Tuntut Rezim Militer Mundur, Uni Afrika Bekukan Keanggotaan Sudan

Jumat, 7 Juni 2019 14:33 Reporter : Merdeka
Tuntut Rezim Militer Mundur, Uni Afrika Bekukan Keanggotaan Sudan Demo di Sudan. ©2019 REUTERS/Mohamed Nureldin Abdallah

Merdeka.com - Uni Afrika membekukan keanggotaan Sudan hingga pemerintahan sipil di negara itu terbentuk. Pada Kamis (6/6), Uni Afrika meningkatkan tekanan global agar pemimpin baru militer Sudan mundur setelah kerusuhan terburuk berlangsung sejak penggulingan Omar Al-Bashir pada April. Ethiopia --negara tempat blok benua tersebut berpusat-- merencanakan upaya penengahan.

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmad pada Jumat dijadwalkan bertemu dengan anggota Dewan Peralihan (TMC), yang berkuasa, dan oposisi, kata satu sumber diplomatik, dilansir Antara.

Kedua pihak telah terlibat dalam pembicaraan mengenai peralihan pimpinan sipil menuju demokrasi. Tapi, perundingan yang memang sudah goyah, ambruk ketika pasukan keamanan menyerbu kamp aksi duduk pada Senin (3/6) hingga menewaskan puluhan orang.

Pertemuan di Ibu Kota Ethiopia, Addis Ababa, oleh Dewan Keamanan dan Perdamaian Uni Afrika meminta gangguan kekuasaan konstitusional ditangani dengan cara membekukan keanggotaan Sudan.

Uni Eropa (EU) mendukung keputusan Uni Afrika itu. Uni Eropa mengatakan organisasi kawasan tersebut "menetapkan kriteria yang jelas bagi pemulihan proses politik yang damai dan dapat dipercaya" di Sudan.

Uni Eropa juga mendesak negara lain agar tidak ikut campur dalam urusan Sudan dan menyerukan pembebasan Yasir Arman, Wakil Kepala Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan-Utara, yang ditangkap di kediamannya di Khartoum pada Rabu (5/6).

Bekas penguasa kolonial Sudan, Inggris, memanggil duta besar Sudan ke Kantor Urusan Luar Negeri pada Kamis untuk menyampaikan keprihatinan Inggris.

Aliansi oposisi Deklarasi Kekuatan Kebebasan dan Perubahan (DFCF) mengatakan aliansi itu tidak lagi siap untuk berdialog. Aliansi itu menuntut militer menyerahkan kekuasaan.

"Dewan kudeta dan siapa pun yang terlibat dalam kejahatannya sejak 11 April harus dimintai pertanggungjawaban," kata DFCF di dalam satu pernyataan.

Aliansi juga menuntut pembubaran unit paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF), yang ditakuti. Beberapa saksi mata mengatakan RSF, yang menguasai Khartoum, memimpin penindasan terhadap kamp pemrotes.

Oposisi menyatakan 108 orang tewas dalam kerusuhan sejak Senin, tapi Kementerian Kesehatan Sudan menyebutkan jumlah korban jiwa 61, termasuk tiga personel keamanan, yang katanya ditikam hingga tewas.

RSF, yang dipimpin oleh wakil pemimpin Dewan Militer Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, muncul dari milisi yang memerangi kelompok perlawanan di Darfur Barat sejak 2003.

Milisi tersebut dituduh melakukan kekejaman di Darfur sementara Al-Bashir didakwa oleh Mahkamah Pidana Internasional karena melakukan kejahatan dan pemusnahan suku, tapi ia membantah tuduhan tersebut. Ia sekarang berada di dalam tahanan di Khartoum.

Sumber: Reurters [noe]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Sudan
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini