Survei Ungkap Hanya 43% Gen Z Percaya Pancasila, DPR Dorong Revolusi Mental untuk Pembumian Pancasila di Era Kekinian

Wakil Ketua Komisi II DPR Aria Bima menyerukan revolusi mental untuk Pembumian Pancasila di era 2025, menyikapi rendahnya kepercayaan generasi muda terhadap ideologi negara dan tantangan globalisasi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Survei Ungkap Hanya 43% Gen Z Percaya Pancasila, DPR Dorong Revolusi Mental untuk Pembumian Pancasila di Era Kekinian
Wakil Ketua Komisi II DPR Aria Bima menyerukan revolusi mental untuk Pembumian Pancasila di era 2025, menyikapi rendahnya kepercayaan generasi muda terhadap ideologi negara dan tantangan globalisasi. (Merdeka.com)

Wakil Ketua Komisi II DPR, Aria Bima, menyatakan pentingnya revolusi mental dalam upaya Pembumian Pancasila di era kekinian 2025. Pernyataan ini disampaikan dalam sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan bersama anak-anak muda Yogyakarta pada Sabtu di Wisma Santikara.

Aria Bima menekankan bahwa Pembumian Pancasila harus berfokus pada 'nation and character building' serta pembangunan inklusif yang berpusat pada manusia. Hal ini menjadi krusial di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi digital, serta meningkatnya tantangan intoleransi dan disintegrasi bangsa.

Langkah ini diperlukan untuk mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi negara yang dinamis dan relevan bagi generasi muda. Tujuannya adalah memastikan nilai-nilai kebangsaan tetap menjadi fondasi utama peradaban Indonesia di masa depan.

Pentingnya Revolusi Mental dan Nation Building

Aria Bima menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal penting yang harus diwujudkan dalam upaya Pembumian Pancasila. Ini termasuk mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi negara yang dinamis dan memperjuangkan kepribadian dalam kebudayaan.

Selain itu, penting juga untuk berdikari dalam perekonomian dan meneguhkan negara hukum berdasarkan Pancasila. Ia menambahkan, "Pembumian Pancasila di era kekinian 2025 menekankan perlunya revolusi mental, 'nation and character building', serta strategi pembangunan inklusif yang berpusat pada manusia (people centered development)."

Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kohesi sosial masyarakat dan menjaga kedaulatan politik serta pertahanan nasional. Semua elemen ini merupakan bagian integral dari strategi pembangunan bangsa yang berkelanjutan.

Pancasila sebagai Ideologi Dinamis di Tengah Tantangan Zaman

Pancasila kembali diteguhkan sebagai ideologi bangsa yang relevan di tengah berbagai tantangan global. Arus globalisasi, disrupsi digital, serta peningkatan intoleransi dan disintegrasi menjadi latar belakang pentingnya penguatan ideologi ini.

Buku "Pembumian Pancasila di Era Kekinian 2025" yang disistematisasi oleh Aria Bima, hadir untuk menghadirkan refleksi historis dan strategi aktual. Tujuannya adalah meneguhkan kembali Pancasila sebagai ideologi kerja bangsa yang adaptif.

Sejarah mencatat, "sejak pidato Ir Soekarno pada 1 Juni 1945 di sidang BPUPK, Pancasila dirumuskan sebagai dasar negara yang komprehensif, konstruktif, dan sistematis," ujar Aria Bima. Perjalanan bangsa, dari Piagam Jakarta hingga reformasi, menunjukkan Pancasila senantiasa menjadi penuntun dinamis.

Pancasila bukan hanya dasar falsafah, melainkan 'living ideology' yang harus dihidupi dalam keseharian. Ideologi ini perlu diperjuangkan dalam kebijakan dan menjadi bintang penuntun bagi pembangunan nasional di segala bidang.

Tantangan Generasi Muda dan Strategi Penanaman Nilai

Sebuah survei Harian Kompas pada 2014–2016 menunjukkan data yang mengkhawatirkan mengenai pandangan generasi muda terhadap Pancasila. Hanya 43 persen generasi muda yang percaya pada Pancasila, dan 48 persen yang yakin NKRI akan tetap utuh.

"Angka ini menjadi peringatan serius akan perlunya strategi baru dalam menanamkan nilai Pancasila, terutama bagi generasi milenial dan Gen Z yang menjadi penentu masa depan bangsa," tegas Aria Bima. Data ini mengindikasikan urgensi untuk pendekatan yang lebih efektif.

Buku "Pembumian Pancasila di Era Kekinian 2025" hadir untuk mengingatkan kembali bahwa nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi, dan ketuhanan tetap menjadi fondasi utama peradaban bangsa Indonesia. Buku ini diharapkan menjadi panduan praktis.

"Buku Pembumian Pancasila di Era Kekinian 2025 tidak hanya menjadi catatan reflektif, tetapi juga panduan praktis dalam menghidupkan kembali Pancasila di tengah tantangan zaman, sekaligus mengikat generasi muda agar tetap teguh pada identitas kebangsaan," pungkasnya. Ini adalah upaya nyata untuk menjaga identitas bangsa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi