Eks Direktur Penyakit Menular WHO Bicara Proses Uji Keamanan Makanan, Mirip Vaksin untuk Cegah Keracunan

Produksi dan distribusi pangan wajib menjamin kualitas serta keamanan produk sebelum sampai ke tangan konsumen.

Rafa Dahayu Amandya
Oleh Rafa Dahayu Amandya - Reporter
Eks Direktur Penyakit Menular WHO Bicara Proses Uji Keamanan Makanan, Mirip Vaksin untuk Cegah Keracunan
Makanan tidak hanya harus bergizi dan enak, tetapi juga harus aman dikonsumsi. Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan prinsip-prinsip makanan yang aman sebagai salah satu upaya menanggulan (© 2025 Liputan6.com)

Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menjelaskan bahwa keracunan makanan tidak selalu disebabkan oleh bahan masakan yang berkualitas rendah. Ia menyatakan bahwa faktor kontaminasi dan penularan penyakit juga dapat menjadi penyebab utama terjadinya keracunan makanan.

Menurutnya, mencuci tangan saja tidak cukup untuk mencegah keracunan, sehingga penting untuk memperhatikan proses produksi hingga distribusi makanan secara ketat. Bahkan, ia menyarankan agar dilakukan uji klinis seperti pada vaksin untuk memastikan keamanan produk.

"Sebelum dipakai, ini keluar dulu uji klinis satu, dua, tiga, empat. Uji klinis satu sama dua tuh apabila efek dan dosis enggak aman, proses berhenti. Begitu juga makanan, harus aman," ujar Tjandra dalam talkshow 'Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa Melalui MBG' pada Kamis (23/10.

Tjandra menambahkan bahwa sistem Penyelidikan Epidemiologi (PE) dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah keracunan. Meskipun umumnya digunakan untuk penyakit menular, dia berpendapat bahwa keracunan memiliki kesamaan dan dapat dideteksi melalui PE.

Eks Direktur Penyakit Menular WHO ini menegaskan bahwa dalam produksi makanan, tidak hanya rasa dan kandungan gizi yang harus diutamakan, tetapi juga prinsip-prinsip dasar keamanan makanan yang harus dipenuhi.

"Ini yang harus disadari semua orang. Prinsip dasar makanan itu harus aman. Tentu dia harus bergizi, harus enak, tapi kalau enggak aman? Jangan dimakan," tegas Tjandra.

Prof. Tjandra: Uji Keamanan Makanan Harus seperti Vaksin untuk Cegah Keracunan
Makanan tidak hanya harus bergizi dan enak, tetapi juga harus aman dikonsumsi. Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan prinsip-prinsip makanan yang aman sebagai salah satu upaya menanggulan © 2025 Liputan6.com

Tjandra menjelaskan beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan untuk memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi aman. Beberapa prinsip tersebut antara lain:

  1. Menjaga kandungan gizi agar tujuan kesehatan dapat tercapai.
  2. Meningkatkan komunikasi antara SPPG (Satuan Pendidikan dan Pelayanan Gizi) dengan institusi pendidikan.
  3. Menerapkan pendekatan PE untuk menyelidiki keberadaan mikroorganisme, bahan kimia, serta sistem dan prosedur dalam produksi makanan.
  4. Melakukan penanganan klinis dan psikologis yang melibatkan interaksi sosial.
  5. Melaksanakan pemantauan untuk Continuous Quality Improvement (perbaikan mutu yang berkelanjutan).
  6. Melakukan survei kepuasan dan penelitian kohort sebagai dasar Evidence-Based Public Policy.

Ketika terjadi kasus keracunan, beliau menekankan bahwa ada dua aspek penting yang perlu diteliti, yaitu proses yang menyebabkan terjadinya keracunan dan data laporan terkait kasus tersebut. Contohnya, jika ditemukan adanya Salmonella dalam makanan, penting untuk menyelidiki bagaimana bakteri tersebut bisa muncul serta apakah terdapat laporan kasus serupa dalam program MBG.

Selain itu, penerapan prinsip-prinsip ini tidak hanya bertujuan untuk mencegah terjadinya keracunan, tetapi juga membantu mengurangi trauma yang dialami orang tua dari anak-anak yang menjadi korban. Dengan demikian, langkah-langkah ini juga berfungsi untuk mencegah terjadinya infodemik atau penyebaran informasi yang berlebihan di masyarakat.

Pada acara tersebut, Tjandra menyampaikan tiga rekomendasi terkait evaluasi program MBG. Rekomendasi ini disusun untuk mengurangi risiko keracunan pada anak-anak di Indonesia.

Usulan pertama, melakukan evaluasi terhadap insiden keracunan serta langkah-langkah pencegahannya di masa depan. Dari perspektif epidemiologi, ia menyatakan bahwa 12 ribu kasus keracunan merupakan angka yang signifikan dan dapat dianalisis untuk mencegah terulangnya kasus serupa di kemudian hari.

Usulan kedua, menilai status gizi dari makanan yang disajikan. Hal ini mencakup prinsip-prinsip gizi dan kesehatan, serta melakukan survei ilmiah untuk menilai dampaknya.

Tjandra menekankan pentingnya menjamin kualitas gizi agar survei dapat memberikan hasil yang optimal. Terakhir, evaluasi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan pelaksanaan program yang lebih baik. Dia percaya bahwa evaluasi terhadap kasus keracunan dapat membantu menganalisis berbagai faktor yang berpotensi menjadi penyebabnya.

"Jadi 3 evaluasi, evaluasi keracunan. Evaluasi-evaluasi ini membuka berbagai opsi yang mungkin saja bisa jadi," pungkasnya.

Rekomendasi