Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan pembangunan dua hingga tiga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mempercepat penanganan Sampah Jakarta yang mencapai 9.000 ton per hari.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut langkah ini mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 yang diterbitkan Presiden Prabowo Subianto.
"Mudah-mudahan di Jakarta akan ada dua pembangkit listrik tenaga sampah atau tiga yang segera dibangun dalam waktu dekat ini," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Ia menegaskan pembangunan fasilitas tersebut berjalan dengan payung hukum yang jelas.
"Karena kita ketahui bersama, Jakarta setiap hari memproduksi sampahnya 9.000 ton, tetapi kita segera akan membangun atas Perpres yang sudah dikeluarkan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia 109," ucap dia.
Menurut Pramono, PLTSa yang disiapkan ditargetkan mampu mengolah sekitar 7.000 ton sampah per hari. Kapasitas ini diharapkan membantu menyeimbangkan neraca sampah di ibu kota.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah tidak hanya bertumpu pada PLTSa. Pemprov DKI tetap mengoperasikan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, memperluas pemilahan sampah, serta mendorong penerapan TPR 3S.
"Kemudian kita masih ada RDF Rorotan dan beberapa kegiatan pilah sampah dan juga TPR 3S yang sedang kita galakkan dan mudah-mudahan ini persoalan sampah di Jakarta segera bisa diselesaikan," katanya.
Advertisement
Pengurangan Sampah Jakarta
Sebelumnya, Pramono menargetkan pengurangan signifikan volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang, dengan sasaran neraca sampah Jakarta minimal seimbang pada 2028–2029.
"Mudah-mudahan di tahun 2028-2029 paling akhir, neraca sampah di Jakarta sudah bisa imbanglah minimal, atau bahkan mungkin sudah mulai negatif," kata Pramono di Jakarta, dikutip Selasa (27/10/2026).
Saat ini, ia memperkirakan sampah yang masuk ke Bantargebang sekitar 4.000 ton per hari, seiring peningkatan pengolahan melalui TPS 3R dan RDF Rorotan. "Tetapi yang terutama adalah sekarang ini di Bantargebang sendiri mungkin sekitar 4.000-an yang kalau dulu kan semuanya bawa ke Bantargebang," ucap Pramono.
Pramono menyebut percepatan ini ditopang Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 yang mendorong pengembangan TPS 3R, yang kini mencapai hampir 31 titik. "Dulu kita tidak mengembangkan yang disebut dengan TPS 3R secara masif. Sekarang ini TPS 3R yang dulu produksinya katakanlah hanya 10 ton, sekarang rata-rata bisa 50 ton dan sebagainya," kata Pramono.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9313739/original/091784500_1785676003-180113.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9389268/original/099910300_1793702565-PXL_20261103_154703540.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9389218/original/021279700_1793699614-156052.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9366299/original/000619800_1791261298-IMG-20241129-WA0043.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2913249/original/058240300_1568693252-KPK_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4440907/original/073128900_1685002522-IMG_20230525_122507.jpg)