Jaguar Kurus Kering di Ragunan Ternyata Bernama Jalu, Usianya Sudah Tua Renta
Publik dihebohkan dengan sebuah video viral yang menampilkan seekor jaguar kurus dan lemas di Ragunan.
Sebuah video unggahan akun TikTok @billa1717 memicu keprihatinan publik. Dalam video berdurasi 32 detik itu, terlihat seekor jaguar (Panthera onca) di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, tampak berjalan dengan tubuh kurus dan langkah sempoyongan.
“Ko kasian si. Kurus banget. Kaya sempoyongan gitu,” demikian bunyi keterangan dalam video yang dikutip pada Kamis (24/7/2025).
Sejak diunggah enam hari lalu, video tersebut menuai perhatian besar dari warganet. Hingga Kamis, unggahan itu telah mengumpulkan lebih dari 6.100 komentar dan disukai oleh 51.900 akun TikTok. Banyak di antara mereka yang mengungkapkan rasa prihatin terhadap kondisi satwa tersebut.
Menanggapi viralnya video tersebut, pihak Taman Margasatwa Ragunan memberikan klarifikasi. Kepala Humas Ragunan, Wahyudi Bambang, memastikan bahwa jaguar dalam video itu memang merupakan koleksi resmi Ragunan dan diberi nama ‘Jalu’.
“Video tersebut mengundang perhatian warganet. Sayangnya, tidak sedikit yang langsung mengambil kesimpulan tanpa memahami konteks sebenarnya,” ujar Wahyudi dalam pernyataan tertulis.
Wahyudi menjelaskan bahwa Jalu bukanlah jaguar muda. Satwa itu telah menjadi bagian dari Ragunan sejak 2007, saat berusia 4 tahun. Kini, di usianya yang ke-22, Jalu sudah melewati usia rata-rata jaguar di alam liar yang biasanya hanya hidup hingga 12–15 tahun.
Menurut Wahyudi, jaguar yang hidup di bawah pengawasan lembaga konservasi seperti Ragunan umumnya dapat bertahan hingga usia 20 tahun, dan Jalu bahkan telah melewati angka itu.
“Ini adalah pencapaian yang menunjukkan bahwa perawatan satwa di Taman Margasatwa Ragunan dilakukan secara serius, konsisten, dan berbasis kesejahteraan satwa (animal welfare),” jelasnya.
Wahyudi menekankan bahwa perubahan fisik dan perilaku pada satwa lansia merupakan hal yang alami. Gerakan menjadi lamban, stamina menurun, serta postur tubuh yang tampak mengecil bukan berarti satwa tersebut sakit atau diabaikan.
“Justru kami memastikan bahwa satwa-satwa senior seperti Jalu tetap mendapat haknya untuk beraktivitas; berjalan, berjemur, berenang, hingga memanjat, sebagai bentuk stimulasi fisik dan mental yang penting bagi kualitas hidup mereka,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa keputusan menempatkan Jalu di kandang peragaan telah melalui pertimbangan matang. Ragunan memandang bahwa seluruh satwa—baik yang muda maupun tua—berhak untuk tetap dikenali, dilihat, dan dihargai keberadaannya oleh publik.
Wahyudi merujuk pada unggahan Instagram Ragunan pada 26 Juni 2023, yang memperlihatkan proses pemotongan kuku Jalu sebagai bagian dari perawatan rutin. Selain itu, Jalu juga menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh (medical check-up), program enrichment untuk menstimulasi perilaku alaminya, dan mendapat asupan makanan bergizi sesuai kebutuhan usia.
Pihak Ragunan berharap masyarakat tidak tergesa menilai kondisi satwa hanya dari tampilan luar semata.
“Tidak semua yang tampak kurus berarti sakit. Tidak semua yang tampak pelan berarti lemah. Mari kita belajar melihat lebih dalam sebelum membuat penilaian,” ungkap Wahyudi.
Meski begitu, Wahyudi menyampaikan apresiasi atas kepedulian masyarakat. Ia menyebut bahwa Ragunan terbuka terhadap masukan dan terus berkomitmen untuk memperbaiki diri.
“Tapi satu hal yang pasti: kami berdiri di sini demi satwa, sejak mereka muda hingga tua,” pungkasnya.