Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan (Bacadnas Kemhan) memastikan siswa yang mengikuti Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) tidak diwajibkan menjadi prajurit TNI. Penegasan ini disampaikan Kepala Bacadnas Kemhan Letjen TNI Gabriel Lema saat berbicara di SMKN 26 Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Ia menilai generasi muda tumbuh di tengah percepatan teknologi dan dunia digital yang menghadirkan peluang sekaligus tantangan. "Perkembangan tersebut tentunya membuka banyak peluang, sekaligus menuntut kemampuan untuk terus berpikir kritis, bersikap bijak, dan bertanggung jawab," ujar Gabriel.
Gabriel menambahkan pendidikan karakter tidak cukup hanya di ruang kelas, melainkan perlu dibentuk melalui pengalaman dan kebiasaan. "Tentunya pengalaman dan kebiasaan itu dimulai dari kehidupan hari lepas hari atau dalam keseharian. Dalam konteks tersebutlah KKRI diharapkan menjadi wadah pembinaan yang relevan dengan perkembangan zaman," papar Gabriel.
Ia kemudian menegaskan kembali orientasi program. "Saya ingin menegaskan bahwa menjadi anggota Korps Kadet, saya tekankan dan ulangi lagi untuk adik-adik—bukan berarti harus menjadi seorang prajurit, tidak. KKRI adalah wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan tanggung jawab sebagai warga negara," papar dia.
Menurutnya, setiap anak memiliki cita-cita masing-masing dan bisa mengambil nilai dari pembinaan KKRI. "Apa pun cita-cita kelak, nilai-nilai yang diperoleh melalui KKRI ini akan menjadi kekuatan dalam rangka terus Adik-adikku berkarya dan memberikan pengabdian terbaik, tentunya sesuai dengan bidang masing-masing," ucap dia.
Advertisement
Bela Negara dan Peran Korps Kadet di Sekolah
Gabriel mengingatkan bahwa bela negara tidak semata soal pengabdian sebagai prajurit. Bagi pelajar, ia menekankan dimulainya dari hal-hal kecil di lingkungan sehari-hari. "Ingat baik-baik anak-anakku, bela negara mulai dari hal-hal yang sederhana, seperti belajar dengan sungguh-sungguh, disiplin di sekolah, menghormati guru dan menghormati orang tua di rumah," kata dia.
Ia juga menekankan pentingnya merawat persatuan dengan menjaga relasi yang sehat dan menghindari perilaku negatif di sekolah. "Menjauhi perundungan dan hal-hal yang dapat berakibat fatal bagi cara berpikir, berucap, ataupun bertindak," kata dia.
Di era digital saat ini, lanjut Gabriel, penggunaan teknologi perlu dilakukan secara bijak sambil tetap peduli terhadap lingkungan serta sesama. "Dari kebiasaan-kebiasaan sederhana inilah karakter akan terbentuk dan pasti kuat," ucap dia.
Peran Guru, Orang Tua, dan Pembina
Menurut Gabriel, keberhasilan pembinaan melalui KKRI memerlukan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak. "Kepada para guru dan pembina, saya menyampaikan apresiasi atas peran penting yang akan Saudara-saudara jalankan. Tentu sejak tahun 2025 kemarin, proses KKRI ini kami paham betul," ucap dia.
Ia berpesan agar guru dan pembina menjadi teladan serta pendamping yang menumbuhkan semangat, percaya diri, dan kecintaan peserta didik kepada bangsa. Untuk orang tua, ia meminta dukungan agar nilai-nilai yang diperoleh melalui KKRI terus diperkuat di lingkungan keluarga.
Kepada peserta KKRI, Gabriel berpesan agar mengikuti setiap kegiatan dengan sungguh-sungguh. "Khusus kepada adik-adik dan anak-anakku peserta KKRI, ikuti setiap kegiatan dengan semangat dan tentunya dengan rasa tanggung jawab. Jadikan setiap pengalaman sebagai proses untuk belajar dan berkembang, serta setiap kebersamaan sebagai kekuatan untuk membangun persatuan," terang dia.
Gabriel menyampaikan harapannya terhadap peran KKRI bagi generasi muda. "Saya berharap Korps Kadet Republik Indonesia menjadi bagian penting dalam membangun generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman, memiliki karakter kebangsaan yang kuat, dan mampu memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara," tandas Gabriel.