Tahukah Anda, dua novelis populer Indonesia, Marga T dan Mira W, memiliki banyak kesamaan? Keduanya dianggap sebagai pelopor sastra populer di Indonesia yang telah melahirkan puluhan buku laris. Marga T dan Mira W dianggap sebagai inspirasi oleh banyak penulis masa kini. Karya-karya mereka juga langganan diadaptasi ke sinetron dan layar lebar.
Advertisement
Sebelum menjadi novelis, Mira W dan Marga T berprofesi sebagai dokter. Keduanya bahkan sama-sama lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Setelah lulus, Mira W menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Prof. Moestopo di Jakarta. Namun, kiprah mereka sebagai penulis lebih menonjol di mata publik.
Meskipun banting setir ke dunia kepenulisan, tampaknya Mira W dan Marga T tak bisa meninggalkan dunia medis sepenuhnya. Keduanya kerap menggambarkan dunia medis dengan detail dan akurat dalam cerita-cerita yang mereka tulis.
Advertisement
Tokoh-tokoh dalam novel Marga T dan Mira W banyak yang diceritakan berprofesi sebagai dokter atau tenaga medis lainnya. Rumah sakit juga kerap dipilih sebagai latar cerita. Tokoh utama Karmila dan Badai Pasti Berlalu yang termasuk novel terlaris Marga T diceritakan sebagai seorang dokter. Tokoh utama Deviasi, Jangan Pergi Lara, Seandainya Aku Boleh Memilih, dan Ketika Cinta Harus Memilih yang ditulis Mira W juga berprofesi sebagai dokter.
Advertisement
Mira W lahir dengan nama Mira Widjaja atau Mira Wong. Ayahnya, Othniel Wong adalah seorang sineas film Indonesia. Marga T yang bernama asli Margaretha Tjoa menekuni hobi menulis sejak kecil. Keduanya berasal dari keluarga keturunan Tionghoa. Novel pertama Marga T dan Mira W sama-sama terbit di tahun 70-an. Novel debut Mira W, Dokter Nona Friska, dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Dewi pada tahun 1977.
Sementara Karmila yang menjadi novel pertama Marga T dimuat secara bersambung pada 1971 dan dibukukan pada 1973.