Banyuwangi Ethno Carnival 2026, Pedagang Patok Omzet Ganda dan Siapkan Lapak Tambahan

Menjelang Banyuwangi Ethno Carnival 2026, pedagang dan UMKM bersiap memanfaatkan lonjakan pengunjung. Ada yang menambah lapak dan stok. Begini ceritanya.

Gilar Ramdhani
Oleh Gilar Ramdhani - Reporter
Banyuwangi Ethno Carnival 2026, Pedagang Patok Omzet Ganda dan Siapkan Lapak Tambahan
Pelaku UMKM sambut antusias gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. (Sumber: Pemkab Banyuwangi)

Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 akhir pekan lalu, Sabtu (18/7) tak hanya menyemarakkan agenda wisata daerah, tetapi juga menggerakkan pendapatan pelaku UMKM yang berjualan di sekitar rute acara.

Sejumlah pedagang kaki lima di koridor utama Banyuwangi menilai momen BEC konsisten mendorong trafik pembeli. Dampak itu terutama dirasakan mereka yang berlokasi di jalur padat penonton karnaval.

Salah satunya Iwan, pedagang kaki lima di Jalan Letjen Sutoyo. Ia menyebut momen BEC selalu menjadi hari sibuk dengan perolehan pendapatan yang meningkat. "Kalau ada event BEC pasti ramai, pendapatan yang kami dapat juga naik dua kali lipat," kata Iwan.

Iwan Siapkan Lapak Keliling, Omzet Pernah Tembus Rp700 Ribu

Menjelang akhir pekan, Iwan tidak hanya membuka lapak di titik biasa. Ia juga membawa perlengkapan berjualan telur gulung dengan sepeda motor untuk berkeliling ke area yang dipadati penonton, sekaligus menambah stok dagangan.

Dari pengalaman dua tahun terakhir, omzet Iwan saat BEC berlangsung mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per hari. Nilai itu jauh di atas hari biasa.

Iwan berharap penyelenggaraan BEC bisa lebih sering karena dampaknya langsung terasa bagi pedagang kecil. "Kami berharap. Kalau bisa, BEC digelar setahun dua kali. Karena dampaknya sangat terasa bagi pedagang kecil seperti kami," ujarnya.

Stan Tambahan dan Stok Dingin untuk Sambut Keramaian

Tia, pedagang aneka minuman es di koridor yang sama, menyiapkan stan tambahan di depan SD Brawijaya, salah satu titik konsentrasi penonton. Ia berjualan sejak pagi hingga malam mengikuti arus kedatangan pengunjung.

Menurutnya, setiap BEC omzet meningkat signifikan dibanding hari biasa. "Tiap ada BEC pasti buka dua tempat. Dari pagi sampai malam jualannya karena pengunjung terus berdatangan. Kalau ada BEC senang sekali. Persiapan jualan ditambah lagi. Biasanya omzet sekitar Rp1 juta, kalau BEC bisa lebih dari itu," ujarnya.

Rahmat, penjual Es Dawet Barokah di depan Kantor Pos Banyuwangi, juga bersiap menambah pasokan bahan baku karena permintaan melonjak saat karnaval. "Biasanya stok tiga perempat kilogram, kalau BEC bisa sampai satu setengah kilogram dan biasanya habis semua," kata Rahmat.

Desa Wisata Ketiban Kunjungan, Warung Ramai

Dampak ekonomi BEC dirasakan pula oleh pelaku usaha di kawasan desa wisata. Mbok Sulik, pemilik warung di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, menyambut antusias penyelenggaraan event besar di Banyuwangi.

Ia menuturkan pengunjung yang datang untuk menginap dan berwisata turut menggerakkan penjualan di warungnya. "Banyak orang datang ke Banyuwangi, menginap dan berwisata sehingga dagangan saya laku. Ini yang selalu ditunggu pedagang seperti saya yang berharap rejeki berlimpah dari acara yang dibuat pemkab," kata Sulik.

Sulik mengaku setiap hajatan besar menjadi momentum yang dinanti karena perputaran ekonomi lebih terasa hingga ke tingkat desa wisata.

Jadwal dan Rute Banyuwangi Ethno Carnival 2026

BEC 2026 digelar pada Sabtu, 18 Juli, mulai pukul 13.00 WIB dengan titik start di Taman Blambangan.

Ratusan talent karnaval akan melintasi rute sepanjang 2 kilometer di jalan protokol Banyuwangi.

Rangkaian BEC Week berlangsung pada 16–19 Juli. Agendanya antara lain Sekarkijang Creative Fest (SCF) yang didukung Bank Indonesia Jember, festival UMKM, dan event lari.

Rekomendasi