Sering ngamuk dan ngoceh sendiri, Saniman dipasung oleh keluarga

Saniman mulai stres hampir sebulan lalu akibat sejumlah pohon kelapa di kebun yang ia kelola ditebang oleh menantunya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sering ngamuk dan ngoceh sendiri, Saniman dipasung oleh keluarga
Saniman dipasung. ©2014 merdeka.com/Gede Nadi Jaya

Program jemput orang sakit yang mengalami gangguan sakit jiwa oleh pihak RSJ Bangli "Omong Kosong". Pasalnya, salah seorang warga buleleng,Nahas nasib Saniman (51) warga Dusun Tegal Bunder, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali lantaran sisa hidupnya hanya dihabiskan untuk duduk dengan posisi dipasung keluarganya. Dia terpaksa dipasung oleh keluarganya karena kerap kali mengamuk.Pihak keluarga mengaku sempat meminta bantuan pihak RSJ Bangli, namun, hingga kini tidak ada pihak rumah sakit yang datang untuk menjemputnya. Karena hal ini, program jemput orang sakit yang mengalami gangguan jiwa oleh pihak RSJ Bangli bisa dikatakan omong kosong.Saniman, menurut salah seorang warga yang juga bertetanggaan, mulai stres hampir sebulan lalu akibat sejumlah pohon kelapa di kebun yang ia kelola ditebang oleh menantunya. Warga tersebut mengatakan Saniman selama ini telah menggantungkan hidupnya pada beberapa batang pohon kelapa yang ditebang tersebut."Sejak menantunya menebangi pohon kelapa untuk diambil kayunya. Ia mulai sering teriak-teriak dan ngamuk. Karena itu keluarganya memasung kakinya di batang pohon kapuk," ujar salah seorang warga, Selasa (28/10).Selama dipasung, sejumlah tetangga dekat mengaku merasa terganggu lantaran Saniman tak pernah berhenti bersuara dan terus ngomel, ngomong sendiri dan teriak. "Sepertinya tidak pernah tidur. Makan sih sepertinya tetap dikasih, tiap hari tidak berhenti ngoceh," sambungnya.Katanya, Pihak keluarga mengaku tidak bisa berbuat banyak dan memutuskan untuk memasung Saniman setelah berkali-kali melakukan tindak kekerasan terhadap keluarganya. "Dia (Saniman) sempat pulang ke Madura namun kembali lagi kemudian menemukan kenyataan pohon kelapanya sudah ditebang," jelas adik Saniman bernama Abu Hasan (36), Selasa (28/10).Menurut Hasan, Saniman berpesan kepada anak menantunya agar pohon kelapa yang berlokasi di Dusun Tegal Bunder jangan di tebang namun cukup diambil buahnya untuk menyambung hidup. "Dan sejak itu dia kerap bicara sendiri dan sesekali mengamuk jika melihat orang tertentu yang tidak disukainya," jelasnya.Katanya, Terakhir salah satu saudara perempuannya di banting sehingga keluarga memutuskan untuk memasung Saniman. Karena itu, ia berharap Saniman secepatnya mendapatkan pertolongan agar sakitnya tidak semakin parah. "Saya belum menemukan jalan keluar untuk membawa Saniman. Berharap agar Pihak RSJ di Bangli dapat menjemput," harap Hasan, sembari menyatakan pemasungan Saniman itu belum ia laporkan kepada Kepala Desa Sumberklampok.Pantauan merdeka.com tadi siang, Saniman dipasung dengan menggunakan sebatang pohon kapuk dan ditempatkan dibawah pohon tanpa selembar alaspun. Ditempat itu, Saniman melakukan aktivitas sehari-hari termasuk makan, kencing maupun buang air besar.Bahkan saat diajak bicara, Saniman terlihat normal untuk menjawab pertanyaan. "Saya tidak sakit kenapa diperlakukan seperti ini. Saya bukan binatang, tolong selamatkan saya," pintanya sambil menangis.

Rekomendasi