Rakyat Gaza: Bagaimana Dewan Perdamaian Bisa Dipercaya Sementara Israel Pelaku Genosida Jadi Anggotanya

Hampir tidak ada yang berubah di Gaza meski perjanjian "gencatan senjata" antara Hamas dan Israel yang ditengahi Trump dan mulai berlaku pada Oktober tahun lalu

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Rakyat Gaza: Bagaimana Dewan Perdamaian Bisa Dipercaya Sementara Israel Pelaku Genosida Jadi Anggotanya
Sejumlah Kebijakan Ekonomi Nasional menjadi sorotan utama, termasuk potensi anggaran APBN untuk Board of Peace, evaluasi MBG, hingga persiapan diskon tiket transportasi jelang Lebaran 2026. Simak selengkapnya! (AntaraNews)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengadakan pertemuan pertama Dewan Perdamaian Gaza (BoP) di Washington, DC. Trump pun mengaku akan membangun dan membawa perdamaian di Gaza.

Dalam pidatonya di Washington DC, Trump mengumumkan bahwa sembilan negara anggota telah menjanjikan USD 7 miliar untuk dana rekonstruksi Gaza. Lima negara di antaranya setuju untuk mengerahkan pasukan ke Gaza sebagai Pasukan Stabilisasi Internasional.

Dia mengatakan AS juga akan memberikan kontribusi sebesar USD 10 miliar untuk neraca pembayaran (BoP), meskipun dia tidak merinci untuk apa uang itu akan digunakan.

Namun, janji-janji tersebut masih jauh di bawah perkiraan PBB yakni USD 70 miliar yang dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza yang hancur porak poranda akibat bombardir Israel tanpa henti selama lebih dari dua tahun perang genosida.

Hampir tidak ada yang berubah di Gaza meski perjanjian "gencatan senjata" antara Hamas dan Israel yang ditengahi Trump dan mulai berlaku pada Oktober tahun lalu.

Kementerian Kesehatan Gaza mengungkap lebih dari 600 warga Palestina di Gaza telah tewas akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata disepakati. Sejak perang genosida dilakukan Israel di Gaza, total warga Palestina yang wafat dibunuh tantara zionis lebih dari 72.000 orang menurut statistik resmi.

Hamas: Pembunuhan di Gaza Masih Berlangsung, Board of Peace Harus Bertindak
Karya seni tersebut merupakan bentuk ketahanan dan upaya untuk memberikan kegembiraan bagi warga Palestina yang terpaksa mengungsi akibat perang berkepanjangan antara Israel dan Hamas. Tampak © 2026 Liputan6.com

Warga Palestina di Gaza pun tak terlalu percaya dengan janji Trump dan Dewan Perdamaian.

“Israel membunuh, mengebom, melanggar perjanjian gencatan senjata setiap hari dan memperluas zona penyangga tanpa ada yang menghentikannya,” kata Awad al-Ghoul, seorang warga Palestina berusia 70 tahun yang mengungsi dari Tal as-Sultan di Rafah dan sekarang tinggal di tenda di kota az-Zawayda dilansir Aljazeera, Sabtu (21/2/2026).

“Jika Dewan Perdamaian sebesar ini tidak dapat memaksa Israel untuk menghentikan serangannya di tempat kecil seperti Gaza, bagaimana dewan itu akan menyelesaikan konflik di seluruh dunia?” kata al-Ghoul, merujuk pada niat Trump yang dinyatakan bahwa dewan tersebut tidak akan terbatas pada Gaza tetapi akan diperluas untuk campur tangan dalam menyelesaikan perselisihan internasional lainnya.

Banyak warga Gaza yang sebelumnya menaruh harapan pada konferensi donor internasional tapi tak memiliki hasil nyata. Mereka pun merasa skeptis terhadap janji-janji Trump tersebut.

Al-Ghoul mengatakan dia tidak yakin bahwa seluruh dana tersebut akan sepenuhnya disalurkan ke Gaza.

“Sebagian kecil akan dialokasikan ke Gaza, dan sisanya akan menjadi biaya administrasi dan gaji mewah untuk pejabat tinggi dan presiden. Sebagian kecil akan sampai ke Gaza agar mereka dapat mengatakan bahwa mereka mendukung Gaza dan membenarkan kelanjutan klub mewah mereka yang disebut Dewan Perdamaian," katanya.

“Jadi proyek ini gagal sejak awal dan visinya tidak jelas, seperti kegagalan yayasan distribusi bantuan yang didirikan Amerika setahun lalu, yang menjadi jebakan maut bagi ribuan orang," sambungnya.

Sementara soal rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian internasional ke Gaza, dia menegaskan pasukan itu harus bertindak sebagai pencegah terhadap serangan Israel yang berkelanjutan.

