Kemampuan Bercerita: Kunci Pembangunan Bangsa dan Peningkatan Daya Saing Global
Kemampuan bercerita atau storytelling tak hanya penting bagi individu, tetapi juga krusial bagi pembangunan bangsa. Simak bagaimana Kemampuan Bercerita dapat mendorong kemajuan ekonomi dan sosial Indonesia.
Kemampuan bercerita atau storytelling memiliki dampak signifikan, tidak hanya pada kehidupan personal seseorang, tetapi juga krusial bagi pembangunan bangsa dalam jangka panjang. Hal ini disampaikan oleh pengusaha dan mantan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, di hadapan 1.332 wisudawan LSPR Institute di Jakarta pada hari Kamis. Ia menekankan bahwa Kemampuan Bercerita adalah fondasi penting untuk kemajuan.
Penelitian dari Pachucki dan kawan-kawan dari Universitas Innsbruck, Austria, pada tahun 2021 menunjukkan peran strategis storytelling dalam pemasaran dan branding. Kemampuan ini secara langsung memengaruhi perilaku serta persepsi konsumen terhadap suatu produk atau jasa. Dalam industri pariwisata, bercerita terbukti meningkatkan keterlibatan, citra merek destinasi, dan mendorong niat wisatawan untuk berkunjung.
Gita Wirjawan secara spesifik menyoroti peranan penting Kemampuan Bercerita dalam konteks pembangunan suatu bangsa. Ia mengaitkan hal ini dengan skala perdagangan dan kapasitas sumber daya manusia. Menurutnya, Kemampuan Bercerita adalah elemen vital yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk membawa Indonesia ke level yang lebih maju di kancah global.
Peran Strategis Kemampuan Bercerita dalam Pembangunan Nasional
Gita Wirjawan mencontohkan skala perdagangan di Asia Tenggara yang hanya mencapai 23 persen, sangat berbeda dengan Uni Eropa yang sudah mencapai 65 persen. Angka ini mengindikasikan adanya kekurangan dalam komunikasi antar negara di kawasan tersebut. "Berarti kita masih kurang bercerita satu sama lain. Kita sering berjabat tangan, tetapi tidak memahami barang atau jasa apa yang bisa dikirim atau peluang apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan skala perdagangan," kata Gita.
Indonesia sangat memerlukan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas untuk bercerita dengan baik dan efektif. Jika dilihat dari sisi publikasi, yang merupakan manifestasi dari Kemampuan Bercerita, total publikasi di Asia Tenggara hanya sekitar 375.000 dari 140 juta publikasi global. Padahal, penduduk Asia Tenggara berjumlah 700 juta jiwa atau sembilan persen dari populasi dunia.
Data tersebut menunjukkan bahwa hanya sekitar 0,27 persen dari jumlah populasi Asia Tenggara yang memiliki Kemampuan Bercerita yang terpublikasi. "Ini agak tidak masuk akal bagi saya," tegas Gita. Ia menambahkan, Kemampuan Bercerita tidak hanya sekadar literasi, tetapi juga mencakup kemampuan numerasi yang esensial.
Perguruan tinggi seperti LSPR yang membekali lulusannya dengan Kemampuan Bercerita yang baik merupakan inisiatif yang sangat penting. Gita melihat bahwa planet bumi dengan 8 miliar jiwa akan terus mengalami percepatan dalam geopolitik, ekonomi, teknologi, dan iklim. Banyak narasi keberlanjutan dikedepankan, namun tidak mudah untuk memahaminya tanpa Kemampuan Bercerita yang kuat.
Kemampuan Bercerita sebagai Penarik Investasi dan Modal
Gita Wirjawan memandang bahwa untuk mendatangkan modal teknologi maupun ekonomi agar Indonesia bisa menjadi negara maju, dibutuhkan banyak storyteller handal. Para storyteller ini harus mampu membawa Indonesia ke level yang berbeda di mata investor global. Oleh karena itu, diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kredibilitas tinggi, dan mampu menerjemahkan ketidakpastian menjadi kepastian.
Kemampuan ini sangat penting dalam alokasi modal dan investasi. "Ketidakpastian itu tidak bisa diukur, tidak bisa dinilai. Tapi risiko itu sesuatu yang bisa diukur, semakin kita bisa mengukur semakin proses translasi yang dilakukan lewat komunikasi maka kemungkinan penanaman modal itu bisa terjadi," imbuhnya.
Kemampuan bercerita dapat dilatih secara berkelanjutan, mulai dari jenjang pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Selain Kemampuan Bercerita, Gita juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) yang telah berhasil membawa Tiongkok menjadi negara maju. Namun, ia menekankan peran guru yang mampu menginspirasi, menyuntikkan imajinasi, dan menyalakan ambisi siswanya.
Dengan demikian, Kemampuan Bercerita bukan hanya bentuk hiburan semata, melainkan alat yang kuat. Ia mampu membentuk identitas nasional, memperkuat komunitas, dan secara signifikan mendorong pertumbuhan sosial-ekonomi suatu bangsa. Kemampuan ini menjadi bekal penting bagi generasi muda Indonesia.
Komitmen Pendidikan dalam Mengembangkan Storyteller Unggul
Gita Wirjawan juga mengingatkan para lulusan untuk memanfaatkan "kemewahan" pendidikan yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Pasalnya, 88 persen kepala rumah tangga di Indonesia tidak memiliki pendidikan hingga jenjang sarjana. "Kemewahan" ini harus digunakan untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih baik dan berkontribusi secara nyata.
Founder & CEO LSPR Institute, Dr. (H.C.) Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR, FIPR, menekankan komitmen lembaganya. Prita menyatakan bahwa LSPR bertekad melahirkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja. Mereka juga harus mampu bersaing dalam ekosistem global yang dinamis, memimpin, dan berkontribusi aktif dalam dinamika industri internasional.
Pengetahuan, karakter, dan empati lintas budaya menjadi tiga pilar penting yang terus dijaga dalam sistem pendidikan LSPR Institute. "Kami bangga menjadi bagian dari komunitas pendidikan yang tidak hanya mengutamakan pengetahuan, tetapi juga karakter, integritas, dan empati lintas budaya,” kata Prita.
Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan jaringan internasional LSPR Institute dengan institusi bergengsi kelas dunia, termasuk University College London (UCL) dan Royal Holloway, University of London. LSPR juga mengumumkan kerja sama dan pembaruan hubungan akademik dengan Woosong University, Korea Selatan, serta kolaborasi dengan Futurebound. Melalui kolaborasi strategis ini, Prita berharap mahasiswa memperoleh kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar, riset bersama, kurikulum berbasis global, serta berbagai peluang pengembangan diri yang memperkaya kompetensi mereka di pasar kerja internasional, termasuk dalam Kemampuan Bercerita.
Sumber: AntaraNews