Cepatnya dunia digital, mau tidak mau mengharuskan para UMKM untuk bisa menguasai teknologi. Jika tidak, tentunya kesempatan untuk tumbuh menjadi besar sangat minim. Namun ternyata, berdasarkan pandangan CEO Zahir Muhamad Ismail, UMKM saat ini cenderung mau memperlajari digital.
"Anggota UMKM saat ini sudah kekinian kok, sudah mau belajar dan mulai beralih ke digital. Sebagai contoh, pesan ojek aja saat ini sudah digital, masa iya untuk urusan bisnisnya mereka masih manual," jelasnya kepada merdeka.com melalui keterangan resmi, Senin (16/4).
Terlebih, kata dia, pemerintah terus mendorong digitalisasi terhadap semua sektor industri. Hal ini bertujuan agar pelaku usaha mampu bersaing dalam menghadapi era digitalisasi industri. Zahir, sebagai perusahaan yang bergerak di software keuangan bisnis pun menangkap peluang ini melalui produk barunya, Zahir Simply.
"Memang saat ini pelaku bisnis dituntut untuk bisa mengikuti zaman. Hal ini yang mendorong kami untuk memberikan ide baru agar nantinya setiap pelaku usaha tidak lagi khawatir bisnisnya berantakan," ujarnya.
Produk yang baru saja diperkenalkannya itu, difokuskan untuk membantu usaha kecil mengelola keuangan dengan mudah. Aplikasi Zahir Simply lahir sebagai solusi atas masalah pelaporan keuangan yang dihadapi oleh UMKM.
Karena pasar yang disasar adalah UMKM, Zahir Simply ini dibanderol dengan harga Rp 99 ribu per bulan. Namun, aplikasi ini diberikan secara gratis dan bisa digunakan selama 1 tahun untuk semua anggota UMKM yang sudah bekerja sama dengan Zahir.
Perlu diketahui, Zahir bukanlah perusahaan berbasis teknologi yang baru lahir. Sejak era teknologi aplikasi belum pada titik booming saat ini, Zahir sudah lebih dahulu memulainya. Kurang lebih sudah 22 tahun pengalaman Zahir dalam melayani aplikasi bisnis keuangan.
Produk karya anak bangsa ini, sudah digunakan oleh puluhan ribu perusahaan termasuk diantaranya Traveloka, Recapital Insurance, Bukalapak, Cardig, Perumnas, Baba Rafi dan Wika. Selain itu, Zahir juga telah menembus pasar global melalui jaringannya di Malaysia, Australia dan Singapura. Di Indonesia, Zahir telah hadir di lebih dari 40 kota dan digunakan di lebih dari 70 universitas dan institusi pendidikan ternama di Indonesia.