Tim mahasiswa dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Jember (Unej) telah mengambil langkah proaktif dalam upaya mitigasi bencana Gunung Ijen. Mereka mengembangkan pendekatan komprehensif yang menggabungkan analisis spasial dengan kekayaan kearifan lokal masyarakat.
Riset ini dipimpin oleh Hikmal Akbar Ibnu Sabil dan dibimbing oleh Igor Aviezena Eris. Fokus penelitian adalah kerawanan bencana, kerentanan sosial, dan kearifan lokal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Ijen yang meliputi tiga kabupaten: Bondowoso, Banyuwangi, dan Situbondo.
Sebagai mahasiswa di bidang perencanaan, Hikmal Akbar Ibnu Sabil menyatakan, "Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi upaya mitigasi bencana berbasis data spasial, tanpa menghilangkan nilai sosial di masyarakat." Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan strategi mitigasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Pendekatan Inovatif: Spasial dan Sosial dalam Mitigasi Bencana Ijen
Riset mitigasi bencana Gunung Ijen ini dirancang secara komprehensif melalui lima kegiatan utama yang mengombinasikan metode sosial dan teknologi modern. Tahap awal melibatkan pendekatan data spasial dari institusi di ketiga kabupaten yang menjadi fokus penelitian.
Data tersebut diolah untuk menghasilkan basis data kerentanan yang akurat secara geografis. Proses ini memungkinkan pemetaan desa-desa dengan tingkat kerentanan sosial tinggi terhadap potensi bencana Gunung Ijen.
Tahap berikutnya adalah survei primer mendalam di desa-desa yang berada pada kategori KRB III dan KRB II. Contoh desa yang disurvei meliputi Sumber Rejo, Kali Gedang, dan Kalianyar, yang sebelumnya pernah terdampak semburan gas beracun.
Advertisement
Tim juga mengintegrasikan teknologi modern, seperti pengambilan citra menggunakan drone dan pencatatan data spasial menggunakan GPS handheld. Teknologi ini diterapkan baik di desa terdampak maupun di kawasan Kawah Ijen untuk mendapatkan data yang presisi.
Advertisement
Menggali Kekuatan Kearifan Lokal di Kaki Gunung Ijen
Hasil riset yang dilakukan oleh mahasiswa Unej menemukan bahwa masyarakat setempat, meskipun tinggal di kawasan berisiko tinggi, justru membangun sistem sosial dan pengetahuan lokal yang kuat. Sistem ini berfungsi sebagai benteng alami dalam menghadapi potensi bencana Gunung Ijen.
Kearifan lokal tersebut terwujud dalam bentuk fisik maupun nilai-nilai sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Contoh kearifan lokal bentuk benda tampak pada pola permukiman Kolonial (Afdeling) yang terkelompok rapi dengan lapangan yang berfungsi ganda sebagai titik kumpul evakuasi.
Selain itu, Tata Guna Lahan Adaptif seperti ladang, kebun kopi, dan pekarangan produktif mencerminkan pengetahuan ekologis masyarakat. Pengetahuan ini sangat adaptif terhadap sumber daya yang terbatas di kawasan tersebut.
Advertisement
Kearifan lokal non-benda yang menguatkan solidaritas dan ketenangan kolektif meliputi tradisi spiritual dan sosial. Beberapa di antaranya adalah Rokat Bhumi Ijen, Rokat Bersih Desa, dan Rokat Molong Kopi, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Kesenian Singo Ulung dan ritual selametan di Kawah Ijen juga berfungsi sebagai mekanisme psikologis untuk menghadapi ketidakpastian bencana. Tradisi ini menciptakan rasa aman melalui gotong royong dan doa bersama di tengah masyarakat.
Advertisement
Harapan dan Kontribusi Nyata untuk Kesiapsiagaan Bencana Ijen
Hasil dari penelitian inovatif ini menghasilkan luaran yang dapat dimanfaatkan langsung dalam upaya mitigasi bencana dan peningkatan ketangguhan sosial masyarakat Gunung Ijen. Penemuan ini diharapkan dapat menjadi panduan praktis bagi pemerintah daerah dan komunitas.
Melalui pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2025, riset ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi pengembangan strategi mitigasi yang lebih inklusif. Pendekatan ini akan memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat terlibat dalam upaya kesiapsiagaan.
Pada akhirnya, tujuan utama dari penelitian ini adalah agar masyarakat di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Ijen lebih siap menghadapi potensi bahaya letusan di masa mendatang. Kesiapsiagaan yang baik akan meminimalkan dampak negatif dari bencana alam.
Advertisement
Sumber: AntaraNews