Stroke merupakan kondisi medis yang sangat serius, terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat. Meskipun sering kali terjadi pada orang tua, stroke juga bisa menyerang individu yang lebih muda, bahkan mereka yang belum mencapai usia 45 tahun.
Penyebab stroke pada generasi muda pun berbeda dibandingkan dengan yang terjadi pada lansia. Dr. Decsa Medika Hertanto, seorang internist konsultan ginjal hipertensi, berbagi pengalamannya dalam menangani kasus stroke di usia muda dan menjelaskan berbagai faktor yang dapat memicu kondisi ini
Berikut ulasan lengkapnya seperti yang dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber, Rabu(12/2/2025).
Advertisement
Apa saja faktor yang menyebabkan stroke pada usia muda?
1. Hipertensi yang Tidak Terkontrol
Menurut dr. Decsa, tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama yang dapat menyebabkan stroke. Banyak individu yang mengabaikan kondisi hipertensi meskipun mereka sudah menyadari adanya masalah ini. Jika tidak ditangani dengan serius, hipertensi bisa berakibat fatal, seperti pecahnya pembuluh darah di otak yang dapat memicu terjadinya stroke.
2. Konsumsi Garam dan Gula Berlebih
Pola makan yang mengandung garam dan gula dalam jumlah tinggi berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko hipertensi dan diabetes, yang keduanya dapat memicu stroke. Makanan olahan, junk food, serta minuman manis sering kali menjadi penyebab yang diabaikan oleh banyak orang. "Dan, ini bukan hal aneh lagi, karena usia muda sekarang rentan banget dari perubahan gaya hidup. Makan tinggi garam dan gula," katanya.
3. Faktor Genetik
Jika seseorang memiliki riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes, atau gangguan kardiovaskular, maka kemungkinan terkena stroke di usia muda akan meningkat. Kombinasi faktor genetik dengan gaya hidup yang tidak sehat dapat memperburuk risiko tersebut.
4. Kurangnya Aktivitas Fisik
Gaya hidup yang kurang aktif atau sedentari dapat meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, dan berbagai penyakit metabolik lain yang berkontribusi pada stroke. Oleh karena itu, melakukan olahraga secara teratur sangat penting untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
5. Kurangnya Waktu Istirahat
Kualitas tidur yang rendah juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke. Tidur yang tidak cukup dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, meningkatkan inflamasi dalam tubuh, serta memperburuk kondisi metabolik yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke.
Advertisement
Apa saja langkah-langkah untuk mencegah stroke pada usia muda?
Meskipun ada faktor genetik yang dapat meningkatkan risiko stroke, banyak faktor lain yang dapat dikelola melalui perubahan dalam gaya hidup.
Oleh karena itu, menerapkan pola hidup sehat menjadi sangat penting untuk menurunkan kemungkinan terjadinya stroke di kalangan usia muda. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah stroke:
- Hindari Merokok: Merokok merupakan salah satu penyebab utama berbagai penyakit, termasuk stroke. Oleh karena itu, berhenti merokok adalah langkah krusial untuk menjaga kesehatan.
- Batasi Konsumsi Alkohol: Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan kerusakan pada pembuluh darah. Sebaiknya, batasi konsumsi alkohol atau hindari sama sekali.
- Pola Makan Sehat: Penting untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya akan buah, sayur, dan serat. Batasi juga makanan yang tinggi lemak jenuh, kolesterol, dan garam.
- Aktif Bergerak: Lakukanlah olahraga secara teratur minimal 30 menit setiap hari. Aktivitas fisik dapat membantu menjaga berat badan yang sehat, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan kesehatan jantung.
- Kelola Stres: Stres dapat berkontribusi pada peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, penting untuk menemukan cara-cara untuk mengelola stres, seperti melalui yoga, meditasi, atau menghabiskan waktu di alam.
- Pantau Kesehatan: Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksi faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes sedini mungkin.
"Kurang olahraga, pola makan tinggi lemak dan gula, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol di kalangan usia muda. Ini yang membuat kecenderungan usia muda lebih banyak (stroke) pada akhir-akhir ini," ungkap Dokter Spesialis Saraf, Dodik Tugasworo, dalam sebuah diskusi media pada Oktober 2024.
Selain itu, tingkat stres juga memiliki peran yang signifikan. Menurut Dodik, adanya iklim kompetisi yang tinggi di kalangan usia muda dapat memicu gangguan tidur, yang pada gilirannya meningkatkan risiko terjadinya stroke.
Advertisement
Apakah stroke dapat terjadi kembali?
Dodik menekankan bahwa mengalami stroke sekali tidak menjamin seseorang akan terhindar dari serangan berikutnya. Oleh karena itu, pencegahan untuk mencegah stroke kedua atau yang dikenal dengan secondary stroke prevention sangatlah krusial. "Jangan sampai terkena stroke kedua. Pencegahan stroke sekunder itu sangat penting. Jika terkena stroke kedua, untuk kembali pulih dari disabilitas akan lebih sulit," ujarnya.
Dia juga mengingatkan pasien yang telah sembuh dari stroke pertama agar tidak merasa aman dan melupakan langkah-langkah pencegahan. Hal ini penting karena stroke dapat menyerang kembali jika tidak diantisipasi dengan baik. Bahkan, serangan stroke dapat terjadi hingga dua, tiga, atau bahkan empat kali pada individu yang sama.
"Jika sudah mengalami serangan stroke pertama, jaga kondisi dengan baik agar tidak terkena stroke kedua, apalagi ketiga atau keempat. Semakin sering terkena serangan, semakin sulit untuk pulih dari disabilitas," tegasnya.
Selain itu, Dodik juga menambahkan bahwa ada beberapa faktor medis lain yang dapat meningkatkan risiko stroke pada usia muda, seperti penyakit genetik, hipertensi, diabetes, dislipidemia, dan obesitas. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari dan mengelola faktor-faktor risiko ini agar dapat mengurangi kemungkinan terjadinya stroke di masa depan.
Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan menerapkan gaya hidup sehat, kita dapat menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya stroke. Kesadaran dan pengetahuan mengenai pencegahan stroke sangat penting agar masyarakat dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melindungi diri mereka sendiri dari risiko yang lebih besar.
Advertisement
Kasus Stroke di Usia Muda: Peringatan Serius
Dalam sebuah postingan di akun Instagramnya, dr. Decsa menceritakan tentang seorang pria berusia 32 tahun yang bekerja sebagai buruh dan menjadi tulang punggung keluarganya dengan tiga anak. Pria ini mengalami stroke akibat tekanan darah tinggi yang tidak diobati.
Tragisnya, pasien tersebut sudah menyadari bahwa ia memiliki tekanan darah tinggi, tetapi memilih untuk mengabaikannya hingga berakibat fatal. Kasus serupa juga dialami oleh seorang wanita berusia 29 tahun yang mengalami stroke dan kehilangan pekerjaannya karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk.
Fenomena ini menunjukkan bahwa stroke di usia muda bukanlah hal yang jarang terjadi, terutama dengan adanya perubahan gaya hidup modern yang cenderung tidak sehat.