Overparenting Mungkin Terjadi saat Mengasuh Anak, Ketahui Ciri-ciri serta Akibatnya pada Anak

Orangtua perlu mengenali ciri apakah mereka melakukan overparenting serta mengenali gejalanya.

Mochamad Rizal Ahba Ohorella
Overparenting Mungkin Terjadi saat Mengasuh Anak, Ketahui Ciri-ciri serta Akibatnya pada Anak
Gaya asuh orangtua memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap perkembangan tumbuh kembang anak. (Foto: Freepik/bearfotos) (© 2024 Liputan6.com)

Overparenting, yang sering dikenal sebagai pengasuhan yang berlebihan, merupakan suatu kondisi di mana orang tua terlalu aktif terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka. Biasanya, ini dilakukan dengan niat baik untuk melindungi dan memastikan keberhasilan anak.

Namun, keterlibatan yang berlebihan ini dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak. Orang tua yang melakukan overparenting cenderung mengambil alih tanggung jawab anak, membuat keputusan untuk mereka, serta mengatur setiap aspek kehidupan anak, mulai dari pendidikan hingga interaksi sosial.

Meskipun niatnya positif, tindakan ini dapat menghalangi anak untuk belajar mandiri dan mengembangkan keterampilan penting yang diperlukan di masa depan. Tanda-tanda overparenting bisa bervariasi, tetapi beberapa ciri umum meliputi kecenderungan orang tua untuk selalu mengawasi dan mengontrol aktivitas anak, melindungi anak dari situasi yang bisa menyebabkan kegagalan atau kekecewaan, serta mengambil alih tugas yang seharusnya bisa dilakukan oleh anak. Untuk informasi lebih lanjut, simak laporan yang dihimpun oleh Liputan6.com dari berbagai sumber pada Rabu (2/10/2024).

Memahami Overparenting, Tanda-Tanda dan Dampaknya pada Anak
Gaya asuh orangtua memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap perkembangan tumbuh kembang anak. (Foto: Freepik/bearfotos) © 2024 Liputan6.com

1. Memaksa anak untuk memenuhi harapan orangtua

Overparenting terlihat dari seringnya orangtua bertentangan dengan pilihan anak. Contohnya, terkait makanan yang mereka konsumsi, pakaian yang mereka pilih, atau teman-teman yang mereka dekati. Sikap ini dapat menghalangi anak dalam membangun kemandirian yang diperlukan.

2. Mengawasi setiap aspek kehidupan anak

Memantau semua hal yang berkaitan dengan anak adalah ciri lain dari overparenting. Seringkali, orangtua beranggapan bahwa hanya ada satu "metode terbaik" untuk melakukan segala sesuatunya, yang dapat menyebabkan mereka terlalu mengontrol setiap langkah anak. Misalnya, jika orangtua sulit melepaskan kontrol dan tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba hal-hal baru, seperti memilih pakaian yang berbeda atau menyusun mainan dengan cara yang kreatif, ini bisa menjadi indikasi perilaku overparenting.

3. Tidak membiarkan anak mengalami kegagalan

Kegagalan merupakan bagian penting dalam perjalanan menuju keberhasilan. Jika anak mengalami kegagalan dan orangtua segera turun tangan untuk membantu, mereka tidak akan mendapatkan pelajaran dari kesalahan tersebut. Sebaiknya, orangtua memberikan arahan ketika anak menghadapi kesulitan, sehingga anak dapat mengasah keterampilan memecahkan masalah. Ketidakmampuan orangtua untuk membiarkan anak gagal adalah tanda dari overparenting.

4. Terlalu khawatir

Rasa cemas yang berlebihan dapat menghalangi anak Anda untuk menikmati, belajar, tumbuh, dan mengeksplorasi diri serta kehidupannya dengan cara yang sehat. Jika Anda tidak memperlakukan anak sebagai individu yang cerdas, Anda mungkin menghambat mereka dalam mencapai potensi terbaiknya. Ini merupakan salah satu tanda dari overparenting.

Memahami Overparenting, Tanda-Tanda dan Dampaknya pada Anak
Gaya asuh orangtua memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap perkembangan tumbuh kembang anak. (Foto: Freepik/bearfotos) © 2024 Liputan6.com

Sering kali, niat baik menjadi penyebab pola asuh yang berlebihan. Namun, hal ini dapat menimbulkan beberapa dampak negatif yang memengaruhi kehidupan anak. Berikut adalah penjelasannya:

1. Keterampilan pemecahan masalah yang tidak berkembang

Anak-anak yang terlalu dilindungi biasanya kurang memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah. Mereka mungkin mengandalkan cara-cara yang tidak sehat untuk mengatasi stres, seperti mengalihkan perhatian atau berkhayal. Ketika orang tua terlalu sering campur tangan dan mencari solusi untuk anak, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah secara mandiri. Akibatnya, saat dewasa, anak mungkin masih tergantung pada orang tua dan tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menghadapi tantangan di masa depan.

2. Pengaruh terhadap kesehatan mental

Ketika orang tua berlebihan dalam menghindari risiko dan membatasi aktivitas anak demi keselamatan, anak dapat mengalami gejala depresi dan kecemasan. Keterampilan maladaptif yang mereka kembangkan, seperti menarik diri dan menginternalisasi masalah, dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan di masa dewasa.

3. Penurunan rasa percaya diri

Pola asuh yang responsif dapat meningkatkan harga diri anak, tetapi pola asuh yang berlebihan justru berkaitan dengan persepsi diri yang rendah dan kurangnya keyakinan pada kemampuan diri, yang berdampak negatif pada prestasi akademis. Ketika orang tua terlalu terlibat, anak bisa meragukan kemampuan mereka sendiri. Hal ini dapat menyebabkan anak mengembangkan pandangan negatif terhadap diri mereka, seperti meragukan kemampuan dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah, prestasi akademis yang kurang baik, dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kampus.

4. Ketergantungan pada orang lain

Berdasarkan penelitian, siswa yang memiliki orang tua yang terlalu terlibat lebih cenderung bergantung pada orang lain untuk menemukan solusi daripada mengambil tanggung jawab atas diri mereka sendiri. Mereka mungkin merasa tidak mampu menyelesaikan tugas dan tujuan mereka sendiri. Akibatnya, mereka menjadi terlalu bergantung pada bantuan orang lain dan tidak mengambil tanggung jawab dalam pekerjaan mereka.

5. Kecenderungan narsisme yang meningkat

Ketika anak-anak terlalu dimanjakan oleh orang tua yang memberikan kepuasan berlebihan, mereka mungkin merasa berhak dan terus menuntut perlakuan serupa saat dewasa. Jika orang tua terlalu responsif dengan cara yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak, maka anak-anak tersebut lebih mungkin mengembangkan sifat narsistik secara patologis. Dalam sebuah studi longitudinal yang berlangsung selama 20 tahun, para peneliti menemukan bahwa pola asuh yang berlebihan memiliki dampak langsung pada perkembangan narsisme di kalangan orang dewasa muda.

Rekomendasi