Enam Orangutan Berpacu Menemukan Jalan Pulang

Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membakar kawasan di sekitar habitat mereka, jalan menuju hutan menghilang menjadi persoalan lain yang muncul.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Enam Orangutan Berpacu Menemukan Jalan Pulang
Seekor induk orangutan bersama anaknya saat dievakuasi oleh petugas akibat kebakaran hutan dan lahan di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Kamis, 3 September 2026. (AFP/ Yiari/ kementrian kehutanan)

Asap dan api bukan satu-satunya ancaman bagi orangutan di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membakar kawasan di sekitar habitat mereka, jalan menuju hutan menghilang menjadi persoalan lain yang muncul.

Di tengah lanskap perkebunan warga Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, enam orangutan ditemukan terjebak. Mereka tak lagi memiliki jalur aman untuk kembali ke hutan. Sekitar 200 meter dari lokasi, kobaran api membakar lahan cukup besar. Jalur menuju blok hutan pun terputus.

Bagi satwa yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan dan hutan, terputusnya jalur tersebut berarti harus mencari tempat lain untuk bertahan hidup.

"Mereka bukan hanya terancam ketika api mendekati orangutan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses mereka menuju hutan," kata Direktur Operasional Program Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Argitoe Ranting, Kamis (10/9), demikian dikutip dari Antara.

Dari Kebun ke Kebun

Kebakaran membuat orangutan keluar dari jalur habitatnya. Mereka berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mencari makanan sekaligus tempat berlindung. Situasi itu membuat satwa semakin dekat dengan manusia dan meningkatkan risiko terjadinya konflik.

Enam orangutan tersebut akhirnya diselamatkan oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama YIARI pada 4 dan 8 September 2026.

Mereka terdiri atas dua induk beserta anaknya dan dua orangutan remaja. Nama-nama mereka adalah Mama Nopi dan Nopi, Mama Noni dan anaknya Noni, serta Naufal dan Nopan.

Penemuan itu bukan hasil kebetulan. Sejak 1 September, BKSDA Kalbar dan YIARI telah melakukan patroli dan pemantauan. Upaya tersebut turut melibatkan Yayasan Palung, LPHD Pemangkat, masyarakat, serta pemilik kebun.

 

Berpacu dengan Api

Dalam proses penyelamatan, tim harus bergerak hati-hati. Orangutan yang panik atau merasa terancam bisa bergerak liar dan berisiko mengalami cedera.

Tim medis kemudian menggunakan obat bius dengan dosis terukur sebelum melakukan evakuasi. Kondisi keenam satwa pun diperiksa satu per satu.

Naufal dan Mama Nopi terpantau dalam kondisi baik. Namun Nopan sempat mengalami suhu tubuh hingga 40 derajat Celsius. Setelah mendapat penanganan medis dan cairan infus, kondisinya kembali normal.

Kisah Mama Noni dan anaknya bahkan menjadi perhatian tersendiri. Mama Noni diperkirakan berusia 13–15 tahun. Ia ditemukan bersama anaknya yang diperkirakan baru berusia 1–2 bulan.

Di tengah kondisi lingkungan yang penuh tekanan, induk dan anak itu harus menghadapi perjalanan yang tidak mudah. Mama Noni sempat mengalami peningkatan suhu tubuh dan pernapasan cepat. Tim memberikan infus, oksigen, serta kompres untuk membantu menstabilkan kondisinya.

Lima Belas Orangutan dalam Sebulan

Enam orangutan yang baru diselamatkan menambah panjang daftar satwa yang terdampak karhutla di wilayah tersebut.

Dalam sebulan terakhir, BKSDA Kalbar bersama YIARI telah menyelamatkan 15 individu orangutan akibat ancaman kebakaran.

Jumlah itu menunjukkan bahwa dampak kebakaran terhadap satwa liar tidak selalu terlihat dalam bentuk hewan yang terluka akibat api.

Ketika hutan terbakar, sumber makanan berkurang. Ruang jelajah menyempit. Jalur menuju habitat yang lebih aman terputus. Pada akhirnya, orangutan dipaksa keluar dari rumahnya sendiri.

Kepala Balai KSDA Kalbar Murlan Dameria Pane mengatakan kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan karhutla merupakan langkah paling penting untuk melindungi satwa.

"Upaya penyelamatan satwa terdampak kebakaran hutan berpacu dengan waktu," ujar dia.

 

Menunggu Jalan Pulang

Enam orangutan itu kini berada di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI. Di sana, kesehatan mereka dipantau sebelum keputusan berikutnya diambil. Mereka belum bisa langsung kembali ke alam.

Pelepasliaran baru akan dipertimbangkan apabila kondisi lingkungan sudah aman dan habitat yang sesuai tersedia. Untuk sementara, pusat rehabilitasi menjadi tempat mereka memulihkan diri.

Rekomendasi