"Seperti UNIFIL di Lebanon. Saya tidak membayangkan Israel akan menyerang pasukan yang dibentuk oleh Dewan Perdamaian yang dikelola oleh Trump,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Jamal Abu Mukhda dari Deir el-Balah. Dia meyakini Dewan Perdamaian dan keputusannya hanyalah kebohongan untuk konsumsi media.

“Mereka tidak akan melakukan apa pun untuk Gaza. Itu semua bohong,” kata pria berusia 66 tahun itu kepada Al Jazeera di Deir el-Balah.

Menurutnya, apa pun yang disetujui Israel pasti tidak akan menguntungkan bagi warga Palestina. Menurutnya, Dewan Perdamaian hanya scenario Trump dan Israel.

“Trump, bersama dengan Israel, ingin menggunakan Dewan Perdamaian untuk memaksakan keputusan mereka kepada dunia dengan kekerasan. Ini tentang kekuasaan, kendali, dan dominasi, tanpa menghiraukan negara-negara yang lebih lemah seperti kita,” tambahnya.

FOTO: Anak Anak Kemabli Menjadi Korban Terbaru Serangan Israel  di Gaza
Seorang kerabat membawa jenazah Mira al-Khabbaz, bayi berusia enam bulan yang dilaporkan tewas akibat serangan Israel, keluar dari Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, Rabu (04/02/2026). AFP/ Omar Al-Qattaa

Selama dua tahun terakhir, rencana rekonstruksi telah dibahas setelah setiap kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Namun, pembatasan Israel terhadap masuknya bahan bangunan telah menghambat implementasi penuh dari janji-janji tersebut.

Dia juga menegaskan, bagaimana bisa Dewan Perdamaian dipercaya sementara di dalamnya ada Israel yang menjadi anggota.

“Bahkan jika dewan memutuskan untuk membangun kembali Gaza, ini tidak mungkin dan tidak akan terjadi. Kita sudah mendengar ini berkali-kali dan tidak ada yang terjadi,” tambahnya.

“Bagaimana kita bisa mempercayai dewan perdamaian yang anggotanya adalah Israel? Merekalah yang membunuh kita, menghancurkan kita, dan melakukan genosida,” tegasnya.

Ia juga menyatakan keprihatinannya tentang desakan Trump dan Israel untuk melucuti senjata Hamas. Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, Hamas diharuskan menyerahkan senjatanya.

“Tujuan utama mereka adalah melucuti senjata Hamas agar kita tenggelam dalam perselisihan internal dan sipil,” tambahnya.

Dia mengatakan bahwa dia melihat pembicaraan tentang perdamaian sebagai sesuatu yang menyesatkan, merujuk pada pelanggaran yang terus berlanjut di Tepi Barat yang diduduki, termasuk penghancuran rumah dan properti Palestina, perluasan permukiman, dan pembatasan kehidupan normal, di samping tragedi yang semakin mendalam di Gaza.

"Tidak ada optimisme dalam keputusan Amerika. Ini hanya omong kosong media," tegasnya.

FOTO: Tangis Keluarga Iringi 25 Warga Sipil Tewas di Jalur Gaza
Warga Palestina melaksanakan salat jenazah di samping jenazah orang-orang yang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel, di Khan Yunis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (31/01/2026). AFP/ Bashar Taleb

Terlepas dari pembicaraan tentang stabilitas dan perdamaian, pengumuman Dewan Perdamaian tidak mencakup keputusan konkret apa pun tentang rekonstruksi di Gaza atau infrastrukturnya yang hancur selama dua tahun perang.

Menurut al-Ghoul, rekonstruksi bukanlah prioritas jika Israel terus melanggar gencatan senjata.

“Rekonstruksi tidak ada gunanya jika tangan Israel terus menghancurkan dan membunuh. Apa gunanya membangun kembali sementara Israel terus menghancurkan?” katanya.

“Tuntutan saya adalah untuk kembali ke lingkungan saya di Rafah, yang telah diduduki selama satu setengah tahun… meskipun hanya di dalam tenda,” kata al-Ghoul.

“Yang terpenting adalah tentara mundur dan kita kembali ke tempat kita masing-masing,” sambungnya.

Abu Makhdeh meringkas tuntutannya sebagai keinginan agar negara-negara yang berkumpul dalam Dewan Perdamaian memberi keadilan bagi Gaza.

“Kami sudah lelah. Mereka harus menunjukkan belas kasihan. Kami menuntut apa yang terbaik untuk rakyat kami, untuk hidup damai dan diberikan kehidupan sederhana dengan hak dasar kami atas keselamatan,” ujarnya.

Rekomendasi