Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur menjelaskan kronologi penanganan kemunculan orangutan (Pongo pygmaeus) di jalan perlintasan perusahaan wilayah Kabupaten Kutai Timur, viral di media sosial.
"Upaya pencarian dan penanganan orangutan di jalan produksi (hauling) PT SHJ Kecamatan Muara Bengkal, Kutai Timur, sejatinya telah kami lakukan secara intensif sejak Juli 2026," kata Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto di Samarinda, Rabu (16/9), demikian dikutip dari Antara.
Tim gabungan BKSDA Kaltim bersama Centre for Orangutan Protection (COP) dan pihak perusahaan telah menerjunkan personel ke lokasi sejak 20 hingga 24 Juli 2026. Petugas sempat menemukan keberadaan primata dilindungi tersebut pada 22 Juli, namun kendala teknis di lapangan menyebabkan satwa kembali masuk ke hutan.
"Pemantauan udara menggunakan drone pada akhir Juli berhasil mendeteksi keberadaan beberapa sarang orangutan di kawasan bernilai konservasi tinggi," ujar Ari.
Penanganan tahap kedua kembali digencarkan pada 28 hingga 31 Agustus, setelah video kemunculan satwa liar tersebut kembali beredar di media sosial.
Tim gabungan melakukan penyisiran ulang dengan mengumpulkan informasi dari para pengguna jalan, serta menyisir kembali jalur perlintasan armada perusahaan.
"Kemunculan satwa ke sekitar jalan diduga kuat dipicu kondisi musim kemarau yang menyebabkan sejumlah anak sungai di dalam hutan mengering," tutur Ari.
Kondisi kekeringan tersebut memaksa orangutan bergerak keluar kawasan hutan guna mencari sumber air minum serta ketersediaan pakan harian. Sebagai langkah mitigasi, BKSDA Kaltim telah memasang baliho peringatan serta meminta perusahaan menyediakan tandon air di koridor satwa.
"Kami meminta masyarakat dan pengendara yang melintas untuk tidak mendekati, tidak memberi makan, serta tidak mengganggu satwa tersebut," kata Ari.
Ari menyampaikan, sikap bijak pengguna jalan sangat diperlukan guna menghindari interaksi negatif serta menjaga keselamatan satwa langka dari bahaya kecelakaan. Koordinasi secara berkala terus dibangun bersama pengelola kawasan konsesi guna memastikan area ruang gerak alami satwa tetap terpantau secara aman.
"Menjaga keberadaan satwa liar bukan hanya tentang menyelamatkan mereka, melainkan juga memastikan manusia dan orangutan dapat hidup berdampingan secara damai," tegas Ari.
BKSDA Kaltim berkomitmen untuk terus mengawal pemantauan berkala demi menjaga kelestarian populasi orangutan di Kalimantan Timur.