Mentan Amran Ungkap Potensi 8 Juta Lapangan Kerja dari Pengembangan Bioetanol

Mentan Andi Amran Sulaiman menyebut program bioetanol berpotensi menciptakan 8 juta lapangan kerja. Kementan konsolidasi dengan 44 bupati dan siapkan lahan besa

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Mentan Amran Ungkap Potensi 8 Juta Lapangan Kerja dari Pengembangan Bioetanol
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman/Istimewa.

Kementerian Pertanian menyiapkan pengembangan bioetanol sebagai bagian dari agenda kemandirian energi dan sumber pertumbuhan ekonomi baru di sektor pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut inisiatif ini berpotensi membuka sekitar 8 juta lapangan kerja.

"Kita menuju mandiri energi, tidak kalah pentingnya kalau ini terjadi, minimal itu delapan juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen. Hebat kan? Indonesia sangat luas, kami optimis bisa," kata Amran dikutip dari Antara, Selasa (22/9/2026).

Amran menjelaskan, peluang kerja tersebut tersebar di sepanjang rantai kegiatan, mulai dari penyediaan bahan baku, pengelolaan kawasan pertanian, hingga pengolahan komoditas menjadi energi.

Pemerintah akan mengembangkan bioetanol dengan memanfaatkan tiga komoditas utama, yaitu tebu, singkong, dan jagung.

Untuk mempercepat program, Kementerian Pertanian telah melakukan konsolidasi dengan 44 bupati. Pemerintah daerah didorong menyiapkan lahan, memetakan potensi wilayah, serta mengembangkan komoditas sesuai kebutuhan industri bioetanol.

Pengembangan kawasan diperkirakan membutuhkan lahan sekitar 1 juta hingga 2 juta hektare agar pasokan bahan baku berkelanjutan.

Lahan dan Lingkungan Jadi Acuan Pengembangan

Pemerintah menegaskan pengembangan bioetanol akan memperhatikan ketersediaan lahan dan aspek lingkungan. Lahan yang tersedia dan sesuai menjadi prioritas untuk mendorong budidaya tanaman bahan baku energi.

Kepastian lahan dinilai sebagai salah satu faktor kunci agar pembangunan industri bioetanol dapat berjalan. Karena itu, pemerintah mendorong peran pemerintah daerah dalam menyiapkan kawasan produksi secara terintegrasi.

Selain pemerintah pusat dan daerah, pembangunan industri juga akan melibatkan BUMN dan sektor swasta melalui skema kerja sama investasi.

Kehadiran industri ini diharapkan memberi dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya petani yang terlibat dalam rantai pasok bahan baku.

Amran menilai, pengembangan bioetanol dapat membuat nilai ekonomi sektor energi lebih banyak berputar di dalam negeri, sekaligus meningkatkan aktivitas produksi pertanian di berbagai daerah.

Program ini juga diarahkan untuk memperkuat peran sektor pertanian dalam mendukung transisi energi nasional. Dengan memanfaatkan komoditas lokal, kebutuhan bahan baku energi diharapkan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Sinergi Pertanian–Energi dan Target E50

Amran menegaskan pemerintah terus mendorong energi berbasis pertanian sebagai bagian dari upaya menuju kedaulatan energi, salah satunya dengan mengurangi ketergantungan pada impor.

Ia optimistis kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan sektor swasta dapat mempercepat pembangunan industri bioetanol di Indonesia.

Menurut dia, pengembangan bahan baku menjadi bagian penting dalam mewujudkan program tersebut. Tebu, singkong, dan jagung diarahkan tidak hanya untuk kebutuhan pangan dan industri, tetapi juga untuk penyediaan energi.

"Ini cetak tebu, tanam tebu, tanam ubi, tanam jagung, kita jadikan etanol. Sebelumnya, biodiesel B50 sudah jadi kenyataan, tidak impor solar kan sekarang? Insya Allah, ke depan E50," tegas Amran.

Dengan pengembangan kawasan produksi dan industri pengolahan, pemerintah berharap sektor pertanian dan energi dapat tumbuh secara bersamaan. Program bioetanol juga diharapkan memberi manfaat ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja serta peningkatan aktivitas usaha di daerah.

Rekomendasi