Eks Direktur WHO Ungkap Asal-usul Nama Virus Nipah, Ternyata Berawal dari Desa di Malaysia

Virus Nipah kembali menjadi sorotan karena tingkat kematiannya yang tinggi serta kemampuannya untuk menyebar dari hewan ke manusia, bahkan antar manusia.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Eks Direktur WHO Ungkap Asal-usul Nama Virus Nipah, Ternyata Berawal dari Desa di Malaysia
Eks Direktur WHO Ungkap Asal-usul Nama Virus Nipah, Ternyata Berawal dari Desa di Malaysia (Merdeka.com)

Virus Nipah kembali menjadi sorotan karena tingkat kematiannya yang tinggi serta kemampuannya untuk menyebar dari hewan ke manusia, bahkan antar manusia. Meskipun di Indonesia belum ada laporan kasus, risiko tetap ada mengingat kelelawar pemakan buah yang menjadi pembawa virus ini tersebar luas di Asia, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Virus Nipah pertama kali terdeteksi pada tahun 1999 saat terjadi wabah di Malaysia dan Singapura. Pada waktu itu, ratusan orang terinfeksi setelah virus ditularkan dari babi yang sebelumnya terjangkit dari kelelawar.

Sejak saat itu, beberapa negara seperti Bangladesh, India, dan Filipina melaporkan wabah serupa dengan pola penularan virus Nipah yang bervariasi, sebagaimana dikutip dari CDC pada Rabu, 4 Februari 2026.

Asal Mula Nama Virus Nipah

Adjunct Professor Griffith University, Tjandra Yoga Aditama menceritakan asal nama penyakit virus nipah yang kini ramai diperbincangkan masyarakat tersebut. Menurut Tjandra, nama virus itu bukan berasal dari India.

"Kita dan juga dunia mengikuti dengan waspada perkembangan penyakit akibat Virus Nipah, yang pada saat ini kasusnya ada di India. Tentu nama virus ini, Nipah, bukanlah bahasa India, ini adalah bahasa Melayu yang kita kenal bersama,” kata Tjandra dalam keterangan resmi dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (6/2).



Klaster Pertama di Malaysia

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologinya secara lengkap, klaster kumpulan kasus dari virus itu sebenarnya bermula pada di akhir September 1998 di dekat kota Ipoh negara bagian Perak.

Sesudah itu, klaster kelompok kasus kedua terjadi dekat kota Sikamat di negara bagian Negri Sembilan pada Desember 1998 dan Januari 1999. Pada waktu klaster pertama dan kedua ini penyakitnya belum dikenal, bahkan mulanya diduga sebagai sebagai penyakit “Japanese Encephalitis (JE)”.

Penyakit ini tadinya diduga sebagai penyakit Hendra, dan ini sesuai dengan tulisan di jurnal ilmiah Morbidity Mortality Weekly Report (MMWR) berjudul “Outbreak of Hendra-Like Virus—Malaysia and Singapore, 1998–1999” yang terbit pada bulan April 1999.

Sampai kemudian terjadi klaster ketiga, di mana waktu itu menjadi wabah yang paling besar, di kampung Sungai Nipah dan Bukit Pelandok dan sekitarnya, daerah Port Dickson di negara bagian Negeri Sembilan yang bermula pada bulan Desember tahun 1998.

Kampung Sungai Nipah kemudian terkena lockdown oleh pemerintah setempat. Dari data di kampung Sungai Nipah inilah kemudian dilakukan penelitian mendalam dan sampai pada kesimpulan bahwa penyakit baru ini disebabkan oleh virus baru, yang diberi nama virus Nipah.

“Buku Nipah Virus Infection terbitan WHO Southeast Asia Regional Office (SEARO) tahun 2008 juga menyebutkan bahwa penamaan virus ini menunjukkan pada desa di Malaysia di mana virus ini resmi ditemukan ,” ujar Tjandra.



Mutasi Virus Nipah

Pria yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Mantan Kabalitbangkes itu melanjutkan bahwa awal mulanya penyakit itu diduga adalah Japanese Encephalitis (JE) karena memang pasiennya mengalami radang otak atau ensefalitis, baik kasus JE maupun kasus virus Nipah.

Penyakit ini awalnya diduga penyakit Hendra karena memang gejalanya mirip dan asal usul virusnya berdekatan, dan akhirnya virus nipah bersama-sama dengan virus Hendra (Hev) membentuk gen virus baru yang diberi nama Henipavirus (Hendra + Nipah), yang termasuk dalam familia virus Paramyxoviridae.



Rekomendasi