Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta mengungkap penipuan digital sebagai jenis hoaks yang paling sering ditemukan di Ibu Kota. Modusnya mencakup beragam pola yang menargetkan warga melalui berbagai saluran.
Modus yang kerap dipakai antara lain undangan palsu, praktik phishing, hingga penyebaran informasi yang mengatasnamakan pejabat atau sosok tertentu. Diskominfotik menilai pola-pola tersebut perlu diantisipasi bersama.
Selain penipuan digital, hoaks yang berkaitan dengan program pemerintah juga banyak beredar, termasuk isu bantuan sosial (bansos), kesehatan, dan kebencanaan. Temuan ini menjadi perhatian karena berpotensi merugikan masyarakat.
"Kalau dari hasil yang sudah kita koordinasikan, hoaks terbanyak itu saat ini adalah penipuan, seperti undangan palsu, kemudian phishing, dan informasi-informasi lainnya mengatasnamakan pejabat atau orang lain seperti itu. Nah, itu perlu diperangi," kata Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi dalam keterangannya, dikutip Selasa (3/11/2026).
"Yang kedua adalah berita-berita pemerintah seperti bantuan sosial, kesehatan, dan kebencanaan," ucap Marulina.
Pemprov DKI mendorong edukasi literasi digital agar warga lebih waspada membedakan informasi yang benar dan kabar bohong. Upaya tersebut dijalankan melalui kolaborasi perangkat kewilayahan, mulai dari lurah, RT, RW, hingga posyandu, serta menyasar lingkungan sekolah.
"Diskominfotik dalam hal ini Pemprov DKI Jakarta sudah melakukan banyak edukasi bekerja sama dengan lurah, RT, RW, dan juga pos-pos posyandu sekalipun untuk menyampaikan berbagai program pemerintah dan juga mengedukasi warga bagaimana mengantisipasi ini berita benar atau berita palsu, seperti itu," jelas Marulina.
Advertisement
Program Pemprov DKI
Lebih lanjut, Pemprov DKI menyiapkan program Duta Antihoaks untuk memperluas edukasi literasi digital. Para pelajar terpilih akan dilibatkan sebagai mitra dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.
Marulina menilai pendekatan komunikasi anak muda membantu pesan edukasi lebih mudah diterima publik sehingga upaya pencegahan hoaks dapat diperkuat.
"Dengan adanya Adik-adik Duta Antihoaks nanti satu tahun ke depan, mereka menjadi partner dari kami. Kenapa? Karena gaya bicaranya itu tidak lagi seperti gaya government style, tetapi gaya anak muda yang kami yakin mudah untuk diterima oleh masyarakat pada umumnya," tandas Marulina.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4440907/original/073128900_1685002522-IMG_20230525_122507.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9389268/original/099910300_1793702565-PXL_20261103_154703540.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9389218/original/021279700_1793699614-156052.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9366299/original/000619800_1791261298-IMG-20241129-WA0043.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2913249/original/058240300_1568693252-KPK_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9313739/original/091784500_1785676003-180113.jpg)