Gelombang serangan pesawat nirawak di Sudan dalam beberapa hari terakhir menewaskan lebih dari 160 orang. Dikutip dari Al Jazeera, Senin (20/10/2026), korban mencakup warga sipil termasuk anak-anak di tengah perang yang masih berlangsung sejak 2023.
Kelompok pemantau Emergency Lawyers melaporkan tiga anak tewas akibat serangan drone di Khartoum pada Senin. Di wilayah barat Sudan, lebih dari 160 orang dilaporkan tewas sejak Jumat.
Serangan paling mematikan terjadi Minggu malam di dekat pasar Kota Al-Dibab, Negara Bagian West Kordofan, area yang berada di bawah kendali Rapid Support Forces (RSF). Warga dan tenaga medis menyebut sebuah drone menghantam pusat transportasi tempat warga menunggu tumpangan, menewaskan 80 orang.
Sebanyak 47 korban luka dibawa ke Kota Al-Mujlad tidak jauh dari lokasi. Menurut seorang sumber medis kepada AFP, 30 orang di antaranya meninggal dunia akibat luka yang diderita.
Pemerintahan bentukan RSF yang mendeklarasikan diri sendiri, Tasis, bersama Emergency Lawyers, menuding militer Sudan sebagai pihak di balik serangan di Al-Dibab.
Di Sudan timur, seorang sumber militer pada Minggu menyatakan sistem pertahanan udara mencegat sejumlah drone milik RSF yang menargetkan Bendungan Atbara dan Setit di Negara Bagian Gadaref, sekitar 420 kilometer timur Khartoum. RSF belum memberikan komentar.
Pada Senin dini hari, serangan drone menghantam Nyala, ibu kota South Darfur yang menjadi salah satu basis kuat RSF. Sumber medis dan RSF menyebut 17 orang tewas, termasuk tujuh perwira RSF, dan 23 orang lainnya luka.
Adapun pada Jumat, serangan drone RSF menghantam lokasi berkumpul pengungsi di Provinsi Blue Nile dekat perbatasan Ethiopia. Emergency Lawyers melaporkan 41 orang tewas dan menyebut kejadian itu sebagai tragedi kemanusiaan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam rentetan serangan mematikan tersebut pada Senin.
"Kami khawatir dengan berlanjutnya serangan drone mematikan di seluruh negeri yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, serta mengganggu layanan-layanan penting," kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, kepada wartawan.
Advertisement
Perang Sudan: Sedikitnya 59.000 Orang Tewas
Perang di Sudan pecah pada April 2023 menyusul perselisihan antara pemimpin militer Abdel Fattah al-Burhan dan pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti terkait rencana penggabungan RSF ke dalam militer.
Pada Juni, Hemedti dijatuhi hukuman mati secara in absentia atas kejahatan perang.
Memasuki tahun keempat, pertempuran masih berlangsung. Berdasarkan pemantau konflik ACLED, sedikitnya 59.000 orang telah tewas. Kelompok bantuan menilai angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.
PBB melaporkan sekitar 13 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka akibat konflik, memicu krisis kemanusiaan yang disebut kelompok-kelompok bantuan sebagai yang terbesar di dunia.
Di seluruh Sudan, 33,7 juta orang, termasuk 17,3 juta anak, membutuhkan bantuan pangan mendesak tahun ini. Sekitar 825.000 anak menghadapi malnutrisi akut berat, menurut PBB.
Di tengah situasi ini, Amerika Serikat pada Jumat mendesak Dewan Keamanan PBB mendorong gencatan senjata kemanusiaan dan memperluas embargo senjata terhadap Sudan. China dan Rusia menentang perluasan embargo tersebut.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377722/original/045397100_1792476754-Sudan_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376445/original/001704800_1792372815-0878a34c0a8b5bc4e93070c441acfa46-2-hi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3350189/original/080939200_1610703344-pesawat6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3523265/original/007105900_1627440563-brandon-morgan-GxbFfu6yRN0-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9375718/original/047941400_1792212801-AP26286711153583.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2373006/original/020378100_1540435883-macron.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9346574/original/077949100_1789182048-Untitled.jpg)