Tahukah Anda? Dindik Jatim Evaluasi Program Double Track SMA Agar Lulusan Siap Kerja dan Wirausaha
Dinas Pendidikan Jatim terus mengevaluasi Program Double Track SMA bersama ITS dan sekolah pelaksana untuk memastikan relevansi, membekali siswa dengan keterampilan abad 21 dan kewirausahaan.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Dindik Jatim) baru-baru ini melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap Program Double Track SMA. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan sejumlah sekolah pelaksana di wilayah setempat. Monev tersebut bertujuan untuk memastikan program ini tetap relevan dan sesuai dengan kebutuhan zaman yang terus berkembang.
Program Double Track SMA hadir sebagai solusi strategis bagi para lulusan SMA yang memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Sebaliknya, program ini membekali mereka dengan keterampilan praktis agar siap memasuki dunia kerja atau memulai usaha mandiri. Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa program ini merupakan jawaban atas tantangan masa depan.
Kegiatan monev yang berlangsung di Surabaya ini juga meninjau langsung berbagai produk dan praktik keterampilan yang dihasilkan oleh siswa. Dindik Jatim berupaya keras agar program yang telah berjalan sejak tahun 2018 ini dapat terus memberikan dampak positif. Fokus utamanya adalah membekali siswa dengan keterampilan praktis, jiwa kewirausahaan, serta kemampuan hidup yang esensial.
Fondasi Kuat Program Double Track SMA
Program Double Track SMA memiliki tiga nilai strategis yang menjadi kunci utama dalam pembentukan karakter dan keterampilan siswa. Nilai-nilai ini meliputi penguatan kewirausahaan, pembekalan life skill abad ke-21, serta penguatan karakter dan kemandirian. Keterampilan abad ke-21 yang diajarkan mencakup komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan pemecahan masalah.
Dalam pelaksanaannya, keterampilan yang paling dominan diajarkan kepada murid sangat beragam dan relevan dengan pasar kerja. Beberapa di antaranya adalah multimedia, teknik listrik, teknik elektro, tata boga, tata busana, kecantikan, dan teknik kendaraan ringan. Keterampilan-keterampilan ini dirancang tidak hanya untuk menyiapkan lulusan agar diterima di dunia usaha dan dunia industri (DUDI), tetapi juga untuk membekali mereka agar mampu berwirausaha secara mandiri.
Aries Agung Paewai menekankan pentingnya menumbuhkan jiwa entrepreneurship agar lulusan tangguh dalam pasar industri. "Menumbuhkan entrepreneurship, agar mereka bisa tangguh dalam pasar industri," ujarnya. Ia menambahkan bahwa keterampilan yang bersifat jasa akan lebih dibutuhkan pasar, seperti tata boga, yang memungkinkan pembukaan usaha dengan modal relatif kecil dan berpotensi membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Implementasi dan Dampak Nyata di Lapangan
Dampak positif dari Program Double Track SMA sudah mulai terlihat di kalangan pelajar. Dalam monev tersebut, Dindik Jatim meninjau langsung produk-produk hasil praktik siswa mulai dari tata rias, tata boga, hingga teknik kendaraan. Beberapa pelajar bahkan telah berhasil menerapkan keterampilan yang mereka peroleh dalam kehidupan nyata.
Sebagai contoh, ada siswa yang sudah membuka jasa rias kecantikan secara mandiri, menunjukkan kemandirian dan jiwa wirausaha. Tidak hanya itu, beberapa siswa di bidang teknik kendaraan juga telah berani membuka bengkel pribadi. Ini membuktikan bahwa pembekalan keterampilan praktis mampu mendorong kemandirian ekonomi sejak dini.
Untuk memastikan program ini terus berjalan sesuai harapan dan memberikan dampak maksimal, kolaborasi menjadi kunci utama. Dindik Jatim bekerja sama dengan ITS dalam menyiapkan kurikulum yang relevan, menyelenggarakan pelatihan bagi guru, serta memberikan pendampingan berkelanjutan kepada sekolah-sekolah pelaksana. Selain itu, Dindik Jatim juga memastikan adanya kebijakan yang mendukung, pembinaan yang intensif, dan dukungan anggaran yang memadai.
Komitmen Penguatan dan Masa Depan Program
Dinas Pendidikan Jatim berkomitmen penuh untuk terus menguatkan Program Double Track SMA agar semakin adaptif dan inovatif. Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Jatim, Suhartatik, menyatakan bahwa penguatan akan dilakukan melalui beberapa strategi. Ini termasuk digitalisasi pembelajaran dan pemasaran produk, diversifikasi keterampilan sesuai perkembangan zaman seperti teknologi informasi, animasi, dan wirausaha digital.
Penguatan kerja sama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) juga menjadi prioritas melalui program teaching factory dan magang. "Secara keseluruhan, 12 sekolah peserta monev melibatkan mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri dengan jumlah antara tiga hingga 10 mitra per sekolah," kata Suhartatik. Keterlibatan DUDI ini sangat krusial untuk memastikan relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri.
Monev tersebut diikuti oleh 12 SMA pelaksana program yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur. Sekolah-sekolah tersebut antara lain SMAN 1 Rejotangan, SMAN 1 Kalidawir, SMAN 1 Campurdarat, SMAN 1 Karangan, SMAN 2 Karangan, SMAN 1 Tugu, SMAN 1 Bendungan, SMAN 1 Pule, SMAN 1 Dongko, SMAN 1 Panggul, SMAN 1 Munjungan, dan SMAN 1 Kampak. Keterlibatan aktif dari sekolah-sekolah ini menjadi tulang punggung keberhasilan program.
Sumber: AntaraNews