Serangan Ribuan Drone ke Rusia, Ini Peran Rudal Flamingo Ukraina

Ukraina melancarkan lebih dari 1.000 drone ke Rusia pada 20/9/2026. Rudal Flamingo ikut digunakan. Inilah spesifikasi dan rekam jejaknya.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Serangan Ribuan Drone ke Rusia, Ini Peran Rudal Flamingo Ukraina
Para pekerja memeriksa rudal jelajah Flamingo di pabrik rahasia Fire Point di Ukraina pada hari Senin, 18 Agustus 2025. (AP Photo/Efrem Lukatsky)

Ukraina meluncurkan lebih dari 1.000 drone ke wilayah Rusia pada Minggu (20/9/2026), termasuk ratusan yang diarahkan ke Moskow, menurut sejumlah pejabat Rusia. Wali Kota Moskow menyebutnya sebagai serangan drone terbesar yang pernah terjadi terhadap ibu kota. Selain wahana tanpa awak, Kyiv juga mengerahkan rudal buatan dalam negeri, termasuk Flamingo dan Pelican, untuk menghantam fasilitas minyak dan logistik.

Penggunaan Flamingo menyoroti peran rudal jelajah buatan Ukraina itu dalam membangun kemampuan serangan jarak jauh. Dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer dan kapasitas muatan hingga 1.150 kilogram, sistem ini dirancang untuk menargetkan sasaran jauh di dalam wilayah Rusia.

Dikutip dari laman Fire Point Rocket Technology, Senin (21/9/2026), FP-5 Flamingo adalah rudal jelajah bertenaga turbofan yang diproduksi oleh Fire Point, perusahaan rintisan pertahanan asal Ukraina. Flamingo dilaporkan mampu melaju hingga sekitar 900 kilometer per jam, terbang rendah untuk mengurangi peluang terdeteksi radar, serta menggunakan navigasi inersia yang dibantu satelit. Sistem ini juga mulai digunakan dalam peluncuran salvo untuk mengoordinasikan serangan ke beberapa target secara bersamaan.

Pengembangan Flamingo oleh Fire Point dilakukan bersama Kementerian Pertahanan Ukraina setelah invasi besar-besaran Rusia pada 2022. Sebelumnya, Ukraina menerima rudal jelajah seperti Storm Shadow dari negara mitra, namun jumlahnya terbatas dan disertai berbagai pembatasan penggunaan.

Program Flamingo menjadi bagian dari upaya memperluas basis industri pertahanan dalam negeri, termasuk melibatkan perusahaan teknologi skala lebih kecil dan produsen nontradisional. Seiring itu, Ukraina juga mengembangkan drone serang jarak jauh serta rudal balistik jarak pendek, beberapa di antaranya telah matang secara teknis dan digunakan rutin dalam kampanye serangan strategis.

Flamingo pertama kali diluncurkan Ukraina pada Mei 2025 dalam uji coba tempur awal. Penggunaan operasionalnya yang pertama kali dilaporkan secara luas terjadi pada 30 Agustus 2025, ketika rudal tersebut menyerang fasilitas yang terkait dengan Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) di Krimea yang diduduki.

Pada 23 September 2025, empat rudal Flamingo menghantam fasilitas produksi pesawat SKIF-M di Belgorod yang dikaitkan dengan produksi pesawat tempur Rusia. Serangan berikutnya pada 14 November 2025 menggabungkan Flamingo dan drone untuk menarget terminal minyak laut di Krimea, instalasi pertahanan udara, serta sebuah pos komando di wilayah Zaporizhzhia.

Flamingo dan Lonjakan Kapabilitas Serangan Ukraina

Ukraina menunjukkan bahwa ketika sebuah sistem telah mencapai kematangan teknologi, kapasitas produksi bisa ditingkatkan dengan cepat. Pola ini sebelumnya juga terlihat pada perkembangan sektor drone dalam negeri.

Alih-alih menunggu desain sempurna, Ukraina mengoperasikan sistem yang dinilai layak terlebih dahulu, kemudian menyempurnakannya secara bertahap untuk merespons perubahan pertahanan udara Rusia. Serangan terbaru yang melibatkan Flamingo menandakan sistem ini telah memasuki tahap tersebut dan diintegrasikan lebih jauh dalam arsenal serangan jarak jauh.

Di luar skala produksi, investasi asing dan kemitraan teknis disebut berpotensi mempercepat pengembangan jangkauan, sistem pemandu, dan kapasitas manufaktur. Pada akhir 2025, Denmark menyepakati produksi bahan bakar roket padat untuk rudal tersebut melalui anak perusahaan Fire Point di negara itu.

Terbaru, kelompok pertahanan yang terkait dengan pemerintah Uni Emirat Arab, EDGE, dilaporkan menyiapkan akuisisi saham minoritas yang signifikan di Fire Point. Nilai kesepakatan disebut sekitar US$ 760 juta.

Rekomendasi