Situasi dalam negeri Iran tengah mencekam. Ribuan orang terlibat aksi unjuk rasa di tengah krisis ekonomi yang melanda.
Ratusan pengunjuk rasa dilaporkan tewas. Menurut sebuah organisasi independen, di tengah ancaman dari rezim yang menyatakan akan membalas jika diserang oleh Amerika Serikat (AS).
Situasi di lapangan sangat sulit untuk dipantau karena adanya pemadaman komunikasi yang berlaku di seluruh 31 provinsi Iran. Berdasarkan laporan dari Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS, seperti dikutip dari Sky News, sedikitnya 544 orang telah kehilangan nyawa selama kerusuhan ini.
Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dari 116 korban jiwa yang tercatat hingga akhir Sabtu (10/1). Lembaga tersebut juga menyebutkan bahwa mereka telah menerima 579 laporan kematian lainnya yang masih dalam proses verifikasi, yang bisa membuat total korban meninggal mencapai 1.123 orang.
Lebih dari 10.681 orang dilaporkan telah ditangkap dan dipindahkan ke penjara. Dalam pembaruan yang disampaikan pada Minggu (11/1), organisasi non-pemerintah tersebut menyatakan bahwa sebagian besar korban tewas akibat tembakan peluru tajam atau peluru karet, terutama dari jarak dekat.
Televisi pemerintah Iran menayangkan puluhan kantong jenazah di kantor koroner di Teheran, sambil menyebut bahwa para korban adalah hasil dari peristiwa yang disebabkan oleh "teroris bersenjata". Tayangan tersebut juga menunjukkan warga yang berkumpul di luar Pusat Kedokteran Forensik Kahrizak di ibu kota untuk menunggu proses identifikasi jenazah. Aksi demonstrasi yang dimulai pada akhir Desember lalu akibat penurunan tajam nilai mata uang rial kini telah memasuki pekan ketiga.
Seiring berjalannya waktu, gelombang protes ini berkembang menjadi tantangan paling serius bagi rezim Iran dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhir pekan, jaksa agung Iran menyatakan bahwa para demonstran akan diadili sebagai "musuh Tuhan", sebuah tuduhan yang dapat mengarah pada hukuman mati.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS "siap membantu" para pengunjuk rasa. Selain itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan telah membahas situasi di Iran, termasuk kemungkinan intervensi AS, dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pemerintah Iran pada hari Minggu menetapkan tiga hari berkabung nasional untuk para "martir" yang tewas dalam aksi protes, seperti dilaporkan oleh media penyiaran pemerintah yang dikutip dari kantor berita Xinhua. Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa sedikitnya 111 anggota aparat keamanan Iran tewas dalam bentrokan sejak protes pertama kali pecah.
Advertisement
Presiden Iran Siap Dengarkan Aspirasi Rakyat
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh IRIB, media penyiaran pemerintah, pada hari Minggu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan kesiapan pemerintahnya untuk menangani keluhan ekonomi yang menjadi penyebab aksi protes. Ia juga menegaskan bahwa tindakan "perusuh" tidak akan ditoleransi.
Pezeshkian menjelaskan rencana pemerintah untuk melaksanakan reformasi subsidi secara besar-besaran, yang bertujuan untuk menstabilkan pasar, meningkatkan produksi, serta memperbaiki daya beli masyarakat, sambil memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan program tersebut.
Dalam wawancara yang sama, ia menuduh bahwa "teroris" yang berhubungan dengan kekuatan asing telah melakukan tindakan kekerasan, seperti membunuh orang, membakar masjid, dan menyerang fasilitas publik. Ia juga menambahkan bahwa musuh-musuh Iran berusaha menciptakan kekacauan dan ketidakstabilan dengan memicu kerusuhan.
Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintah Iran siap mendengarkan aspirasi rakyatnya. Ia mengajak masyarakat untuk menjauh dari apa yang disebutnya sebagai perusuh dan teroris, yang berusaha merusak tatanan masyarakat. Pada hari yang sama, pemerintah Iran juga mengumumkan akan mengadakan demonstrasi nasional pada hari Senin (12/1) untuk mendukung Republik Islam Iran.
Advertisement
Peringatan Keras buat Amerika Serikat
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengindikasikan bahwa rezim Iran akan melakukan tindakan balasan jika Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan. Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Trump pada hari Jumat mengancam akan memberikan serangan yang sangat keras kepada Teheran jika pemerintah Iran mulai membunuh rakyatnya.
Menanggapi ancaman tersebut, Qalibaf menegaskan bahwa serangan dari AS akan menjadikan pangkalan-pangkalan Israel dan AS di kawasan sebagai "target yang sah". Saat Qalibaf memberikan pernyataannya, anggota parlemen di gedung parlemen meneriakkan slogan "Matilah AS!"
Menurut laporan kantor berita Reuters yang mengutip sumber dari Israel, Netanyahu dan Rubio telah membahas kemungkinan intervensi AS di Iran dalam sebuah percakapan telepon pada hari Sabtu. Tiga sumber lain dari Israel juga menyatakan kepada Reuters bahwa Israel kini berada dalam status siaga tinggi menghadapi kemungkinan intervensi AS di Iran, mengingat aksi protes yang terus berlanjut.
Seorang pejabat AS hanya mengonfirmasi bahwa percakapan antara kedua pejabat tersebut telah terjadi, namun tidak memberikan rincian mengenai isi pembahasan tersebut. Selain itu, Netanyahu juga memuji demonstrasi untuk kebebasan yang berlangsung di Iran, dengan mengatakan bahwa rakyat Israel, bahkan seluruh dunia, mengagumi keberanian besar warga Iran. Ia juga menyampaikan harapannya agar bangsa Persia segera terbebas dari "belenggu tirani".