Sindiran Sejarawan Betawi JJ Rizal yang meminta Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membongkar rumahnya terlebih dahulu sebelum menggusur Kampung Pulo, karena dianggap lahan resapan, membuat Ahok berang. Menurut JJ Rizal, seharusnya Ahok sadar dirinya tak beda jauh dengan warga Kampung Pulo yang bangunan rumahnya menjadi penyebab banjir.Bagi JJ Rizal rumah Ahok yang berada di kawasan Pantai Mutiara juga layak digusur. Sebab kawasan tersebut merupakan lahan hijau dan resapan air. Namun apakah benar yang dikatakan oleh JJ Rizal? Pengajar ilmu perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna justru menyatakan bahwa setiap wilayah Jakarta sebaiknya dipertimbangkan berapa persen yang akan disisihkan menjadi daerah resapan air."Begini, konteksnya harus dilihat rencana tata ruang dalam apapun di wilayah. Wilayah Jakarta hampir seluruh wilayahnya harusnya justru mampu meresapkan air sebanyak mungkin. Kalau kita memperdebatkan wilayah resapan atau tidak, justru setiap wilayah harus mampu membuat resapan," kata Yayat saat dihubungi merdeka.com, Minggu (23/8).
Advertisement
Akan tetapi, Yayat tidak mau terlibat jauh pada perdebatan Ahok Vs JJ Rizal. Yayat justru ingin mencari jalan tengah antar keduanya guna mendapatkan solusi konkret. Jika tenggelam dalam arus perdebatan maka masalah tata ruang kota tak akan selesai."Yang paling penting bukan bagaimana saling mempermasalahkan tapi bagaimana aturan itu ditegakkan. Itu tidak untuk mencari siapa yang salah, tapi menyelesaikannya. Mari saling koreksi agar energi kita gak habis. Ini moment perubahan," tuturnya.Menurutnya, tata ruang wilayah DKI Jakarta harus ditinjau kembali sebagai rujukan awal. Selain itu, setiap pembangunan perlu mempertimbangkan basis Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Jika terjadi pelanggaran harusnya penegakkan hukum tak pandang bulu."Persoalannya ada pada Koefisien Dasar Bangunan tiap wilayah, kedua ada Koefisien Dasar Hijau. Kalau misalnya ada sesuatu yang salah atau kurang kita lihat pada aturan yang berlaku," jelas Yayat.Sebagai contoh, untuk wilayah DKI Jakarta ada 2 buah Perda yaitu Perda no. 7 tahun 1991 tentang bangunan di wilayah DKI Jakarta. Kemudian ada pula Perda no. 6 ahun 1999 tentang rencana umum tata ruang DKI Jakarta. Di dalam kedua Perda itu diatur mengenai syarat membangun suatu bangunan, seperti KDB, Garis Sepadan Bangunan (GSB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Garis Sepadan Jalan (GSJ)."Lihat aturan yang berlaku, melihat kembali rencana tata ruang yang ada. Kalau pemukiman harus melihat KDB. Kalau 20 persen dijalankan atau tidak, kalau 40 persen berarti berapa," tambah dia.
Advertisement
Seperti diketahui dalam peraturan tersebut, pemilik bangunan diwajibkan menyisakan lahannya untuk area resapan air. KDB ni biasanya dikalkulasi secara persentase. Misalnya anda memiliki lahan disuatu daerah dengan KDB 60 persen dengan luasnya 150 m2, artinya anda hanya boleh membangun rumah seluas 60 persen x 150 m2 = 90 m2, sisanya 60 m2 sebagai area terbuka."Semua orang harus melihat ketentuan yang diatur. Jakarta sudah salah kaprah di beberapa tempat banyak pembiaran terhadap pelanggaran. Lihat dokumen rencana tata ruangnya, masing-masing meriksa apa yang salah. Jangan-jangan konsepnya benar tapi prakteknya melenceng. Mari kita tegakkan peraturan," tutupnya.Sebelumnya, Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menanggapi santai tantangan sejarawan Betawi JJ Rizal berdiskusi di muka umum untuk membahas perbedaan persepsi mengenai Pantai Indah Kapuk dan Pluit. Ahok menyarankan JJ Rizal belajar terlebih dulu sebelum berdiskusi dengannya."Apa yang mau didebatin? Suruh dia belajar dulu. Suruh dia belajar ke (Kementerian) Pekerjaan Umum dulu. Kalau sistem banjir apa? Resapan itu mana? PU bisa jelasin karena ada profesor-profesor," kata Ahok di sela acara Lebaran Betawi, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (23/8).Ahok mempertanyakan pola pikir JJ Rizal yang bersikeras bahwa daerah rumahnya di Pluit merupakan wilayah resapan air sehingga layak digusur. Sebab menurut Ahok daerah pluit bukan wilayah resapan air sehingga dia menyarankan JJ Rizal belajar lebih dulu dengan seorang profesor agar pernyataannya tak seperti orang bodoh."Utara itu bukan resapan. Maka saya bilang dia itu goblok, kalau mau pinter dia itu belajar sama profesor," kata Ahok.Lebih jauh Ahok mengatakan tak bakal meladeni debat dengan JJ Rizal lantaran menurutnya pernyataan JJ Rizal mengenai banjir dan daerah Pluit itu sudah keliru."Ya, sama dia gue ngotot, orang sejarawan nggak ngerti ilmu banjir, apa yang mau didebatin? Dari awal, startnya sudah goblok," tandasnya.