Kronologi Nelayan Papasan dengan 5 Jurnalis, Larang Pulang Karena Cuaca Buruk

Menurut Yodistara, pertemuan terjadi di kawasan perairan Krakatau, tepatnya sekitar Legon Cabe dan Pulau Panjang.

Ardi Munthe
Oleh Ardi Munthe - Reporter
Kronologi Nelayan Papasan dengan 5 Jurnalis, Larang Pulang Karena Cuaca Buruk
Nelayan Sempat Ingatkan Speedboat Jurnalis Jangan Pulang karena Cuaca Buruk, Kini Rombongan Hilang Kontak

Seorang nelayan disebut sempat berpapasan dengan rombongan lima jurnalis dan tiga kru speedboat sebelum mereka hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Saat itu, nelayan tersebut disebut sempat meminta rombongan tidak buru-buru kembali ke Carita karena kondisi laut sedang buruk.

Informasi tersebut disampaikan Relawan dan Pegiat Wisata Laut Lampung Selatan, Yodistara Nugraha, berdasarkan komunikasi dengan nelayan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan nakhoda speedboat rombongan.

Menurut Yodistara, pertemuan terjadi di kawasan perairan Krakatau, tepatnya sekitar Legon Cabe dan Pulau Panjang.

Nelayan tersebut saat itu sedang berlayar dari Pantai Carita menuju kawasan Krakatau, sedangkan rombongan jurnalis disebut dalam perjalanan pulang menuju Pagedongan, Carita.

"Saya dan rombongan bertemu dengan nelayan itu hari Rabu kemarin di pinggir Pulau Panjang area Anak Krakatau. Kemarin hasil komunikasi kami, nelayan ini dari arah Pantai Carita menuju Krakatau dan bertemu rombongan jurnalis di kawasan Krakatau. Kebetulan nelayan ini masih ada hubungan kerabat dengan nakhoda yang ada di speedboat tersebut," kata Yodistara saat dikonfirmasi Liputan6.com, Kamis (10/9/2026).

Yodistara mengatakan nelayan tersebut sempat memperingatkan rombongan agar tidak langsung kembali ke Carita. Peringatan itu disampaikan karena gelombang laut saat itu cukup besar.

"Pesannya waktu itu, jangan pulang dulu karena cuaca sedang buruk. Nelayan itu sendiri juga mengaku saat perjalanan menuju Krakatau sudah menghadapi ombak besar," tuturnya.

Berpapasan Menjelang MagribMenurut Yodistara, pertemuan antara nelayan dan rombongan jurnalis berlangsung menjelang magrib pada Senin (7/9/2026), hari ketika rombongan tersebut dilaporkan hilang kontak.

Namun, setelah pertemuan itu, nelayan tersebut tidak lagi mengetahui arah perjalanan speedboat. Ia baru mengetahui rombongan belum tiba di Pagedongan setelah mendapat informasi dari tim relawan.

"Setelah kami kasih tahu kalau kapal rombongan jurnalis belum kembali, nelayan itu terlihat sedih dan termenung. Karena memang ada hubungan kekerabatan dengan nakhoda yang ada di kapal itu," ungkapnya.

Kondisi laut yang kurang bersahabat juga dirasakan Yodistara dan tim ketika melakukan penyisiran untuk mencari keberadaan rombongan.

"Ketika kami melakukan pencarian, ombak memang besar dan angin juga cukup kencang," ucapnya.

Tim relawan yang semula berencana menggunakan speedboat kemudian mengganti armadanya dengan kapal nelayan berukuran lebih besar demi mempertimbangkan keselamatan.

"Kami awalnya mau menggunakan speedboat, tetapi melihat kondisi cuaca tidak memungkinkan, akhirnya kami ganti menggunakan kapal nelayan yang lebih besar dan panjang. Lebih safety," ujarnya.

 

Relawan Sisir Perairan Krakatau hingga Sebesi

Yodistara mengatakan enam relawan mulai melakukan pencarian sehari setelah menerima informasi mengenai hilangnya kontak rombongan.

Penyisiran dilakukan di sejumlah wilayah, mulai dari Pulau Sertung, Gunung Anak Krakatau, Pulau Panjang hingga Pulau Sebesi.

Tim relawan berkoordinasi dengan Basarnas Lampung dan Polairud Polda Lampung untuk membagi wilayah pencarian agar cakupan penyisiran lebih luas.

"Kami berangkat dan koordinasi dengan Polairud dan Basarnas. Lokasi pencarian dibagi supaya area yang disisir lebih luas dan pencarian bisa maksimal," kata dia.

Meski terus melakukan pencarian, faktor keselamatan tetap menjadi pertimbangan tim relawan karena kondisi laut yang tidak menentu.

"Kami punya SOP. Jangan sampai niatnya mencari, nanti malah kami yang dicari. Jadi keselamatan tim tetap menjadi pertimbangan," ujarnya.

 

Pencarian Hari Ketiga

Memasuki hari ketiga pencarian, Yodistara mengatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi dari jaringan nelayan di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Belimbing, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Informasi mengenai arah angin dan arus dikumpulkan untuk memperkirakan kemungkinan pergerakan speedboat maupun korban.

"Hari ini kami masih koordinasi dan mencari informasi dari teman-teman nelayan. Kemungkinan arah angin dan arus juga terus kami perhitungkan," katanya.

Yodistara memastikan pencarian tetap dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dan jaringan nelayan.

"Kami tidak berhenti berupaya. Ini bentuk kepedulian dan rasa kemanusiaan. Kami terus berkoordinasi dengan semua pihak dan teman-teman nelayan untuk mencari informasi," tandasnya.

Rekomendasi