Pensiun di Usia 70 Tahun: Mungkinkah Kurangi Risiko Post-Power Syndrome? Ini Faktanya
Benarkah pensiun di usia 70 tahun dapat mengurangi risiko post-power syndrome? Simak faktanya dan faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan..
Post-power syndrome (PPS) adalah kondisi psikologis yang sering menghantui seseorang setelah kehilangan jabatan atau peran penting, terutama saat pensiun. Muncul pertanyaan, apakah pensiun di usia 70 tahun bisa mengurangi risiko sindrom ini? Usia pensiun yang lebih tua memberikan waktu lebih banyak untuk persiapan, namun apakah ini cukup untuk menangkal PPS?
Pensiun adalah babak baru dalam kehidupan, tetapi bagi banyak orang yang pernah memegang kuasa—seperti pejabat tinggi, manajer, atau pemimpin komunitas—momen ini bisa terasa seperti kehilangan. Post-power syndrome, istilah yang menggambarkan rasa kehilangan identitas dan pengaruh setelah pensiun, sering menghantui mereka yang terbiasa dihormati dan berkuasa. Di Indonesia, di mana status sosial dan gengsi sangat dihargai, fenomena ini menjadi tantangan besar. Pertanyaannya, apakah menunda pensiun hingga usia lebih tua, seperti 70 tahun, dapat meredakan post-power syndrome? Atau justru memperburuknya?
Apa Itu Post-Power Syndrome?
Bayangkan seorang direktur yang setiap hari disapa dengan hormat, diundang ke acara-acara penting, dan memiliki pengaruh besar di tempat kerja. Ketika pensiun tiba, tiba-tiba semua itu lenyap. Ia tidak lagi dipanggil “Bapak Direktur,” undangan berkurang, dan rasa berharga yang terkait dengan jabatan pun memudar. Inilah yang disebut post-power syndrome. Menurut Psychology Today, kondisi ini ditandai dengan rasa kehilangan identitas, kecemasan, atau depresi akibat hilangnya otoritas dan status (Schaie, 2018).
Di Indonesia, post-power syndrome sering dialami oleh pensiunan pegawai negeri, eksekutif perusahaan, atau tokoh masyarakat. Budaya yang menekankan hierarki dan gengsi membuat kehilangan status terasa seperti kehilangan diri. Misalnya, seorang pensiunan kepala dinas mungkin merasa malu jika tidak lagi dianggap penting di lingkungannya, terutama di acara keluarga besar atau komunitas lokal.
Budaya Indonesia yang kental dengan nilai hierarki dan gengsi memperburuk post-power syndrome. Seorang pensiunan pejabat tinggi, misalnya, mungkin merasa kehilangan “muka” ketika tidak lagi dipanggil dengan gelar resminya. Di lingkungan perkotaan, seperti Jakarta atau Surabaya, tekanan untuk mempertahankan gaya hidup mewah pasca-pensiun sering memicu stres finansial. Di pedesaan, pensiunan tokoh masyarakat mungkin merasa kehilangan peran ketika tidak lagi dimintai pendapat dalam keputusan komunitas.
Keterbatasan sistem jaminan pensiun di Indonesia juga memperumit masalah. Menurut The World Bank, hanya 20% pekerja memiliki akses ke program pensiun formal, sehingga banyak lansia terpaksa bekerja hingga usia 70 tahun atau lebih (World Bank, 2022). Namun, bekerja karena kebutuhan, bukan keinginan, dapat meningkatkan stres dan rasa tidak berdaya, yang justru memperburuk post-power syndrome ketika pensiun tiba.
Hubungan Usia Pensiun dan Post-Power Syndrome
Apakah menunda pensiun hingga usia 70 tahun dapat mengurangi post-power syndrome? Secara intuitif, bekerja lebih lama tampaknya memberikan keuntungan. Dengan tetap bekerja, seseorang dapat mempertahankan rasa tujuan, rutinitas, dan koneksi sosial yang terkait dengan pekerjaan. Penelitian dari Journal of Occupational Health Psychology mendukung gagasan ini, menemukan bahwa individu yang bekerja hingga usia lanjut, terutama dalam pekerjaan yang bermakna, melaporkan tingkat depresi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang pensiun dini (Zhan et al., 2017). Misalnya, seorang profesor yang terus mengajar paruh waktu hingga usia 70 tahun mungkin merasa tetap relevan dan dihargai, yang mengurangi risiko post-power syndrome.
