Amerika Serikat disebut telah menggelontorkan lebih dari US$ 38 miliar atau sekitar Rp 672 triliun (kurs 17.690 per US$) untuk perang melawan Iran hingga 1 Agustus 2026. Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan kebutuhan dana masih akan bertambah sekitar US$ 3 miliar per bulan, dan bisa lebih tinggi bergantung intensitas konflik.
Perkiraan tersebut termuat dalam laporan lembaga nonpartisan di Kongres AS yang dirilis Selasa. Dikutip dari APNews, Kamis (17/9/2026), proyeksi belanja perang Iran itu disusun CBO atas permintaan Brendan Boyle, anggota Partai Demokrat yang juga anggota senior Komite Anggaran DPR AS.
CBO juga memproyeksikan tekanan terhadap harga-harga: inflasi diperkirakan sekitar 0,5 poin persentase lebih tinggi hingga kuartal I 2027. Tekanan terutama dipicu berkurangnya pengiriman minyak dan gas alam melalui Selat Hormuz serta gangguan terhadap pelayaran melalui Laut Merah.
Perkiraan CBO sejalan dengan gambaran sebelumnya dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam kesaksian di Senat, yang menyebut biaya perang mencapai US$ 37,5 miliar. Menurut CBO, porsi terbesar pengeluaran berasal dari penggantian amunisi dan peralatan yang hilang selama pertempuran.
Namun, angka tersebut belum mencakup biaya terkait personel militer AS yang tewas atau terluka, serta kewajiban jangka panjang untuk layanan kesehatan dan kompensasi disabilitas bagi para veteran. Di luar beban manusia, Boyle menilai temuan CBO juga menggarisbawahi dampak fiskal bagi pembayar pajak.
“Laporan nonpartisan CBO ini memperjelas bahwa perang tersebut juga telah menghabiskan puluhan miliar dolar uang pembayar pajak Amerika dan terus bertambah, sekaligus terus mendorong kenaikan biaya,” kata Boyle dalam sebuah pernyataan.
“Donald Trump dan Partai Republik telah bertahun-tahun mengatakan kepada warga Amerika bahwa kita tidak mampu membantu keluarga di dalam negeri,” kata Boyle.
“Namun, tampaknya mereka dapat menemukan puluhan miliar dolar, dan berpotensi jauh lebih banyak, untuk perang sembrono yang membuat warga Amerika harus menanggung akibatnya,” lanjut dia.
Advertisement
Tambahan Anggaran US$ 87,6 Miliar di Tengah Perang Iran
Temuan CBO muncul ketika para pemilih mulai mencermati perang dan tingginya harga-harga menjelang pemilu paruh waktu AS yang akan menentukan kendali atas Kongres. Saat ini, Partai Republik memegang mayoritas di DPR dan Senat.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari itu telah memasuki bulan ketujuh, tanpa tanda-tanda bahwa perang yang berlangsung secara putus-sambung tersebut akan segera berakhir.
Pada Juni, Gedung Putih mengajukan permintaan tambahan anggaran sebesar US$ 87,6 miliar, yang sebagian besar ditujukan untuk upaya perang. Namun, Kongres belum menyetujuinya.
Menurut CBO, bagian dari permintaan tersebut yang berkaitan langsung dengan konflik mencapai US$ 42,3 miliar, sekitar 10 persen lebih besar dibandingkan perkiraan CBO mengenai biaya yang dikeluarkan Departemen Pertahanan.
Departemen Pertahanan AS menolak menanggapi permintaan informasi dari CBO untuk penyusunan laporan itu, keputusan yang disebut berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Karena itu, CBO mengandalkan basis data pemerintah dan laporan publik, sembari menegaskan perkiraannya “memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup besar”.
Sementara itu, laporan inspektur jenderal Pentagon yang dirilis Senin menyebut perang tersebut telah menyebabkan “kekurangan persediaan strategis”.