Anggota DPR Dorong Perluasan Edukasi Politik Perkotaan, Bidik Peningkatan Partisipasi Pemilih 2029

Anggota Komisi II DPR RI Rycko Menoza mendesak perluasan edukasi politik di perkotaan untuk meningkatkan partisipasi pemilih, terutama generasi muda, menyusul rendahnya angka di Bandarlampung.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Anggota DPR Dorong Perluasan Edukasi Politik Perkotaan, Bidik Peningkatan Partisipasi Pemilih 2029
Anggota Komisi II DPR RI Rycko Menoza mendesak perluasan edukasi politik di perkotaan untuk meningkatkan partisipasi pemilih, terutama generasi muda, menyusul rendahnya angka di Bandarlampung. (AntaraNews)

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Rycko Menoza, mendorong perluasan edukasi politik di kawasan perkotaan. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi pemilih, khususnya dari kalangan generasi muda dan pemilih pemula. Inisiatif ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026 di Bandarlampung.

Menurut Rycko, dinamika pemilih di ibu kota provinsi, yang memiliki konsentrasi sekolah dan lembaga pendidikan tinggi, belum sepenuhnya berkorelasi dengan antusiasme penggunaan hak pilih. Partisipasi masyarakat di wilayah urban masih memerlukan peningkatan signifikan. Hal ini menjadi fokus utama dalam upaya menyukseskan Pemilu 2029 mendatang.

Program pendidikan pemilih berkelanjutan ini diharapkan menjadi instrumen penting. Tujuannya agar generasi muda dan pemilih pemula memperoleh wawasan baru serta tidak lagi apatis terhadap proses demokrasi. Edukasi ini diharapkan dapat mengatasi berbagai faktor penyebab rendahnya partisipasi pemilih.

Pentingnya Edukasi Politik di Wilayah Urban

Rycko Menoza menyoroti pentingnya memperluas jangkauan edukasi politik di kawasan perkotaan. Ia menggarisbawahi bahwa meskipun perkotaan memiliki konsentrasi tinggi lembaga pendidikan, hal ini tidak selalu berarti partisipasi pemilih yang tinggi. Justru, masih ada celah besar yang perlu diisi melalui program-program edukasi yang efektif.

Tingginya konsentrasi sekolah dan universitas di perkotaan seharusnya menjadi modal untuk meningkatkan kesadaran politik. Namun, data menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat, terutama pemilih pemula, dalam menggunakan hak pilih masih perlu didorong. Edukasi politik berkelanjutan menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan ini.

Melalui kegiatan sosialisasi seperti Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026, diharapkan generasi muda dan pemilih pemula dapat memperoleh pemahaman komprehensif. Pemahaman ini mencakup pentingnya pemilu bagi keberlanjutan pembangunan. Tujuannya adalah agar mereka tidak lagi asing atau bahkan apatis terhadap pesta demokrasi.

Studi Kasus: Rendahnya Partisipasi Pemilih di Bandarlampung

Kondisi rendahnya partisipasi pemilih di perkotaan terlihat jelas di Kota Bandarlampung. Kota ini mencatat tingkat partisipasi yang relatif rendah pada Pemilu dan Pilkada 2024. Angka ini menjadi perhatian serius bagi anggota dewan dan penyelenggara pemilu.

Berdasarkan data penyelenggara pemilu, tingkat partisipasi masyarakat Kota Bandarlampung pada Pemilu 2024 berkisar 74-75 persen. Angka ini merupakan yang terendah di antara 15 kabupaten dan kota di Provinsi Lampung. Rata-rata partisipasi di Lampung sendiri mencapai 80,64 persen.

Situasi semakin memprihatinkan pada Pilkada 2024, di mana partisipasi pemilih di Bandarlampung turun drastis menjadi 52,04 persen. Dari total 786.182 daftar pemilih tetap (DPT), hanya 409.093 pemilih yang menggunakan hak pilihnya. Capaian ini menempatkan Bandarlampung pada posisi terendah di Provinsi Lampung dan termasuk daerah dengan tingkat partisipasi pemilih terendah secara nasional.

Faktor Penyebab dan Harapan untuk Pemilu 2029

Rycko Menoza mengidentifikasi beberapa faktor penyebab rendahnya partisipasi pemilih di kawasan perkotaan. Faktor-faktor tersebut meliputi tingginya angka pemilih apatis atau golongan putih (golput), minimnya efektivitas pola sosialisasi yang ada, serta kendala kesibukan kerja. Selain itu, persepsi kritis masyarakat terhadap dinamika kontestasi politik lokal juga turut berperan.

Program sosialisasi pendidikan pemilih yang dilaksanakan secara berkelanjutan sejak tahun 2026 diarahkan untuk satu tujuan utama. Tujuan tersebut adalah meningkatkan partisipasi pemilih pemula pada Pemilu 2029. Pendekatan ini diharapkan dapat menyasar akar permasalahan yang menyebabkan rendahnya angka partisipasi.

Rycko berharap bahwa dengan bekal pemahaman utuh mengenai pentingnya pemilu, pemilih pemula akan lebih aktif menggunakan hak pilihnya. Ia optimistis target peningkatan partisipasi pemilih pada Pemilu 2029 dapat tercapai. Ini jika sejak awal mereka telah dibekali pengertian yang komprehensif tentang keberlanjutan pembangunan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi