Ramadan dan Nilai-nilai Pancasila Bisa Tingkatkan Kepedulian Antar-Sesama
Bukhori Sail At-Tahiri menjelaskan sebenarnya banyak esensi dari syariat Islam yang termuat dalam Pancasila
Puasa mengajarkan agar kita bisa merasakan kondisi masyarakat kurang beruntung yang kerap menahan lapar dan dahaga. Hal ini setidaknya sesuai dengan sila pertama dan kedua dari Pancasila.
Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, Bukhori Sail At-Tahiri menjelaskan sebenarnya banyak esensi dari syariat Islam yang termuat di dalam Pancasila.
"Bulan Ramadan adalah kondisi sangat mendukung bagi umat untuk melaksanakan ibadah puasa dan sekaligus melaksanakan pengamalan butir-butir Pancasila," ujar Bukhori di Jakarta, Rabu (5/3).
Bukhori menerangkan, ibadah puasa juga mengajarkan kesalehan sosial, kepedulian kepada lingkungan dan masyarakat. Ramadan bukan hanya tentang mementingkan diri sendiri dengan membeli barang-barang mewah untuk keperluan Lebaran.
"Ramadan mengajarkan kita untuk peduli kepada lingkungan dengan memberikan zakat dan sedekah. Hal ini berkaitan dengan sila kedua Pancasila, yaitu 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab', serta sila kelima, yaitu 'Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia'," tambah Bukhori
Selain itu, Bukhori pun menyebutkan bahwa Ramadan ini adalah momen pemberian program syariat agar umat menjadi orang yang saleh. Menahan diri berarti seseorang harus mampu mengendalikan dirinya dari hawa nafsu dan berbagai keinginan lainnya yang tidak bermanfaat.
Pada Ramadan tahun ini, Bukhori mengkritisi kelompok yang dengan mudahnya melempar klaim salah, sesat, bahkan kafir pada kelompok lainnya, hingga melakukan makar dan menyerang aparat penegak hukum.
"Saya melihat orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang belajarnya belum sempurna dan terkesan masih egois," jelasnya.
Bukhori berpendapat, kalau melihat para ulama yang ilmunya sudah mumpuni, mereka bahkan seperti orang yang sudah mahir dalam bela diri yang tidak menunjukkan kesombongan. Namun, orang baru belajar bela diri, masih satu atau dua jurus itu cenderung petantang-petenteng.
"Kadang-kadang kita di masyarakat melihat orang ini baru belajar tapi kemudian menyalahkan orang lain dengan mengatakan harus begini atau harus begitu, mencaci orang lain, merendahkan dan lain-lain. Padahal mereka belum tahu banyak," tegasnya.
Bukhori berharap agar masyarakat tidak mudah digiring dengan narasi bahwa Pancasila bukanlah bagian dari syariat Islam. Justru harus dipahami bahwa esensi dari nilai syariat Islam lah yang melahirkan Pancasila sehingga keduanya bisa saling menguatkan dan menjadi jati diri bangsa.
"Antara Pancasila dan nilai-nilai Keislaman itu saling mendukung dan memperkuat, karena Pancasila sesungguhnya adalah saripati dari syariat Islam. Hal ini yang membuat keduanya tidak bertentangan," tandasnya.