Tiru Jejak Bank Lain Pasca Rebranding: Ada yang Labanya Meroket 215 Persen
Meski tidak menyebut langsung apa bank dimaksud, ia coba merujuk pada HSBC yang mengusung slogan Together We Thrive.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI resmi melakukan corporate rebranding dengan meluncurkan logo baru. Program transformasi ini diharapkan bisa turut diikuti oleh pertumbuhan laba perseroan pasca rebranding.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi lantas berkaca kepada kisah sukses yang ditorehkan oleh beberapa bank lain setelah bertransformasi. Khususnya terhadap peningkatan kinerja dan laba.
"Ada Bank A, bisa hadir 2014 labanya naik 167 persen. Kemudian Bank B, di 2011 pertemuan labanya naik 104 persen. Lalu Bank C lebih besar lagi pertumbuhan labanya, 215 persen," papar Hery sambil menampilkan sebuah slide dalam acara Launching BRI Corporate Rebranding di Menara BRILian, Jakarta, Selasa (16/12).
Meski tidak menyebut langsung apa bank dimaksud, ia coba merujuk pada HSBC yang mengusung slogan Together We Thrive. Dan sukses mencatatkan pertumbuhan laba hingga 215 persen sejak 2017.
Adapun bank dimaksud yang labanya meroket 167 persen yakni DBS Bank, dengan slogan Live More, Bank Less. Sementara perbankan dengan kenaikan laba 104 persen pasca rebranding adalah Maybank dengan slogan Humanizing Financial Services.
Adapun dalam program rebranding ini, BRI tidak hanya menampilkan logo baru, tapi juga dimulai dengan pembentukan budaya kerja untuk dapat menciptakan performa berkelanjutan (sustainability performance). Penyegaran brand juga diharapkan membantu mengubah cara nasabah memandang BRI secara positif.
BRI Luncurkan Logo Baru
Dalam pembaharuan logo, BRI mengubah latar belakang warna biru tua di logonya menjadi biru muda. Kemudian logo dan tulisan BRI di sampingnya pun dipasang dengan ukuran font lebih kecil. Salah satu tujuannya yakni untuk penyegaran kepada para generasi muda, sehingga BRI tidak identik sebagai perbankan dengan citra yang terkesan tua.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, mengacu pada studi Kantar, Kadence, Nielsen, emiten berkode saham BBRI ini perlu melakukan corporate rebranding yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.
"BRI itu dipercaya dan mudah diakses, tapi terlalu tergantung pada citra kerakyatan. Kemudian muncul persepsi tua di kalangan segmen urban dan anak muda," ujar dia dalam kesempatan sama.
Perkuat Koneksi Emosional ke Publik
"Koneksi emosional publik dengan brand masih lemah, kemudian identitas brand belum selaras dengan ekspektasi gen Z," kata Hery.
Hery mengutarakan, pihaknya ingin menyegarkan brand tersebut untuk membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap BRI agar lebih positif dan tidak termakan zaman.
"Agar dari bank yang hanya untuk melayani masyarakat kecil dan kurang terlayani, mungkin kita ingin juga bisa membantu semua orang dimanapun mereka berada," imbuh dia.