Polda Jabar Latih Personel AI untuk Perangi Hoaks, Trainer Disiapkan Turun ke Sekolah

Biro SDM Polda Jabar melatih personel soal AI untuk menangkal hoaks, deep fake, dan penipuan online. Mereka disiapkan jadi trainer ke sekolah.

Yandhi Deslatama
Oleh Yandhi Deslatama - Reporter
Polda Jabar Latih Personel AI untuk Perangi Hoaks, Trainer Disiapkan Turun ke Sekolah
SDM Polda Jabar Latih Personelnya Soal AI. (Liputan6.com/ Yandhi Deslatama)

Biro SDM Polda Jawa Barat (Polda Jabar) menggelar pelatihan kecerdasan buatan (AI) bagi personel kepolisian guna menghadapi kejahatan digital seperti hoaks, deep fake, penipuan arisan online, love scamming, dan penipuan daring. Program ini juga diarahkan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih cerdas di ruang digital.

Personel yang mengikuti pelatihan ditugaskan menjadi trainer ke sekolah, terutama tingkat SMA sederajat, untuk memaparkan tanggung jawab dan etika berselancar di dunia digital. Polda Jabar menargetkan 37 ribu hingga 40 ribu pelajar serta warga mendapatkan materi literasi AI melalui skema ini.

Kabag Binkar Polda Jabar AKBP Condro Sasongko menjelaskan pelatihan diproyeksikan membentuk penggerak literasi AI di akar rumput. Ia menyebut teknologi ibarat pisau bermata dua: bisa digunakan untuk kebaikan maupun disalahgunakan untuk aksi kejahatan.

Personel Jadi Trainer, Sasar 37–40 Ribu Warga Jabar

Menurut Condro, peserta pelatihan berasal dari satuan Polda Jabar dan polres jajaran. Setelah mengikuti materi, mereka akan turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan praktik aman, bertanggung jawab, dan bermanfaat dalam menggunakan AI dan platform digital.

"Pesertanya dari Polda Jawa Barat dan polres jajaran di wilayah hukum kita. Nantinya mereka akan memberikan edukasi ke sekolah-sekolah, untuk mengajarkan adik-adik kita bagaimana memanfaatkan AI dan digital. Rekan-rekan di jajaran juga bisa meneruskan ke masyarakat, gen Z, juga ke pelajar," ujar Condro, Kamis (30/07/2026).

Ia menambahkan, mantan Kapolres Serang periode 2024–2026 itu, banyak pihak telah menyalahgunakan AI untuk kejahatan siber, termasuk love scamming. Karena itu, pelajar, anak muda, dan masyarakat umum diharapkan ikut membantu penyaringan informasi agar dapat membedakan konten yang benar dan menyesatkan.

Literasi AI dan Cek Fakta untuk Tangkal Hoaks

Condro menekankan pentingnya budaya cek fakta di kalangan personel dan masyarakat, sebagaimana praktik yang dilakukan media arus utama. Ia menyoroti maraknya unggahan konten berbasis AI di media sosial yang dipakai untuk tujuan provokasi.

"Melek AI bukan sekedar bisa menggunakan teknologi, melainkan sebuah kemampuan komprehensif. AI membantu manusia berfikir lebih cepat, manusia tetap memegang kendali, pertimbangan dan tanggung jawab. Kejahatan digital menggunakan AI saat ini masih berupa gunung es," terangnya.

Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI harus bijak agar tidak menimbulkan kebisingan di ruang digital, termasuk bias kelas sosial, bias gender, hingga bias prasangka. Jika dikelola secara bertanggung jawab, AI dapat membantu pengambilan keputusan, diskusi kelompok, sampai mendukung kebutuhan akademik.

"Bahkan media arus utama sudah banyak yang menyediakan cek fakta, namun informasi hoaks maupun deep fake, terutama yang menggunakan AI terus mengalir di dunia maya," jelasnya.

Empat Tantangan VUCA dan Target Nasional Polri

Menurut Condro, Polri menghadapi empat tantangan utama dalam adaptasi teknologi yang dikenal dengan VUCA. Volatility, yakni perubahan situasi lapangan sangat cepat; Uncertainty, informasi dan kondisi keamanan kian sulit diprediksi; Complexity, persoalan masyarakat saling terhubung dan rumit; serta Ambiguity, banjir informasi yang tidak selalu jelas dan akurat.

Ia menyebut generasi muda sudah akrab dengan AI dan banyak yang belajar secara otodidak. Selain target 37–40 ribu penerima manfaat di Jawa Barat, Polri menargetkan 10 juta pelajar tingkat SMA sederajat mendapatkan pelatihan literasi AI.

Pelatihan ini dinilai penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban karena mampu mengubah tumpukan data menjadi informasi yang mudah dipahami. Informasi dari masyarakat, data lapangan, hingga data digital dapat diolah oleh mesin AI untuk deteksi dini kejahatan, pemetaan kerawanan, analisis, respon, dan evaluasi.

Nantinya personel Polda Jabar berperan sebagai pemberi wawasan, pembimbing, sekaligus penjaga agar penggunaan AI tetap menjunjung tinggi tanggung jawab, etika, dan keamanan.

"Harapannya, adik-adik kita nanti bisa lebih memahami apa itu informasi hoax hingga deep fake, serta menggunakan AI lebih bertanggung jawab," tuturnya.
"Melek AI berarti kerja lebih cerdas, respon lebih cepat, harkamtibmas lebih terjaga dengan baik. Tentunya ini sesuai dengan visi misi Pak Kapolda, yakni Jaga Rawat Jawa Barat," jelasnya.
Rekomendasi