Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan kesiapannya untuk mengganti seluruh “food tray” atau ompreng yang digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keputusan ini akan diambil apabila produk impor tersebut terbukti mengandung minyak babi, sebuah isu yang kini menjadi sorotan publik.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pihaknya sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh ompreng yang telah didistribusikan. Proses investigasi ini melibatkan koordinasi erat dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan kebenaran dugaan tersebut.
Dugaan adanya kandungan minyak babi ini mencuat setelah laporan investigasi dari sebuah media, yang menimbulkan kekhawatiran luas di masyarakat. BGN berkomitmen untuk bertindak tegas demi menjaga keamanan dan kehalalan pangan bagi penerima manfaat program MBG.
Advertisement
Advertisement
Badan Gizi Nasional (BGN) secara serius menanggapi dugaan adanya kandungan minyak babi pada ompreng yang digunakan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan komitmen untuk mengganti seluruh "food tray" tersebut apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya kontaminasi. Proses verifikasi ini dilakukan secara cermat dan mendalam.
Penelusuran mengenai kandungan minyak hewani babi yang diduga berfungsi sebagai pelumas pada ompreng MBG sedang berlangsung intensif. BGN tidak bekerja sendiri dalam investigasi ini. Mereka melibatkan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan hasil yang akurat dan komprehensif.
Dadan Hindayana menekankan pentingnya proses "cek dan ricek" untuk memverifikasi kebenaran laporan yang beredar. Meskipun ompreng tersebut telah digunakan, BGN tetap bertekad untuk memastikan keamanan dan kehalalan produk yang disalurkan kepada masyarakat. Transparansi menjadi prioritas utama dalam penanganan isu ini.
Advertisement
Advertisement
Isu mengenai dugaan kandungan minyak babi pada ompreng MBG ini pertama kali mencuat melalui laporan investigasi dari Indonesia Business Post. Publikasi tersebut melakukan penelusuran di wilayah Chaoshan, Provinsi Guangdong, China, yang diidentifikasi sebagai lokasi dugaan importir ompreng untuk program di Indonesia. Laporan ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang.
Tim investigasi Indonesia Business Post menemukan sekitar 30 hingga 40 pabrik di Chaoshan yang memproduksi wadah makanan untuk pasar global. Salah satu temuan krusial dalam laporan tersebut adalah dugaan praktik pemalsuan label "Made in Indonesia" dan logo SNI pada ompreng yang sebenarnya diproduksi di China. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai legalitas dan standar produk.
Selain itu, laporan tersebut juga mengklaim adanya penggunaan ompreng tipe 201 yang diduga mengandung mangan (logam berwarna putih keabu-abuan) tinggi, sehingga tidak cocok untuk wadah makanan asam. Yang paling mengkhawatirkan adalah indikasi penggunaan minyak babi atau lard dalam proses produksi ompreng tersebut. Temuan ini menjadi dasar penyelidikan lebih lanjut oleh BGN dan kementerian terkait.
Advertisement
Advertisement
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa seluruh proses pengadaan dan pembelian ompreng untuk program MBG dilakukan oleh mitra atau vendor. Ia menegaskan bahwa Badan Gizi Nasional sendiri belum melakukan pembelian satu pun ompreng tersebut secara langsung. Pernyataan ini bertujuan untuk memperjelas rantai pasok dan tanggung jawab dalam pengadaan barang.
Meskipun demikian, BGN tetap bertanggung jawab untuk memastikan bahwa produk yang digunakan dalam program MBG memenuhi standar keamanan dan kehalalan. Oleh karena itu, BGN akan melakukan pengecekan menyeluruh terhadap semua ompreng yang telah didistribusikan melalui mitra. Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap program pemerintah.
Di tengah isu ini, Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah mengambil langkah proaktif dengan menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 9369:2025. SNI ini mengatur spesifikasi wadah bersekat dari baja tahan karat untuk makanan, khususnya untuk mendukung Program MBG. BSN menegaskan bahwa tidak semua jenis baja tahan karat cocok sebagai wadah makanan, melainkan ada spesifikasi khusus yang harus dipenuhi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews