Mengapa Solok Dilanda Banjir Bandang saat Wilayah Lain Kekeringan?

Saat sejumlah wilayah Indonesia menghadapi kekeringan, Solok malah diterjang banjir bandang. Ternyata, musim kemarau tak selalu berarti langit bebas dari hujan ekstrem.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Mengapa Solok Dilanda Banjir Bandang saat Wilayah Lain Kekeringan?
Material banjir bandang berupa lumpur yang menutupi halaman masjid di sekitar kompleks perkantoran bupati Solok (Dok: Antara)

Sebagian wilayah Indonesia saat ini masih berada dalam musim kemarau. Namun, kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Hujan lebat justru mengguyur wilayah tersebut hingga memicu banjir bandang pada Senin (21/9) malam.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Hujan dengan intensitas tersebut kemudian memicu banjir bandang sekitar pukul 23.00 WIB.

Mengapa banjir bandang bisa terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau?

Bagaimana hujan melanda Solok saat wilayah lain kemarau?

Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Sumatera Barat terkena material banjir bandang (Istimewa)
Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Sumatera Barat terkena material banjir bandang (Istimewa)

Musim kemarau tidak berarti suatu wilayah akan benar-benar terbebas dari hujan.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, secara klimatologis sebagian besar wilayah Indonesia memang masih didominasi musim kemarau. Namun, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan munculnya hujan ekstrem secara lokal.

Menurut Daryono, sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Meski begitu, dinamika atmosfer tertentu tetap dapat memicu pembentukan awan hujan di wilayah tertentu.

Artinya, kondisi kemarau bisa berlangsung secara umum dalam satu wilayah atau kawasan, tetapi hujan deras tetap dapat turun di lokasi tertentu dalam waktu singkat.

Apa yang membuat Solok dilanda hujan lebat?

Salah satu faktor yang membuat hujan ekstrem tetap dapat muncul saat musim kemarau adalah adanya gangguan atmosfer.

Daryono menyebut pertemuan atau perlambatan angin dapat membuat uap air terkumpul di suatu wilayah. Kondisi tersebut kemudian mendukung pertumbuhan awan konvektif yang menghasilkan hujan deras.

Fenomena seperti ini membuat kondisi cuaca antarwilayah bisa sangat berbeda. Ketika satu daerah mengalami cuaca panas dan kering, daerah lain tidak jauh dari sana dapat mengalami hujan dengan intensitas tinggi.

Di mana letak geografis Solok?

Hujan lebat bukan satu-satunya faktor yang membuat Solok mengalami banjir bandang.

Secara geografis, wilayah Solok berada di kawasan Bukit Barisan yang memiliki topografi bergunung dan daerah aliran sungai (DAS) dengan sejumlah lereng curam.

Ketika hujan deras turun, kondisi tersebut membuat air lebih cepat menjadi limpasan permukaan. Air kemudian dapat mengalir dengan deras dari wilayah yang lebih tinggi menuju daerah yang lebih rendah.

Jika aliran air membawa material seperti lumpur dan material lainnya, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi galodo atau banjir bandang.

Mengapa Solok banjir bandang saat wilayah lain kekeringan?

Kasus Solok menunjukkan bahwa musim kemarau secara umum tidak otomatis membuat seluruh wilayah Indonesia kering tanpa hujan.

Ada perbedaan antara kondisi iklim secara regional dan cuaca yang terjadi secara lokal.

Secara regional, Indonesia masih banyak berada dalam musim kemarau. Namun, dinamika atmosfer dapat memicu hujan ekstrem di lokasi tertentu. Di Solok, hujan lebat tersebut kemudian bertemu dengan kondisi topografi wilayah yang membuat aliran air lebih cepat dan kuat.

BMKG sendiri mencatat Solok sebagai salah satu wilayah yang mengalami hujan lebat dan banjir pada 21 September 2026. BMKG juga mengingatkan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Barat, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat dalam sepekan ke depan.

Musim kemarau bukan berarti ancaman banjir otomatis hilang. Hujan ekstrem yang terjadi secara lokal tetap dapat muncul dan menimbulkan bencana, terutama di wilayah dengan kondisi geografis yang mendukung terbentuknya aliran deras.

Rekomendasi