Kapal Basarnas Ganesha Tiba di Sibolga Setelah Lima Hari Pelayaran Panjang
KN Ganesha milik Basarnas akhirnya tiba di Sibolga usai pelayaran lima hari dari Jakarta, membawa bantuan vital untuk operasi SAR bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara.
Kapal Negara (KN) Ganesha milik Basarnas telah berhasil mencapai Pelabuhan Sibolga, Kota Sibolga, Sumatera Utara, pada Sabtu dini hari sekitar pukul 03.20 WIB. Kedatangan kapal ini menandai berakhirnya pelayaran panjang selama lima hari empat malam dari Jakarta melalui perairan pesisir barat Pulau Sumatera. Misi utama kapal adalah memperkuat operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di wilayah yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor.
Pelayaran yang menempuh jalur pesisir barat Pulau Sumatera ini membawa 16 kru dari Kantor SAR Jakarta serta 43 potensi SAR. Di antara mereka terdapat empat pewarta nasional dan 21 penyelamat dari berbagai kantor SAR, termasuk dari Jakarta, Bandung, dan Banten. Mereka semua siap memberikan dukungan signifikan bagi penanganan darurat di Sumatera Utara.
Sebelum tiba di Sibolga, KN Ganesha sempat singgah di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, untuk menurunkan logistik dan personel tambahan. Perjalanan ini merupakan bagian dari upaya Basarnas dalam mendistribusikan bantuan. Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan sumber daya yang memadai di lokasi bencana.
Tantangan Pelayaran KN Ganesha Menuju Sumatera
Mualim I KN Ganesha, Teuku Sufriadi Ramadhani, menjelaskan bahwa pelayaran secara keseluruhan berlangsung relatif kondusif. Meskipun demikian, perjalanan dari Jakarta menuju Sibolga tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Kapal sempat menghadapi hujan ringan, namun tidak mengganggu laju pelayaran secara signifikan.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi kru adalah banyaknya gelondongan kayu berukuran besar yang hanyut di perairan. Terutama di wilayah perbatasan antara Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Kondisi ini memaksa kapal untuk tidak melaju dengan kecepatan maksimum demi keamanan. Kru bahkan harus mengarahkan kapal lebih menjauh ke tengah laut dari alur semestinya.
"Banyak bahkan saat kami ke arah tengah, juga masih ada, itulah tidak bisa maksimum kecepatannya kami harus memastikan baling-baling kapal tetap aman dan tidak mengalami kerusakan. Ya Alhamdulillah," kata Teuku Sufriadi Ramadhani. Kehati-hatian ini sangat penting untuk menjaga integritas kapal dan keselamatan seluruh awak serta potensi SAR yang diangkut.
Rute pelayaran yang dilalui KN Ganesha sangat panjang, melintasi Selat Sunda, Selat Semangka, dan pesisir barat Sumatera. Kemudian naik ke perairan Bengkulu hingga mencapai Padang. Total jarak tempuh pada lintasan tersebut mencapai sekitar 540 mil laut, atau lebih dari 1.000 kilometer, menunjukkan skala operasi yang besar.
Peran Strategis KN Ganesha dalam Operasi SAR di Sumatera Utara
Setibanya di Teluk Bayur, Padang, KN Ganesha melakukan penurunan sejumlah bantuan logistik dan personel SAR tambahan. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan di beberapa wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat. Setelah proses bongkar muat dan pengisian bahan bakar selesai, kapal melanjutkan perjalanannya.
KN Ganesha kembali melanjutkan pelayaran menuju Sibolga pada Jumat (5/12) pukul 08.58 WIB. Kedatangan kapal Basarnas ini di Sibolga sangat krusial. Ini menandai tahap lanjutan distribusi dukungan Basarnas untuk memperkuat operasi SAR tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara.
Setelah berhasil sandar di Pelabuhan Sibolga, personel dan logistik yang diangkut segera diarahkan untuk memperkuat posko dan sektor pencarian. Dukungan tambahan ini sangat dibutuhkan di wilayah-wilayah terdampak, termasuk Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Kehadiran mereka diharapkan dapat mempercepat proses penanganan bencana.
Dengan membawa 43 potensi SAR, termasuk penyelamat dari Jakarta, Bandung, dan Banten, KN Ganesha menjadi tulang punggung dalam upaya kemanusiaan ini. Keberadaan kapal ini memastikan bahwa Basarnas memiliki kapasitas yang memadai. Ini untuk merespons kebutuhan mendesak di lokasi bencana, memberikan harapan bagi para korban.
Sumber: AntaraNews