Namun, bekerja hingga usia 70 tahun bukanlah solusi ajaib. Pekerjaan yang menuntut fisik atau mental, seperti manajer yang bekerja 60 jam seminggu, dapat meningkatkan stres dan memperburuk kesehatan. Penelitian dari The Lancet Public Health menunjukkan bahwa pekerja usia lanjut dengan jam kerja panjang berisiko lebih tinggi untuk penyakit jantung dan stroke, yang dapat memengaruhi kesehatan mental (Kivimäki et al., 2020). Di Indonesia, banyak lansia di sektor informal, seperti pedagang atau supir, terus bekerja karena kebutuhan finansial, bukan pilihan. Tanpa persiapan untuk pensiun, mereka tetap rentan terhadap post-power syndrome ketika akhirnya berhenti.
Dampak Post-Power Syndrome
Post-power syndrome bukan hanya soal perasaan sedih. Kondisi ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik. Penelitian dari Journal of Gerontology menemukan bahwa pensiunan yang kehilangan identitas terkait pekerjaan berisiko lebih tinggi untuk depresi dan kecemasan (Ferrucci et al., 2019). Di Indonesia, ini terlihat pada pensiunan yang menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa malu dengan kehilangan status.
Secara fisik, stres akibat post-power syndrome dapat memengaruhi kesehatan jantung dan sistem imun. Menurut American Heart Association, stres kronis meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan tidur, yang umum dialami lansia pasca-pensiun. Selain itu, post-power syndrome dapat merusak hubungan keluarga. Seorang pensiunan mungkin menjadi mudah marah atau menuntut perhatian berlebihan dari keluarga untuk menggantikan kehilangan status, yang dapat memicu konflik.
Strategi Mengatasi Post-Power Syndrome
Untuk mengurangi post-power syndrome, baik pada usia pensiun 60 maupun 70 tahun, berikut adalah langkah-langkah praktis yang relevan dengan konteks Indonesia:
Pertama, rencanakan pensiun sejak dini. Mulailah memikirkan kegiatan pasca-pensiun, seperti hobi atau peran baru di komunitas, jauh sebelum pensiun tiba. Misalnya, seorang pensiunan dapat menjadi relawan di masjid atau mengajar anak-anak di lingkungannya.
Kedua, kembangkan identitas di luar pekerjaan. Jangan biarkan jabatan menjadi satu-satunya sumber harga diri. Di Indonesia, menjadi anggota aktif dalam kelompok pengajian atau arisan dapat memberikan rasa berharga baru.
Ketiga, jaga kesehatan fisik dan mental. Olahraga ringan, seperti berjalan kaki atau senam lansia, dan aktivitas yang merangsang otak, seperti membaca atau bermain catur, dapat menjaga kesejahteraan. Penelitian dari American Heart Association menegaskan bahwa aktivitas fisik mengurangi stres kronis.
Keempat, bangun dukungan sosial. Koneksi dengan keluarga dan komunitas sangat penting. Di Indonesia, mengikuti kegiatan seperti kerja bakti atau acara keagamaan dapat mempertahankan hubungan sosial.
Kelima, pertimbangkan pekerjaan paruh waktu. Bekerja paruh waktu, seperti menjadi konsultan atau mentor, dapat membantu menjaga rasa tujuan tanpa tekanan pekerjaan penuh waktu. Ini sangat cocok bagi pensiunan di Indonesia yang ingin tetap aktif.
Intinya, usia pensiun 70 tahun bukanlah jaminan untuk terhindar dari post-power syndrome. Kunci utama untuk mengurangi risiko PPS adalah persiapan pensiun yang matang, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta mempertahankan hubungan sosial yang kuat, terlepas dari usia pensiun.