Kemenkes: Membaca Buku Jadi Instrumen Penting Jaga Kesehatan Jiwa Kelompok Rentan

Kementerian Kesehatan menyoroti pentingnya membaca buku untuk kesehatan jiwa, terutama bagi kelompok rentan, sebagai intervensi medis ringan untuk mengurangi kecemasan dan memperkuat mental.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenkes: Membaca Buku Jadi Instrumen Penting Jaga Kesehatan Jiwa Kelompok Rentan
Kementerian Kesehatan menyoroti pentingnya membaca buku untuk kesehatan jiwa, terutama bagi kelompok rentan, sebagai intervensi medis ringan untuk mengurangi kecemasan dan memperkuat mental. (AntaraNews)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan pentingnya budaya membaca buku sebagai instrumen medis ringan untuk menjaga kesehatan jiwa masyarakat. Fokus utama diberikan pada upaya memperkuat ketahanan mental kelompok rentan di tengah berbagai tantangan hidup modern.

Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan momentum Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April. Kemenkes melihat perayaan ini sebagai kesempatan emas untuk mengampanyekan literasi sebagai intervensi kesehatan yang efektif dalam mengurangi tingkat kecemasan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, menjelaskan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas budaya. Aktivitas ini menawarkan jeda tenang yang mampu menurunkan ketegangan saraf dan menata ulang pikiran di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Banyak kajian ilmiah telah menunjukkan bahwa aktivitas membaca secara konsisten memiliki dampak positif signifikan terhadap otak. Meluangkan waktu 20 hingga 30 menit setiap hari untuk membaca dapat membantu melatih daya ingat dan fungsi kognitif.

Kemampuan ini menjadi sangat krusial dalam upaya mencegah penurunan fungsi mental seiring bertambahnya usia seseorang. Dengan demikian, membaca untuk kesehatan jiwa dapat menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas hidup.

dr. Imran Pambudi menambahkan, buku fiksi berperan penting dalam melatih empati melalui imajinasi, sementara buku nonfiksi menyediakan strategi praktis untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Kedua jenis buku ini membantu individu merespons situasi sulit dengan lebih tenang dan bijaksana.

Di ranah sosial, Kemenkes mendorong pengembangan klub buku di tingkat komunitas sebagai strategi pencegahan isolasi sosial. Inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi rasa kesepian, yang seringkali menjadi pemicu masalah kesehatan jiwa pada kelompok rentan.

Literasi yang inklusif, seperti penyediaan buku di ruang publik dan sesi baca lintas generasi, dapat menjadi bagian dari strategi kesehatan masyarakat yang sederhana namun berdampak besar. Upaya ini menciptakan lingkungan yang mendukung membaca untuk kesehatan jiwa secara kolektif.

Selain itu, Kemenkes menyarankan masyarakat untuk mulai membatasi penggunaan layar ponsel sebelum tidur. Mengganti kebiasaan ini dengan membaca buku cetak dapat meningkatkan kualitas tidur dan memberikan waktu istirahat yang berkualitas bagi otak.

dr. Imran Pambudi juga menyampaikan harapan besar agar buku secara nasional dapat dipandang sebagai alat transformasi pribadi. Melalui budaya literasi, diharapkan dapat terbangun batin yang lebih sehat dan komunitas yang lebih erat di seluruh Indonesia.

Harapan ini sejalan dengan penunjukan Kota Rabat di Maroko sebagai World Book Capital oleh UNESCO pada peringatan Hari Buku Sedunia 2026. Rabat dikenal sebagai rumah bagi penerbit-pameran buku internasional dan akses literasi terbesar ketiga di Benua Afrika.

Penunjukan ini menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk terus mengembangkan ekosistem literasi yang kuat. Dengan demikian, manfaat membaca untuk kesehatan jiwa dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mendukung pembangunan bangsa yang lebih sejahtera.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi